Panduan SOS

Prog. SOS FAI

Prog. SOS FAI
Sistem Informasi Akademik Mahasiswa FAI Berbasis Online

Popular Posts

Followers

CELEBRITY

Tamu-nya FAI


Oleh : Khoirul Asfiyak



A. PENDAHULUAN
Dalam sejarah perjalanannya , pemikiran filsafat di dunia Islam mengalami pertentangan dan perdebatan yang barangkali tidak dijumpai dalam sejarah tradisi pemikiran filsafat di manapun . Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan bahwa di satu sisi keberadaan filsafat amat diagung-agungkan dan dianggap sebagai pelengkap kebenaran yang dibawa oleh agama, sementara di sisi lain, terutama kelompok yang diwakili oleh jumhur fiqhiyyah- mereka secara umum antipati dengan perbincangan dan obyek pemikiran filsafat yang dalam pandangan mereka bisa menjerumuskan seseorang kepada kekafiran.



Sehingga bisa dikatakan pemikiran filsafat dalam tradisi ahli hukum islam tidak tampak secara umum digemari.
Demikianlah selama beberapa ratus tahun umat islam ada dalam suasana polemis yang berkepanjangan. Puncak dari penolakan terhadap tradisi keilmuan filsafat, adalah ditandai dengan diterbitkannya sebuah kitab yang berjudul Tahafut al Falasifah, buah karya Hujjatul Islam :Imam Ghazaliy. Dasar-dasar pemikiran filsafat mulai diragukan kebenarannya, orang mulai diajak untuk menyangsikan atau ragu-ragu di dalam mencari kebenaran lewat filsafat dengan cara memperbandingkannya secara diametral dengan konsep-konsep keagamaan yang terdapat dalam al Qur’an dan al Hadis. Seolah-olah terdapat jurang yang dalam yang mampu memisahkan alur pemikiran filsafat yang spekulatif dengan konsep-konsep keagamaan yang mentradisi di kalangan ummat islam sebelumnya. Untunglah di kemudian hari tampil ulama, ahli fiqh, sekaligus filsuf yang berusaha mengkoreksi dan mengkritisi kesalahan yang dibuat oleh Imam Ghazaliy (dan ulama-ulama yang mengikutinya) sekaligus membersihkan segala tuduhan dan kesangsian yang dituduhkan terhadap pemikiran filsafat seperti selama ini. Ia adalah Muhammad Ibn Rusyd , seorang ulama besar yang amat berjasa dalam mengembalikan kepercayaan sebagian ilmuwan kepada filsafat dan berusaha mendamaikan kembali pertengkaran yang terjadi antara fuqaha di satu sisi dengan filsuf di sisi yang lain. Dengan berusaha memberikan tawaran metodologis yang rasional dan sebegitu jauh tidak keluar dari semangat nash qur’an dan sunnah Nabi. Ibn Rusyd dipandang telah berhasil menghentikan laju kematian “ruh” filsafat di dunia Islam. Oleh karena itu makalah sederhana ini berusaha mengungkap secuil pemikiran beliau yang terutama di dasarkan atas kajian kitab beliau yang berjudul “Fash al Maqal Fi Ma Baina al Hikmah Wa al Syari’ah Min al Ittishal” Mudah-mudahan makalah ini sesuai dengan maksud asli pengarangnya.

B. SEJARAH RINGKAS KEHIDUPAN IBN RUSYD

Nama lengkapnya Abu al Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd di dunia Barat dan dalam literatur Latin abad pertengahan Ia dikenal dengan nama Averroes. Ia dilahirkan di Cordova pada tahun 520 H ( 1126 M) dari keluarga yang terkenal alim dalam disiplin ilmu fiqh di Spanyol. Kakeknya pernah menjabat Qadhi Qudhat di Andalusia, disamping kedudukannya sebagai salah seorang ahli hukum terkemuka dalam mazhab Malikiy. Pada tahun kelahirannya daulah Murabithun berakhir dengan wafatnya kesultanan yang kelima yakni Ishaq (1146-1147) Sementara menginjak usia 4 tahun pemimpin daulah Muwahhidun , Muhammad Ibn Tumart (1078-1130) wafat. Suasana intelektual pada saat itu didominasi oleh para ahli fiqh yang bersikap sangat tidak simpatik terhadap ilmu-ilmmu rasional.
Ibn Rusyd belajar ilmu fiqh dari ayahnya, sehingga dalam usia yang masih sangat muda beliau telah hafal kitab al Muwatha’ karya Imam Malik. Sementara di bidang kedokteran beliau belajar kepada abu Ja’far Harun dan abu Marwan ibn Jarbun al Balansi. Logika dan filasafat –demikian pula dengan teologi- ia peroleh dari filsuf besar saat itu Ibn Thufail. Beliau juga mendalami sastra arab , matematika, fisika, dan astronomi. Ibn Rusyd dipandang sebagai filsuf yang paling menonjol pada periode perjkembangan filsafat islam saat mencapai pada puncak kejayaannya (sekitar tahun 700-1200) Letak keunggulannya adalah pada kekuatan dan ketajaman filsafatnya yang lluas serta pengaruhnya yang besar pada fase-fase tertentu pemikiran Latin dari tahun 1200-1650 M.
D puncak karirnya ibn Rusyd pernah menjabat sebagai Qadhi Qudhat di Cordova sebagaimana jabatan yang pernah disandang oleh kakeknya. Selanjutnya pada tahun 1182 beliau bertugas sebagai dokter di istana khlaifah al Muwahhidun, Maroko untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh ibn Thufail. Pada tahun 1195 karena chaos politik beliau ditangkap oleh sultan dan diasingkan ke suatu tempat di Lucena (al Lisanah) yang terletak 50 KM di arah tenggara Cordova. Semua karya-karya filsafatnya dibakar kecuali buku-buku kedokteran, astrionomi dan matematika. Atas desakan berbagai fihak beliau dibebaskan dan namanya direhabilitisir . namun tidak lama menghirup udara kebebasan beliau meninggal pada tanggal 10 desember 1198 M

C. Pemikiran (Tawaran Metodologis/Epistemologis ) Filsafat Ibn Rusyd

Dalam kitabnya Fash al Maqal ini, ibn Rusyd berpandangan bahwa mempelajari filsafat bisa dihukumi wajib. Dengan dasar argumentasi bahwa filsafat tak ubahnya mempelajari hal-hal yang wujud yang lantas orang berusaha menarik pelajaran / hikmah / ’ibrah darinya, sebagai sarana pembuktian akan adanya Tuhan Sang Maha Pencipta. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang maujud atau tentang ciptaan Tuhan , maka semakin sempurnalah ia bisa mendekati pengetahuan tentang adanya Tuhan. Bahkan dalam banyak ayat-ayat-Nya Tuhan mendorong manusia untuk senantiasa menggunakan daya nalarnya dalam merenungi ciptaan-ciptaanNya.
Jika kemudian seseorang dalam pemikirannya semakin menjauh dengan dasar-dasar syar’iy maka ada beberapa kemungkinan, pertama, ia tidak memiliki kemampuan / kapasitas yang memadai berkecimpung dalam dunia filsafat , kedua, ketidakmampuan dirinya mengendalikan diri untuk untuk tidak terseret pada hal-hal yang dilarang oleh agama dan yang ketiga adalah ketiadaan pendamping /guru yang handal yang bisa membimbingnya memmahami dengan benar tentang suatu obyek pemikiran tertentu.
Oleh karena itu tidak mungkin filsuf akan berubah enjadi mul;hid, tidak mempercayai eksistensi Tuhan/ meragukan keberadaaan Tuhan, Kalaupun ia berada dalam kondisi semacam itu bisa dipastikan ia mengalami salah satu dari 3 faktor di atas, atau terdapat dalam dirinya gabungan 2 atau 3 faktor-faktor tersebut. Sebab kemmapuan manusia dalam manusia dalam menenrima kebenaran dan bertindak dalam mencari pengetahuan berbeda-beda. Ibn Rusyd berpendapat ada 3 macam cara manusia dalam memperoleh pengetahuan yakni:
a). Lewat metode Khatabi (Retorika)
b) lewat metode Jadali (dialektika)
c) Lewat metode Burhani (demonstratif)
Metode Khatabi digunakan oleh mereka yang sama sekali tidak termasuk ahli takwil , yaitu orang-orang yang berfikir retorik, yang merupakan mayoritas manusia. Sebab tidak ad seorangpun yang berakal sehat kecuali dari elompok manusia dengan kriteria pembuktian semacam ini (khatabi)
Metode Jadali dipergunakan oleh mereka yang termasuk ahli dalam melakukan ta’wil dialektika. Mereka itu secara alamiyah atau tradisi mampu berfikir secara dialektik
Metode Burhani dipergunakan oleh mereka yang termasuk ahli dalam melakukan ta’wil yaqini. Mereka itu secara alamiah mampu karena latihan, yakni latihan filsafat, sehingga mampu berfikir secara demonstratif.
Ta’wil yang dilakukan dengan metode burhani sangat tidak layak untuk diajarkan atau disebarkan kepada mereka yang berfikir dialektik terlebih orang-orang yang berfikir retorik. Sebab jika metode ta’wil burhani diberikan kepada mereka justru bisa menjerumuskan kepada kekafiran . Penyebabnya dalah karena tujuan ta’wil itu tak lain adalah membatalkan pemahaman lahiriyah dan menetapkan pemahaman secara interpretatif. Pernyataan ini merujuk pada Qur’an surat al isra’ : 85 :
يسءلونك عن الروح قل الروح من امر ربى
Allah SWT tidak menjelaskan pengertian ruh karena tingkat kecerdasan mereka itu tidak / belum memadai sehingga dikhawatirkan justru hal itu akan menyusahkan mereka.
Ketiga metode itu telah dipergunakan oleh Tuhan sebagaimana terdapat dalam teks-teks al Qur’an. Metode itu dikenalkan oleh Allah SWt sedemikian rupa mengingat derajat pengetahuan dan kemampuan intelektual manusia amat beragam, sehingga Allah SWT tidak menawarkan metode pemerolehan pengetahuan dan kebenaran hanya dengan satu macam cara saja.
Satu pendekatan yang diyakini ibn rusyd bisa mendamaikan anatar bunyi literal teks yang transenden dengan pemikiran spekulatif – rasionalistik manusia adalah kegiatan Ta’wil . Metode ta’wil bisa bikatakan merupakan isu sentral dalam kitab beliau ini . al Qur’an kadang berdiam diri tentang suatu obyek pengetahuan. Lantas ulama melakukan Qiyas (syar’iy) untuk menjelaskan kedudukan obyek pemikiran yang maskut ‘anhu tersebut. Demikian pula dengan nalar burhani , ia merpakan metode ta’wil / qiyas untuk membincangkan persoalan-persoalan maujud yang tidak dibicarakan oleh al qur’an.
Qiyas burhani itu digunakan ketika terjadi kontradiksi anatara gagasan Qur’anik dengan konsep rasional-spekulatif pemikiran manusia. Ibn Rusyd beranggapan bahwa teks syar’iy memiliki keterbatasan makna, . Oleh karena itu jika terjadi ta’arudl dengan qiyas burhani, maka harus dilakukan ta’wil atas makna lahiriyyah teks. Ta’wil sendiri didefinisikan sebagai : makna yang dimunculkan dari pengertian suatu lafaz yang keluar dari konotasinya yang hakiki (riel) kepada konotasi majazi (metaforik) dengan suatu cara yang tidak melanggar tradisi bahasa arab dalam mebuat majaz. Misalnya dengan menyebutkan “sesuatu” dengan sebutan “tertentu llainnya” karena adanya faktor kemiripan , menjadi sebab / akibatnya, menjadi bandingannya atau faktor-faktor lain yang mungkin bisa dikenakan terhadap obyek yang awal.
Ibn Rusyd beranggapan adanya lafaz dhahir (Eksoteris) dalam nash sehingga perlu dita’wil , agar diketahui makan bathinyya (Esoteris) yang tersembunyi di dalamnya adalah dengan tujuan menyelaraskan keberagaman kapasitas penalaran manusia dan perbedaan karakter dalam menerima kebenaran . Nash ilahiyyah turun dengan berusaha menyesuaikan bahasa yang paling mudah untuk dimengerti oleh manusia dengan tidak menutup mata terhdap kecenderungan kelompok ulama yang pandai ( al Rasyikhuna fil ‘Ilm ) untuk merenungi makna-makna dibalik lafaz yang tersurat.
Di dalam buku ini pula sedikit dibahas kelemahan metodologis Imam Ghazaliy ketika beliau mengkafirkan filsuf-filsuf dalam 3 perbincangan filsafat yakni:
a. Diskursus keqadiman dan kehadis-an alam semesta
b. Pengetahuan juz’iyat dan kuliiyah Tuhan
c. Hari kebangkitan (Yaum al Ba’ats)

Persoalan pertama, tentang perdebatan alam itu baru atau qadim, dalam pandangan beliau perdebatan itu esensinya hanyalah persoalan istilah/terminologi belaka. Karna para penentang filsafat meyakini adanya 3 wujud pada realitas alam / benda tersebut. Adapun wujud yang pertama, adalah wujud yang adanya disebabkan oleh wujud diluar dirinya dan didahului oleh zaman, sehingga dapat dikatakan wujud jenis pertama ini barau ada/riel /eksis jika da penyebabwujud (pencipta/penggerak) Contoh :adalah benda-benda yang bisa ditangkap oleh obyek indrawi. Wujud kedua adalah wujud yang keberadannya tidak berasal dari sesuatu apapun , tidak disebabkan oleh sesuatu apapun dan tidak didahului oleh zaman. Wujud ini dispakati oleh mutakalimin sebagai wujud yang qadim. Disebut juga penyebab dan penggerak segala sesuatu yang ada. Wujud yang ketiga adalah wujud yang keberadaannya tidak berasal dari sesuatu apapun juga tidak didahului oleh zaman, akan tetpai keberadaannya disebabkan oleh sesuatu penggerak. Sisi wujud ini adalah alam semesta beserta segala perangkatnya
Wujud ketiga inilah yang menurut imam ghazaliy bisa mmebuat seseorang menjadi kafir jika seseorang berangggapan bahwa ada wujud qadim selain Allah SWT. Ibn rusyd menjelasakan bahwa keqadiman wujud ketiga denmgan qadimnya Tuhan jelas beda. Kewujud qadiman Tuhan tidak disebbakan oleh sebab apapun , karena Tuhan adalah penyebab itu sendiri. Sementara keqadiman wujud ketiga digerakkan dan disebbakan oleh penggerak pertama (Muharrikul Awwal) yakni Allah SWT. Disnilah letak perbedaannya, sehingga tidak perlu mengkafirkan filsuf yang mempercayai adanya wujud ketiga ini. Dengan berdalih berdasarkan Qur’an Surat a Hud: 7 :

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasanaNya berada di atas air”
Ibn Rusyd beranggapan ada wujud qadim sebelum Allalh SWT menciptakan alam semesta , yakni ‘Arsy dan air.
Persoalan kedua, yakni tentang ilmu Tuhan, yang dalam pandangan filsuf Allah sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang partikular (juz’iyyat) , Menurut ibn Rusyd al Ghazaliy kurang memahami maksud para filsuf tersebut. Padahal yang dimaksud oleh mereka dalah bahwa Tuhan menegtahui jua’iyyat dan seluruh pengetahuan Tuha berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia tentang juz’iyyat adalah efek (ma’lul) dari obyek pemikiran, tercipta bersama dengan terciptanya obyek pengetahuan itu dan akan senantiasa berubah sejalan dengan perubahan obyek pengethauan tersebut. Adapun ilmu Allah SWT adalah sebab (‘illat) bagi obyek yang diketahui oleh-Nya sebelum materi pengetahuan mewujud di alam kenyataan, Allah SWt telah mengetahui dengan cara pengetahuan Allah SWT sendiri. Justru dengan pendapat filsuf yang demikian ini akan menyucikan sifat-sifat Tuhan dari kekurangan dan perubahan-perubahan yang itu semua hanya terjadi pada mahluq ciptaannya.
Persoalan ketiga, dalam buku fash al maqalnya ini , Ibn Rusyd tidak menjelasakn kesalahan al Ghazaliy ketika mengkafirkan para filsuf. Akan tetapi hanya mengkritik cara/pola pikir orang yang berbicara tentang persoalan-persoalan dilematis/problematik/ta’arudl tersebut, akan tetapi dalam pembuktian kebenaran tidak menggunakan metode ta’wil. Atau kesalahan terhdap orang awam karena tidak memiliki kapasitas ta’wil kemudian melakukan ta’wil makahal itu justru merupakan suatu bentuk kekafiran, karena bisa menjerumuskan dirinya dan orang lain. Seharusnya ia cukup dengan makna lahiriyah saja.
Kritik juga ditujukan terhadap pengguna ta’wil dimana ia digunakan tidak pad tempatnya, seperti ta’wil dengan pendekatan metode puitik (Syi’riyah) retorik (Khatabiyyah) atau dialektik (jadaliyah) yang semuanya tidak membantu memperjelas obyek pengetahuan yang diperdebatkan. Ibn Rusyd menyarankan agar penguasa muslim melarang/mencegah karya-karya al Ghazaliy yang bersifat sofistik, penuh ta’wil-ta’wil itu dipelajari kecuali oleh oleh orang-orang yang termasuk ahli ilmu.
Dalam pandangan Ibn Rusyd tujuan Syari’at diturunkan adalah untuk mengajarakan ilmu yag benar dan amal yang benar pula. Ilmu yang benar berarti pengetahuan akan pengenalan kepada Allah SWT yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sedang amal yangbenar adalah menjalankan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kepada kebahagiaan dan menjauhi semua tindakan yang akan menimbulkan penderitaan ( al ‘lmu al ‘amali ).
Metode terbaik untuk memahami syariat adalah metode yang terdapat secara orisinil dalam kitab suci. Ada 3 alasan ibn rusyd berpendapat demikian yakni:
Pertama, bahwa secra faktual tidak ada dalil manapun yang lebih persuasif dan lebih mampu diterima semua orang selain argumentasi syari’at
Kedua, bahwa dalilsyari’at itu menyimpan karakteristik untuk bisa dikuasai sampai pada batas mana seseorang tidak memerlukan ta’wil di dalamnya, kalau memang dalil itu termasuk kelompok dalil yang dapat dita’wilkan, kecuali oleh ahli burhan
Ketiga, bahwa argumentasi –argumentasi itu dalam dirinya sendiri mengandung sesuatu yang menggugah pencari kebenaran untuk melakukan ta’wil yang benar.
Demikian secara ringkas pokok-pokok isi buku karya Ibn Rusyd tentunya masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu saran berupa perbaikan amat kami butuhkan demi kelengkapan tugas review ini.

Selengkapnya.....



Oleh : Khoirul Asfiyak


Sekalipun tanpa pernah bisa dibuktikan apakah antara kedua perawi itu pernah saling bertemu, dan saling meriwayatkan. Berdasarkan pernyataan ini, maka jumhur muuhadisin lebih mengunggulkan al Bukhari daripada imam Muslim ketika terjadi ta’arudl antara dua mukharrij tersebut dalam hadis-hadis shahih yang mereka riwayatkan. Dengan demikian semakin jelaslah bahwa kesahihan sebuah hadis belum tentu dianggap sahih pula oleh ulama yang lain, sehingga ia enggan berdalil dengan hadis tersebut.



Keengganan ini tentunya berdampak pada hasil pemikiran hukumnya ketika ia hendak berijtihad dalam suatu persoalan tertentu. Oleh karena itu persoalan ikhtilaf al hadis ini menarik untuk dikaji agar ada informasi yang berimbang tentang bagaimana cara kita bersikap terhadap hadis-hadis nabi SAW. Di sisi lain, terdapat perbedaan metode ushuliyyah dalam istinbath al ahkam dan hasil atau kesimpulan hukum yang bermacam-macam tentang suatu persoalan. Sebagaimana diketahui bahwa ushul fiqh bukanlah ilmu yang tersusun secara sistematik sedemikian rupa keadaannya, sehingga semua ushuliyyun bisa dengan mudah mengasplikasikan teori-teori ushul itu dalam memahami teks dan konteks. Persoalannya, qaidah-qaidah ushul itu disusun setahap demi setahap sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi. Sehingga antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya tidak selalu menggunakan ushul yang sama dalam metode atau manhaj istibathiyyah mereka. Oleh karenanya sangat rasional jika ummat islam sekarang ini memiliki bentuk ritual dan praktik hukum yang berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Sebagai contoh imam malik meyakini bahwa ijma’ ahl al madinah adalah hujjah yang sah dalam menggali hukum syara’. Sementara itu jumhur ulama termasuk abu hanifah , imam syafi’I dan ahmad bin hanbal, berpendapat bahwa perbuatan penduduk madinah itu bukan hujjah, kecuali jika ia mendapatkan legitimasi (ijma’) dari keseluruhan ummat islam. Begitu juga dalam kasus legalitas qiyas, kelompok syi’ah tak bersedia menggunakan sebagai salah satu sumber tasyri’ islam, sementara sebagian besar jumhur ushuliyyun semuanya menggunakan qiyas. Hal serupa juga terjadi pada sumber hukum keempat yakni ijma’. Ulama tidak sepakat tentang apa yang dimaksud dengan ijma’ itu sendiri. Syi’ah beranggapan bahwa ijma adalah kesepakatan hukum hanya di kalangan ahl al bait saja. Sementara hanbali beranggapan ijma’ adalah kesepakatan hukum hanya di kalangan sahabat saja dan seperti diuraikan di muka menurut maliki ijma’ adalah kesepakatan ahl al madinah. Dari sudut pandang ini semakin jelas bahwa keberadaan hadis yang sangat variatif itu ditambahi dengan variatifnya metode istinbathiyyah ushuliyyun semakin menarik untuk dikaji dan dicermati. Hubungan di antara keduanya jelas menyiratkan adanya fenomena keragaman hukum yang dihasilkan dari proses ijtihad para ulama. Usaha untuk memahami kembali dan merekonstruksi bangunan keilmuan masa lalu mutlak diperlukan agar umat tidak selalu berada dalam situasi bersitegang, berhadap-hadapan dan saling berbeda pendapat.
Alasan lain yang mendasari kajian ini adalah fakta bahwa umat islam terpisah-pisah atau terkotak-kotak ke dalam berbagai mazhab pemikiran fiqh. Kondisi ini diperparah dengan mayoritas umat islam taqlid begitu saja pada pemikiran imam mazhab. Fenomena taqlid ini telah berlangsung selama berabad-abad semenjak abad IV hijriah sampai sekarang. Padahal ibn hazm telah mengharamkan taqlid pada salah satu imam mazhab. Perpecahan ini tentunya bukan citra umat islam yang ideal atau suatu komunitas yang diharap-harapkan oleh al qur’an. Jika perpecahan atau perbedaan pendapat itu bisa dirunut akar masalahnya pada satu faktor, hadis umpamanya, maka menjadi kewajiban generasi sekarang untuk mengkritisi kembali sumber hukum kedua itu dengan menempatkannya pada posisi yang proporsional. Hal yang demikian ini mutlak dilakukan agar umat islam tidak dalam kondisi sebagaimana yang diindikasikan oleh Izzudin bin Abd al Salam :
…Sungguh mengherankan, para ulama yang taqlid itu sebenarnya mengetahui bahwa argumen imamnya lemah dan dia tidak mampu mempertahankannya, akan tetapi ia tetap taqlid. Dan dia meninggalkan pendapat ulama lain yang jelas, yang berdasarkan al qur’an , as sunnah atau qiyas shahih, hanya karena kefanatikannya dalam bertaqlid…
Oleh karena itu berusaha mengkaji dan meneliti secara proporsional dan cermat terhadap hadis-hadis mukhtalaf akan banyak membantu di dalam mengikis atau meretas kungkungan taqlid yang membelenggu umat islam pada masa sekarang ini.
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah tidak adanya kodifikasi dan unifikasi hukum islam yang bersifat universal yang bisa mengatasi seluruh perbedaan yang bersifat lokal, dan parsial. Dengan kata lain peradaban islam sampai sekarng belum mampu menciptakan suatu bangunan fiqh yang ketentuan-ketentuan hukumnya mengikat bagi seluruh kaum muslimin tanpa memandang kewarganegaraan dan mazhab yang dianutnya. Selama ini hukum islam hanya diberlakukan dalam lingkup yang terbatas, dalam sebuah negara tertentu dan lagi-lagi materi hukum yang diaturnyapun, sebatas persoalan-persoalan perdata saja. Sementara hukum yang berkaitan dengan persoalan jinayah, hampir-hampir sulit untuk diberlakukan dalam aturan hukum modern. Kesulitan mempositifkan hukum islam lebih dikarenakan oleh hal-hal yang sifatnya tekhnis daripada ketidakmampuan para ulama dan jurist muslim dalam mewujudkan suatu corpus fiqh islam yang komprehenshif dan universal. Banyaknya pendapat fuqaha dalam kitab-kitab klasik yang berpedoman pada nash-nash yang bersifat spekulatif-interpretatif menjadikan usaha kearah unifikasi-kodifikasi menjadi terhambat. Bervariasinya derajat dan kualitas hadis, diyakini memberikan dampak yang luar biasa bagi keengganan para yuris dan pemimpin muslim di negara tertentu untuk membakukan atau mengkodifikasikan suatu pendapat hukum tertentu, karena masih meragukan dasar argumentasi pendapatnya yang dikhawatirkan bertentangan dengan hadis lain yang dijadikan sebagai sandaran / rujukan oleh pendapat hukum yang berbeda. Andaikata para fuqaha atau kaum muslimin menyadari bahwa hadis-hadis yang dijadikan hujjah atau dalil bagi suatu pendapat hukum nilainya lemah dan bertentangan dengan hadis lain yang shahih, tentunya perbedaan pendapat itu bisa diminimalisir. Oleh karena tidak semua ahli fiqh pasti ahli hadis, tentunya umat islam tidak bisa menerima pendapat seorang mujtahid begitu saja, tanpa mengetahui secara persis bagaimana kualitas hadis yang dijadikan sebagai dasar hukum istinbathnya. Dengan demikian, mengetahui aspek kualitas hadis yang digunakan oleh mujtahid ketika ia menyatakan suatu pendapatnya tentang status hukum sesuatu hal, adalah layak dilakukan. Bermazhab yang adil dan bertanggungjawab itu adalah jika kaum muslimin mengetahui alasan-alasan yang digunakan mujtahid yang diikutinya dan bagaimana mujtahid mempersepsikan pandangannya terhadap keabsahan dalil tersebut. Sekali lagi upaya kodifikasi akan sulit diwujudkan jika di tengah-tengah kaum muslimin masih berkembang pendapat hukum yang beragam dengan metode istinbath dan kualitas atau derajat validitas nash yang beragam pula.
Hal lain yang patut dicatat adalah maraknya wacana reaktulasisasi dan revitalisasi terhadap ajaran-ajaran islam lama atau klasik, serta dibukanya pintu ijtihad oleh beberapa reformis islam kontemporer. Fenomena ini merupakan mega proyek abad 15 H sebagai titik balik bangunnya peradaban islam. Muhammad Abduh, Jamaludin al Afghani, Muhammad Iqbal, Hasan al Bana, Fazlurrahman adalah nama-nama penting yang berjasa dalam menyulut api pembaharuan dalam dinamika pemikiran islam modern. Semenjak itu muncul tokoh-tokoh semacam Mohammed Arkoun yang menggagas proyek “Islamologi terapan”, Hasan Hanafi mengusung proyek “Kalam Antrophosentrisme” dan tidak ketinggalan Abdullah Ahmed Na’im yang menggelar mega proyek “Syari’ah Modern” sebagai suatu usaha untuk mengaktualkan kembali ajaran-ajaran islam lama. Tidak bisa dipungkiri gerakan-gerakan yang mereka lakukan itu pastilah bersentuhan dengan pemikiran lama yang mendarah-daging dan memfosil dalam kehidupan keseharian ummat islam. Tidaklah mudah menggeser –atau bahkan menggantikan- sekian banyak warisan pemikiran klasik itu dengan kebutuhan / penafsiran modern. Arkoun jelas-jelas menyarankan agar kaum muslimin mengkritisi kembali warisan keilmuan masa lalu ( Turats) dengan pendekatan yang berbeda dengan yang selama ini digunakan oleh ulama tradisional. Padahal di awal tulisan ini telah dinyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara ulama itu lebih banyak disebabkan oleh faktor hadis dengan segala permasalahnnya. Memegangi pendapat secara membabi buta –padahal bertentangan dengan realitas zaman- adalah suatu tindakan yang kurang adil dan tidak bertanggung jawab. Sehingga upaya untuk mengkritisi, mengevaluasi dan memverifikasi warisan klasik (Turast) tidak bisa dipandang sebagai tindakan melawan ijma’, tidak menghargai kecerdasan ulama masa lalu, atau bahkan merasa diri sebagai orang yang paling pintar. Kritis terhadap realitas zaman dengan senantiasa berpegang pada warisan lama yang valid dan sahih, merupakan langkah yang realistis dan mendesak untuk dilakukan oleh kaum muslimin dewasa ini. Oleh karena itu mengkaji hadis dengan segala variasi problem yang dihadapinya, mutlak untuk dilakukan dan bukan merupakan tindakan inkarussunnah sebagaimana tuduhan beberapa orang yang tidak menyetujuinya kritik ulang terhadap kesahihan atau validitas hadis-hadis nabi.
Sementara itu, perkembangan paradigma keilmuan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan model / pendekatan dalam melakukan penafsiran terhadap sebuah teks adalah alasan lain dibalik kajian ini. Tradisi fiqh islam mewariskan kepada kita beberapa tekhnik dalam memahami kandungan makna teks. Ada yang melalui petunjuk di dalam teks (Dalalah Lafdziyah) maupun indikasi-indikasi yang terdapat di luar teks (Dalalah Ghair Lafdziyah). Sementara peradaban barat memperkenalkan beberapa teori penafsiran atau pemaknaan terhadap teks baik lewat pendekatan Hermeneutik maupun uji analisis isi (Content Analysis). Di samping itu beberapa pemikir muslim kontemporer mencoba mendekati hadis lewat pendekatan teori Kebenaran baik teori Korespondensi maupun teori Koherensi. Penggunaan metode Hermeneutik mengundang perdebatan akademis bagi sebagian cendekiawan muslim, mengingat beberapa kekurangan metodologis pada pendekatan ini. Apapun alasannya sulit untuk dibantah bahwa pendekatan ini dalam batas-batas tertentu membantu kaum muslimin dalam menatap dan mengkritisi karya-karya ulama masa lalu. Memahami hadis-hadis yang saling bertentangan dengan kerangka atau cara pandang hermeneutik barangkali bisa lebih memperjelas obyek permasalahan, karena ada hadis yang memiiliki karakter-karakter tertentu maka pemahaman terhadapnya harus menggunakan cara-cara tertentu pula. Pendekatan tekstual dan kontekstual telah lama dikenal oleh umat islam dalam wacana pemahaman nash. Padahal antara hermeneutik dengan dua pemahaman tersebut memiliki titik persamaan yakni, mencermati dan mendalami aspek-aspek di luar redaksi bahasa yang memotivasi Nabi ataupun ulama dalam melakukan suatu tindakan.
Alasan terakhir -dan nampaknya yang paling penting dari semua alasan itu- adanya upaya dari beberapa ulama atau cendekiawan untuk mencari sintesa dari perbedaan antar mazhab sehingga perbedaan ikhtilaf yang berkepanjangan itu segera bisa berakhir. Mendekatkan (mensitesakan) perbedaan mazhab itu tidak akan mencapai keberhasilan, jika nash (al hadis) yang dipegangi oleh masing-masing mazhab tetap tidak tersentuh oleh cakrawala pemikiran ulama. Sejatinya keberadaan hadis pada masa lampau yang ditanggapi berbeda oleh ulama mujtahid kala itu bisa dipandang secara proporsional pada masa kini, agar kaum muslimin tidak terjebak pada lubang ikhtilaf yang sama. Perbedaan mazhab masa lalu banyak disebabkan oleh koleksi hadis yang berbeda-beda dan belum bakunya kriteria standarisasi kesahihan hadis di kalangan mujtahid. Kondisi ini jelas memicu mujtahid untuk menganggap shahih sebuah hadis dengan standar mereka sendiri yang pada gilirannya ia gunakan sebagai dasar atau hujjah / dalil setiap ijtihad atau istinbath yang dihasilkannya. Oleh karenanya jika dewasa ini gerakan penyatuan mazhab hendak dilakukan, maka kerja besar mereka-para penggagas ide penyatuan mazhab ini- adalah mengkaji dan menyeleksi hadis-hadis yang digunakan mujtahid sebagai dasar istinbathiyyah mereka kemudian memverifikasinya dengan jujur tentang kualitas hadis tersebut. Membiarkan hadis-hadis yang lemah atau diragukan kesahihannya dalam kitab-kitab klasik –apapun reputasi pengarangnya- adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab. Sehingga kerja besar mereka itu nantinya secara metodologis bisa memiliki validitas dan kredibilitas yang tinggi dalam usahanya merekatkan setiap perbedaan pendapat yang muncul ke permukaan.
Demikianlah beberapa alasan yang mendorong bagi ditulisnya kajian tentang ikhtilaf hadis dan pengaruhnya terhadap perbedaan pendapat. Beberapa alasan di atas barangkali kurang memiliki simpul yang kuat dengan tema penulisan tesis ini. Akan tetapi perlu dicatat bahwa keterkaitan itu memang tidak dalam bingkai efek kejut. Artinya bahwa hubungan antara ikhtilaf hadis dan pengaruhnya terhadap perbedaan mazhab tidak secara langsung disebabkan atau dikenali oleh alasan-alasan yang mendasari kajian tesis ini. Barangkali dibutuhkan waktu dan kondisi tertentu agar ada keselarasan hubungan antara keduanya.


Selengkapnya.....


Oleh : Khoirul Asfiyak


A. Latar Belakang Masalah

Al Qur’an merupakan sumber utama dari berbagai ketentuan yang berkenaan dengan syari’ah baik itu persoalan aqidah, akhlaq, ibadah, lebih-lebih persoalan di sekitar fiqhiyyah. Ia menjadi rujukan utama bagi setiap persoalan hukum yang dihadapi oleh manusia . Sekalipun ia bukan kitab undang-undang dalam pengertian dan sistematika modern, akan tetapi beberapa ayatnya mengindikasikan teks-teks hukum yang manusia dituntut untuk memberlakukan ketentuan tersebut dalam setiap persoalan yang terjadi di antara mereka.



Terdapat sebuah hadis yang mendukung pernyataan ini, sekalipun dari segi sanad ia patut dipertanyakan - yakni:
كيف تقضى اذا عرض لك القضاء ؟ قال: اقضى بكتاب الله قال: فاءن لم تجد فى كتاب الله ؟ قال:فبسنت رسول الله , قال: فاءن لم تجد فيهما؟ قال: أجتهد رأي ولآالوآ….(رواه ابو داود)
Demikian pula al qur’an, ia adalah sumber utama yang digunakan oleh jumhur ushuliyyun di dalam menyusun dan merumuskan metode / manhaj istinbathiyyah dan ijtihad mereka. Melalui pendekatan , pengkajian dan penelitian (istiqra’) yang seksama terhadap ayat-ayat al qur’an, muncullah berbagai metode perumusan dalil (Istidlal ) yang membantu para mujtahid di dalam menganalisa setiap persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Metode-metode ijtihad yang pada masa sekarang dikenal sebagai epistemologi hukum islam itu, sangat membantu para mujtahid / ushuliyyun di dalam memahami teks-teks al qur’an, terlepas dari jenis , varian dan validitas metode yang mereka gunakan. Satu hal yang patut untuk dicatat adalah bahwa metode istinbath itu tidak ada satupun yang patut dianggap paling otoritatif, kredibel dan representatif untuk memahami kandungan makna al qur’an . Sejatinya semua manhaj istinbathiyyah itu keberadaannya saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.
Adapun al hadis, ia merupakan sumber kedua sesudah al qur’an. Seluruh ulama menyatakan kesepakatan pendapatnya (ijma) terhadap kedudukan al hadis sebagai sumber hukum kedua . Sekalipun tidak bisa dipungkiri sejarah islam masa lalu mencatat adanya sekelompok orang yang meragukan dan bahkan menolak al hadis dijadikan sebagai sumber hukum. Berbagai dalih dan argumentasi mereka paparkan, akan tetapi ulama muhadisin berhasil mempertahankan keaslian hadis karena banyak teks-teks al qur’an yang mendukung dan membenarkan bahwa as sunah adalah sumber kedua setelah al qur’an. Seperti kesaksian ayat-ayat berikut ini:

- وانزلنا اليك الذكر لتبين للناس ما نزل اليهم و لعلهم يتفكرون ( النحل : 44)
- فلا وربك لايؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا فىانفسهم حرج مما قضيت ويسلموا تسليما ( النساء : 65)
- وما اتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا ( الحشر : 7)
- وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون ( ال عمران : 132)
- يايها الذين امنوا اطيعوا الله و اطيعوا الرسسول و اولى الامر منكم ( النساء :59)
- يايها الذين امنوا استجيبوالله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم ( الانفال : 34)
- من يطع الرسول فقد أطاع الله ( النساء : 80)
- قل إن كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم ( ال عمران : 31)
- قل اطيعوا الله والرسول فإن تولوا فإن الله لا يحب الكافرين ( ال عمران : 32)
- وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا فضى الله و رسوله أمرا ان يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله رسوله فقد ضل ضلالا مبينا ( الاحزاب : 36)
Demikian pula secara rasional orang tidak akan bisa mengoptimalkan dan mengoprasionalkan ayat-ayat al qur’an yang disusun dalam bentuk / sighat Am, Mutlaq, mujmal dll. tanpa ada penjelasannya secara rinci tentang bagaimana cara menjalankan ketentuan-ketentuan hukum itu. Dan yang paling otoritatif untuk menjelaskan ayat-ayat seperti tersebut di atas adalah Nabi Muhammad SAW melalui hadis-hadis yang disabdakannya.
Jumhur muhadisin mencatat setidak-tidaknya terdapat tiga fungsi hadis terhadap kandungan makna al qur’an. Adapun ketiga fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Bayan al Ta’kid
b. Fungsi Bayan al Tafsir
c. Fungsi Bayan al Tasyri’
Oleh karena itu mustahil umat islam bisa melaksanakan aturan-aturan yang terdapat dalam al qur’an, tanpa menggunakan al sunnah sebagai media untuk memahami arti dan maksud yang dikehendaki oleh al qur’an. Ibaratnya al qur’an adalah UUD yang dalam implementasinya di tengah-tengah kehidupan sosial, ia membutuhkan UU dan PP untuk menjalankan aturan yang terdapat pada UUD tersebut. UU dan PP dapat diidentikkan dengan posisi al sunnah, sehingga ia tidak dapat dipisahkan dari keterkaitannya dengan al qur’an.
Hanya saja semenjak wafatnya Nabi, kaum muslimin menghadapi suatu persoalan yang besar dan berat. Sejak saat itu dapat dinyatakan bahwa wahyu / kalamullah telah terhenti untuk berdialog dengan realitas sosial di sekitarnya. Begitu pula pula as sunnah sebagai juru bicara al qur’an tidak lagi bisa menjelaskan secara rinci , detil dan pasti segala bentuk pertanyaan, keraguan dan kesamaran yang terdapat pada teks-teks al qur’an. Pada saat nabi hidup hampir dapat disimpulkan perbedaan pendapat di antara sahabat relatif sedikit, bahkan jarang terjadi. Karena ada figur nabi sebagai figur ideal, yang cerdas dan yang paling otoritatif di dalam menengahi segala bentuk pertikaian pendapat yang terjadi di kalangan shahabat. Adapun semenjak wafatnya Nabi, seketika itu juga kaum muslimin mulai bersitegang dan mulai muncul bibit friksi atau perbedaan pendapat itu. Contoh atau bukti yang paling nyata untuk mendukung pernyataan itu adalah kasus proses pergantian kepemimpinan dari Nabi SAW ke pengganti Beliau. Para ulama yang menekuni persoalan fiqh siyasah menyebutnya sebagai persoalan Istikhlaf. Di sini terbukti bahwa perbedaan pendapat yang terjadi dalam skala massal dan pertama kali itu , adalah kasus pergantian kekuasaaan. Inilah bibit-bibit awal perbedaan pendapat itu, suatu fenomena sosial yang pada zaman Nabi SAW sulit untuk ditemukan.
Semenjak munculnya perbedaan pendapat tentang pergantian kekuasaan tersebut, maka kuantitas dan kualitas ikhtilaf itu sendiri makin hari semakin berkembang. Sejarah mencatat perbedaan pendapat itu tidak melulu persoalan politik (perebutan kekuasaan), akan tetapi merambah pada wilayah yang lebih besar lagi seperti persoalan hukum dan teologi (kalam) . Keduanya diyakini sebagai penyumbang terbesar bagi terkotak-kotaknya kaum muslimin dalam berbagai aliran pemikiran / mazhab / sekte yang satu dengan yang lainnya secara diametral saling berhadap-hadapan . Hal ini masuk akal mengingat posisi nabi sebagai figur yang paling kredibel dalam menengahi setiap perbedaan pendapat yang muncul di kalangan umat islam, tak tergantikan oleh siapapun di antara umatnya. Sehingga masing-masing orang (ulama/cendekiawan) muslim merasa berhak / memiliki hak yang sama di dalam menafsirkan teks-teks agama menurut keyakinan dan kadar intelektual yang mereka miliki. Akibatnya semakin banyaklah penafsir-penafsir teks keagamaan tanpa diketahui mana sejatinya dari semua pendapat itu yang paling benar dan argumentatif . Oleh karena itu disusunlah kaidah-kaidah / metode yang baku / standard di dalam upaya memahami kandungan / maksud teks-teks al qur’an.
Selanjutnya para pengkaji hukum islam mulai mengkaji dan mempelajari kedua sumber ajaran islam itu dalam berbagai seginya. Umpamanya mereka mulai memberikan penekanan yang serius pada aspek bahasa yang digunakan al qur’an / al hadis dalam menjelaskan hukum-hukum yang akan dibebankan pada manusia (mukallaf). Suatu penggunaan bahasa tertentu, akan dilihat dari segi petunjuk (dalalah)-nya dan qarinahnya menuju pada suatu maksud-maksud tertentu yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh bunyi / redaksi ayat tersebut. Maka dibuatlah standarisasi lughawi yang digunakan untuk memberikan interpretasi yang mendekati kebenaran-setidak-tidaknya dalam pandangan ushuliyyun- mendekati maksud redaksi teks hukum tersebut. Di samping sisi kebahasaannya , ulama juga mengkaji isi / kandungan teks hukum (ayat / hadis) dengan berbagai pendekatan yang lazim digunakan dalam perspektif ilmu-ilmu humaniora . Sehingga pada abad IV hijriyah terciptalah ilmu-lmu yang membantu fuqaha/mujtahid di dalam upaya memahami teks ayat/hadis sebagai sumber hukum ajaran islam. Maka berkembanglah ilmu hadis, ilmu qur’an, ushul fiqh, logika dan lain-lain yang membantu para pengkaji hukum islam untuk menyimpulkan maksud sebenarnya dari pembacaan sebuah teks.
Munculnya ilmu-ilmu tersebut tidak serta merta pemahaman terhadap teks menjadi mudah dan terciptanya suatu interpretasi tunggal. Alih-alih kesatuan pendapat terjadi di kalangan ulama dan fuqaha, justru yang terjadi adalah perbedaan pendapat itu semakin melebar. Hal ini disebabkan ilmu-ilmu yang dijadikan sebagai standarisasi pemahaman teks memiliki derajat keterandalan dan validitas yang beragam di kalangan imam mazhab. Sehingga akibat perbedaan metode yang mereka pegangi dalam memahami kedua sumber hukum itu –dan latar belakang keilmuan tentunya-, maka berakibat pula bagi perbedaan pendapat yang muncul.
Al hadis sebagai salah satu teks hukum, tidak memiliki derajat validitas tunggal di kalangan muhadisin , sebagaimana al qur’an yang punya validitas tunggal di kalangan mufassirin. Hal ini diperparah dengan karakter internal dari matan hadis itu sendiri, yang tidak semua orang punya kemampuan untuk memahmai bahasa / ucapan nabi. Hadis nabi dalam bentuk jawami’ al kalim adalah salah satu contoh kualitas internal yang membuat penafsiran hadis menjadi amat subyektif dan multi tafsir. Sehingga sangat sulit ditemukan adanya kesepakatan ulama di dalam memahami arti suatu lafaz –lebih-lebih kesuluruhan matan- dari teks hukum yang sedari awalnya memang mengandung potensi-potensi ikhtilaf tersebut. Belum lagi koleksi hadis yang dimiliki oleh para mujtahid / mazhab itu sendiri juga berbeda-beda.
Oleh karena itu perlu suatu pemahaman ulang untuk mengais kembali setiap warisan keilmuan (Turats) masa lalu dengan cara merekonstruksi dan mendekonstruksi –jika memang mendesak- bangunan ontologi dan epistemologi hukum islam secara lebih cermat dan bertanggung jawab. Salah satu kata kunci untuk merekat kembali perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab itu adalah persoalan di sekitar al hadis. Terdapat banyak kondisi baik internal maupun eksternal yang menyebabkan orang berbeda-beda pendapat karena memegangi hadis sebagai dasar hukum. Ada beberapa alasan bahwa al hadis berperan besar bagi wujudnya suatu iklim yang penuh dengan perdebatan dan perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab.
Pertama, adanya persepsi dan pengamalan yang berbeda tentang pemberlakuan hadis sebagai dasar atau sumber ajaran islam. Sebagian besar ummat islam meyakini bahwa al hadis merupakan sumber hukum kedua setelah al qur’an. Sejarah mencatat bahwa semenjak zaman nabi (w.632 M) sampai zaman ummayah (661-750 M) belum terlihat adanya gerakan untuk menolak as sunnah sebagai hujjah dalam agama. Barulah pada awal masa dinasti Abbasiyyah (750 – 1258 M) muncul secara jelas sekelompok kecil ummat islam yang menolak as sunnah sebagai salah satu sumber hukum islam. Hal ini dapat dipahami berdasarkan uraian yang dipaparkan imam al Syafi’I dalam kitabnya al Umm. Mereka itu oleh imam syafi’I dibagi dalam tiga golongan : Pertama, golongan yang menolak seluruh as sunnah, Kedua, golongan yang menolak as sunnah kecuali bila sunnah itu memiliki kesamaan dengan petunjuk al qur’an, Ketiga, golongan yang menolak as sunnah yang berstatus hadis ahad, golongan ini hanya menerima sunnah yang berstatus hadis mutawatir.
Adanya tarik menarik antara kelompok yang meyakini hadis dapat dijadikan sebagai dalil dengan kelompok yang menolak hadis sebagai dasar ajaran islam menarik untuk dicermati. Kajian ini nantinya akan melihat latar belakang dan faktor-faktor yang menyebabkan adanya gerakan inkarussunnah muncul ke permukaan . Sekaligus untuk menarik benang merah dari hubungan yang terjadi antara bervariasinya kualitas dan kuantitas hadis dengan kemunculan gerakan inkarusunnah itu sendiri. Fenomena gerakan inkarussunnah sudah barang tentu berimplikasi terhadap pola pemikiran keagamaan bagi penganutnya. Oleh karena golongan ini tidak mempercayai hadis sebagai dasar / sumber hukum (mashadir al tasyri’), maka mereka hanya bertumpu pada nash (teks) al qur’an dan rasio semata di dalam mengistinbatkan hukum baik yang bersifat ta’abudiy maupun amaliy. Pada gilirannya penggunaan rasio itu justru melebihi batas kewenangannya, artinya mereka lebih mengandalkaan penafsiran atas teks daripada bunyi literal teks al qur’an itu sendiri. Sehingga tidak bisa dihindarkan lagi antara 2 kelompok ulama tersebut tidak mudah untuk bersatu pendapat dalam persoalan-persoalan furuiyyah ( fiqhiyyah ) yang al qur’an tidak menjelaskan ketentuan-ketentuan hukumnya.
Alasan berikutnya adalah fakta bahwa hadis yang tersebar dalam berbagai karya para ulama muhadisin memiliki derajat kualitas yang berbeda-beda. Sesungguhnya para mukharrij ketika meriwayatkan, menulis dan meneliti hadis, hasil penelitiannya itu bersifat ijtihadiyah. Dalam artian bahwa tidak dapat dibuktikan secara ilmiyah dan syari’y bahwa apa-apa yang mereka tahrijkan itu benar-benar qaul / peristiwa yang menyangkut diri nabi tanpa ada reduksi dan kekurangan / kesalahan di sana sini baik menyangkut penggunaan bahasanya, lebih-lebih yang berkaitan dengan isi, matan atau materi hadisnya. Kesahihan sebuah hadis bersifat zhan , karena metode verifikasi yang digunakan antara ulama yang satu dengan ulama yang lainnya berbeda-beda. Imam abu Hanifah diriwayatkan hanya mensahihkan tidak lebih dari 20 hadis saja. Sekalipun pendapat ini masyhur di kalangan ahli ushul, akan tetapi menurut as Shiba’iy tuduhan itu tidak beralasan. Perbedaan alat uji kesahihan hadis, jelas berdampak secara signifikan terhadap nilai dan kualitas sebuah hadis. Oleh karena itu memahami seluk beluk perbedaan kualitas dan kuantitas hadis adalah mutlak diperlukan bagi siapapun yang hendak berkutat dengan persoalan-persoalan di sekitar hukum islam. Sebagian mujtahid akan berhujjah dengan hadis yang dalam pandangannya bernilai shahih., sementara mujtahid yang lainnya justru menggunakan hadis yang berbeda, dengan anggapan bahwa hadis tersebut juga shahih. Hal yang demikian ini jelas berakibat pada perbedaan hasil pemikiran hukum yang mereka simpulkan dari dua nash yang berbeda dengan dua metode verifikasi yang berbeda pula. Sebagai contoh dalam kitab shahihnya, al Bukhari menggunakan dua kriteria utama untuk mengukur sebuah hadis dapat dinyatakan sebagai hadis shahih ataukah tidak. Kedua tolok ukur tersebut adalah unsur kesezamanan (Mu’ashir) dan unsur perjumpaan ( Liqa’ ). Artinya suatu hadis baru dapat dinyatakan sebagai hadis shahih, jika ia dapat dibuktikan secara meyakinkan rawi-rawi yang terdapat pada sanad hadisnya benar-benar pernah saling bertemu, ada hubungan guru-murid walaupun hanya sekali. Tidak cukup unsur kesezaman digunakan sebagai indikator bersambungnya sebuah sanad hadis. Hal ini berbeda dengan kriteria hadis shahih yang dipegangi oleh imam muslim, menurut beliau kemuttashilan hadis shahih cukup dengan dugaan kuat, bahwa kesezamanan antar dua perawi , menjadi indikator bahwa hadis tersebut tidak gugur sanadnya.


Selengkapnya.....


Sobat fai yang tercinta....


Dalam rangka mendukung proses pembelajaran di kelas, berikut ini kami sajikan beberapa bahan pembelajaran dalam bentuk power point. Sobat fai bisa mendownload-nya dengan cara yang sangat mudah, sobat tinggal klik aja tulisan 'download' yang terdapat di akhir tulisan mata kuliah tertentu.Mudah bukan...? Nah selamat mendownload deh....:



1. Ulumul hadis Download
2. Aliran Keagamaan di Indonesia Download
3. Sumber Ajaran Islam Download
4. Politik Pemerintahan Khulafaurrasyidin Download
5. Pengantar Filsafat Umum Download
6. Pendekatan Dalam Studi Islam Download
7. Islam dan Modernisme Download
8. Filsafat Ibn Miskawaih Download
9. Hadis Tarbawiy Download
10. Fiqh Siyasah Download
11. Filsafat al farabiy Download

Selengkapnya.....


Dosen FAI UNISMA
Sobat FAI barangkali belum banyak mengenal dengan punggawa kampus kita ini, so postingan berikut barangkali bisa sedikit memenuhi rasa penasaran sobat tentang person-person yang mengelola FAI UNISMA. OK met liat-liat deh..dan jangan lupa kasih koment yaa.


suasana Perdebatan filsafat

Nama : Dr. H. A. Munir Ilham, MA
Jabatan : Dekan FAI UNISMA
Pendidikan :

1. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
3. S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Tafsir Ahkam, Tafsir Tarbawi, Ilmu Tafsir, Metodologi Studi Islam



Nama : Drs. H. M. Masduqi ZL, M.PdI
Jabatan : Pembantu Dekan I

Pendidikan :
1. S1 Universitas Sunan Giri Surabaya
2. S2 PPS UNISMA Malang

Dosen pengampu Matakuliah : Tarikh Tasyri, Fiqh Muammalah, Ulumul Qur'an dan Pengembangan Kurikulum


Nama : Drs. Rosichin Mansur, S.Fil. M.Pd
Jabatan : Ketua Program Studi Magister Pendidikan Islam :
1. S1 Universitas Gajah Mada Yogyakarta, S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 PPS Unnes Semarang

Dosen pengampu Matakuliah : Filsafat Umum, Filsafat Islam, Logika, Sosiologi
email : neo_rosichin@yahoo.co.id, rosichin09@gmail.com
blog : http://humanioras.blogspot.com
: http://rosichin.wordpress.com


Nama : Khoirul Asfiyak, M.HI
Jabatan : Ketua Prodi Magister Hukum Islam
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 PPS UNISMA MALANG
Dosen pengampu Matakuliah : Filsafat Hukum, Filsafat Islam, Fiqh Siyasah, Metodologi Studi Islam, Ulumul Hadis
email : khoirul.asfiyak@gmail.com


Nama : Muhammad Afifullah, M.Pd
Jabatan : Ketua Program Studi PGMI
Pendidikan :
1. S1 Universitas Islam Malang
2. S2 PPS Universitas Negeri Yogyakarta
Dosen pengampu Matakuliah : Bahasa Arab, Sejarah Pendidikan Islam


Nama : H.S. Zakaria, MA
Jabatan : Dosen Tetap UNISMA
Pendidikan :
1. S1 Universitas King Saud Saudi Arabia
2. S2 Universitas King Saud Saudi Arabia
Dosen pengampu Matakuliah : Masailul Fiqhiyyah, Qawaidul Fiqhiyyah, Muqaranatul Mazhab fil Ushul, Fiqh Jinayah



Nama : Drs. H. M. Ilyas Thohari, M.Pd
Jabatan : Ka. Prodi PPS Studi Islam
Pendidikan :
1. S1 IAIN SUnan Ampel Malang
2. S2 IKIP Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Teknologi Pembelajaran, Statistik, Metode Pendidikan




Nama : Drs. H. Abdul Jalil Djauhary, M.Pd
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN SUnan Ampel Malang
2. S2 PPS Unisma Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Bahasa Inggris, Filsafat Pendidikan

Nama : Drs. H. Sholichin MAhfudz
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN sunan Ampel Malang
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Studi Teks Keislaman, Psikologi Sosial, Ushul Fiqh dan Strategi Belajar Mengajar


Nama : Drs. H. Azhar Haq, M.PdI
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 Universitas Islam Malang
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Psikologi Umum, Psikologi Belajar, Psikologi Agama dan Psikologi Sosial


Nama : Drs. H. Fathurrahman Alfa, M.Ag
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Tarikh Tasyri, Tasawwuf, Fiqh Siyasah, Ilmu Kalam

Nama : Drs. H. Anwar Sa'dullah, M.PdI
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Ampel Malang
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Perencanaan Kurikulum, Pengembangan Kurikulum, Teknologi Pembelajaran, Analisis Materi Kurikulum




Nama : Drs. H. A. Faishol, M.Ag
Jabatan : Ka Prodi Ahwal Al Syahshiyyah FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 IAIN Sunan Kalijaga
Dosen pengampu Matakuliah : PPMDI, Filsafat Islam, Sejarah Peradaban Islam, Filsafat Pendidikan Islam, Filsafat Hukum Islam


Nama : Drs. Ibnu Jazari Zaenal, M.HI
Jabatan : Dosen tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 Universitas Sunan Giri Surabaya
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Ulumul Qur'an, Sejarah Peradaban Islam, Ilmu Pendidikan, Hadis Ahkam dan Sejarah Pendidikan Islam


Nama : Dra. Hj. Chalimatus Sa'diyah, M.PdI
Jabatan : Dosen Tetap FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Ampel Malang
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Ilmu Pendidikan Islam, Filsafat Pendidikan, Analisis Materi Pendidikan, Metode Pendidikan

Nama : Drs. H.M. Hanif, M.PdI
Jabatan : Ka Prodi Pendidikan Islam FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. S2 PPS UNISMA Malang
Dosen pengampu Matakuliah : Bahasa Arab, Ilmu Kalam


Nama : Drs. M. Endri Julianto, M.Pd
Jabatan : Dosen Tetap ( DPK ) FAI UNISMA
Pendidikan :
1. S1 Universitas Islam Malang
2. S2 IKIP Malang
3. S3 UNM Malang ( dlm tahap penyelesaian Disertasi )
Dosen pengampu Matakuliah : Metode Penelitian Pendidikan, Media Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Metode Pendidikan


Karyawan FAI UNISMA :

Nama : Mohammad Mustofa, S.Ag
Jabatan : Kepala Tata Usaha FAI UNISMA Malang
Pendidikan : S1 Universitas Islam Malang
email : tovazona@yahoo.co.id, tovarossi@gmail.com
Blog : tovarossi.blogspot.com
kotak-ilmu.blogspot.com



Nama : Khulaifatul Ulya
Jabatan : Staff Tata Usaha FAI UNISMA Malang
Pendidikan : S1 Universitas Islam Malang
email : Ulya_999@yahoo.co.id





Nama : Ir. R. Didit
Jabatan : Staff Tata Usaha FAI UNISMA Malang
Pendidikan : S1 Universitas Islam Malang
email : didit_artan@yahoo.co.id
Blog : - Selengkapnya.....


Oleh : Fathurrahman Alfa


Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.

A.Definisi Tasawuf Falsafi
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Dari adanya aliran tasawuf falsafi ini menurut saya sehingga muncullah ambiguitas-ambiguitas dalam pemahaman tentang asal mula tasawuf itu sendiri. kemudian muncul bebrapa teori yang mengungkapkan asal mula adanya ajaran tasawuf. Pertama; tasawuf itu murni dari Islam bukan dari pengaruh dari non-Islam. Kedua; tasawuf itu adalah kombinasi dari ajaran Islam dengan non-Islam seperti Nasrani, Hidu-Budha, filsafat Barat (gnotisisme). Ketiga; bahwa tasawuf itu bukan dari ajaran Islam atau pun yang lainnya melainkan independent.
Teori pertama yang mengatakan bahwa tasawuf itu murni dari Islam dengan berlandaskan QS. Qaf ayat 16 yang artinya “Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahuapa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada dilehernya”. Ayat ini bukan hanya sebagai bukti atau dasar bahwa tasawuf itu murni dari Islam meliankan salah satu ajaran yang utama dalam tasawuf yaitu wihdatul wujud. Kemudian kami juga mengutip pendapat salah satu tokoh tasawuf yang terkenal yaitu Abu Qasim Junnaid Al-Baqdady, menurutnya “yang mungki menjadi ahli tasawuf ialah orang yang mengetahui seluruh kandungan al-qur’an dan sunnah”. Jadi menurut ahli sufi, setiap gerak-gerik tasawuf baik ‘ilmy dan ‘amaly haruslah bersumber dari al-qur’an dan sunnah. Maka jelas bahwa tasawuf adalah murni dari Islam yang tidak di syari’atkan oleh nabi akan tetapi beliau juga mempraktikkannya. Buktinya sejak zaman beliau (nabi Muhammada-red) juga ada kelompok yang mengasingkan diri dari dunia, sehingga untuk menjaga kekhusuan mereka beliau memberi mereka tempat kepada mereka di belakang muruh nabi. Meskipun istilah tasawuf itu belum ada tapi dapat di sinyalir bahwa munculnya ajaran-ajaran seperti itu (zuhud/ warok, mendekatkan diri pada Allah-red) sudah ada sejak zaman Islam mulai ada, dan nabi sendiri sejatinya adalah seorang sufi yang sejati.
Kemudian pendapat kedua yang mengatakan bahwa tasawuf adala kombinasi dari ajaran Islam dengan yang lainnya (non-Islam). Mereka memberi contoh beberapa ajaran yang ada di tasawuf sama dengan aliran (ajaran) lain, misal;
sumber dari Nasrani:
1.Konsep Tawakal
2.Peranan Syekh
3.Adanya ajaran tentang menehan diri tidak menikah.
sumber Hindu:
1. Al-fanah = Nirwana
2. Zuhud = menjahui dunia
sumber Yunani (fil. Barat):
1. Filsafat Ilmu jiwa
2. Filsafat Phytagoras
3. Filsafat Plotinus
4. Termasuk juga gnotisisme.
Dari sinilah nampak ada kemiripan dalam ajaran setiapa masing yang diakibatkan dari akulturasi sehingga terjadi penjumboan (bersatu) antara ajaran Islam dalam tasawuf dengan yang lain.
Pendapat yang ketiga ini yang mengatakan tasawuf itu bukan dari mana-mana yaitu independen, dengan berdasarkan dengan kisah bahwa pada waktu itu ada seorang raja yang hidup bergelimpangan dengan harta namun dia masih mengalami ketegangan dalam hidupdalam artian jiwanya belum tenang, akhirnya atas nasihat dari seseorang yang dia temui di hutan saat berburu mencoba mengasingkan diri ke bhutan dan meninggalkan semua hartanya. sehingga dari sini dapat di tarik bahwa tasawuf muncul untuk mengatasi kebosan seseorang dari kehidupan dunia tanpa adanya spiritualitas dalam jiwa sehingga mengalami kekeringan jiwa, yang kemudian diisi kembali dengan nilai spiritualitas dengan menjahui kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dari pemaparan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa tasawuf itu benar-benar asali (murni) dari ajaran Islam yang tidak di syari’atkan atau di sunnahkan oleh nabi meskipun beliau juga melakukanya. Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari akulturasi ajaran lain termasuk gnotis itu juga tidak bisa disalahkan, sebab adanya pengklasifikasian tasawuf sehingga muncul beberapa tasawuf, seperti tasawuf sunni, salafi dan tasawuf falsafi membuat determinasi diantaranya. maka jikalau dikatakan tasawuf adalah akulturasi antara Islam dengan yang lain itu termasuk tasawuf falsafi yang mana telah mengedepankan asas rasio sehingga berbaur dengan fisafat-filsafat yang ada di ajaran lain, dimana dalam menganalisis tasawuf dengan paham emanasi Neo-platonisme dalam semua fariasi baik dari Ibn Sina samapai Mulla Shadra.

B. Latar belakang berkembangnya Tasawuf Falsafi
Perenungan ketuhanan kelompok sufi dapat dikatakan sebagai reaksi terhadap corak pemikiran teologis pada masa itu. Di pihak lain, para filosof dengan tujuan menjembatani antara agama dengan filsafat, terpaksa mempreteli sebagaian dari sifat-sifat Tuhan sehingga Tuhan tidak mempunyai kreativitas lagi. dengan perkembangan tasawuf yang mempunyai tipologi, secara global dapat diformasikan adanya tiga konsep tentang Tuhan yaitu; konsepti etikal, konsepi estetikal dan konsepsi union mistikal.
Konsepsi etikal berkembang pada zuhada, munurut mereka Dat Tuhan adalah sumber kekuatan, daya iradat yang mutlak. Tuhan adalah pencipta tertinggi, oleh kaena itu perasaan takut kepada Tuhan lebih mempengaruhi mereka ketimbang rasa pengharapan. timbulnya konsep ini bersumber dari keyakinan bahwa Tuhan adalah asal segala yang ada, sehingga antara manusia dengang Tuhan ada jalur komunikasi timbal balik. Doktrin ini belanjut kepada keyakinan, bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Tuhan.
Berkembangnya tasaawuf sebagai jalan dan latihan untuk merealisir kesucia batin dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, juga menarik perhatian para pemikir muslim yang berlatar belakang teologi dan filsafat. Dari kelompok inilah tampl sejumlah kelompok sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep mereka yang disebut dengan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. ajran filsafat yang paling banyak dipergunakan dalam analisis tasawuf adalah paham emanasi Neo-Plotinus.
Andaya pemaduan antara filsafat dengan tasawuf pertama kali di motori oleh para fisful muslim yang pada saat itu mengalami helenisme pengetahuan. Misalanya filsuf muslim yang terkenal yang membahas tentang Tuhan dengan mengunakan konsep-konsep neo-plotinus ialah Al-Kindi. Dalam filsafat emanasi Plotinus roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat lagi kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha. dari sini di tarik ke dalam ranah konsep tasawuf yang berkeyakinan bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Tuhan.
Namun istilah tasawuf fal safi bulum terkenal pada waktu itu, setelah itu baru tokoh-tokoh teosofi yang populer. Abu Yazid al-Bustami, Ibn Masarrah (w.381 H) dari Andalusia dan sekaligus sebagai perintisnya. orang kedu yang mengombinasikan antara teori filsafat dan tasawuf ialah Suhrawardi al-Maqtul yang berkembang di Persia atau Iran. Masih banyak tokoh tasawuf falsafi yang berkembang di Persia ini sepeti al-Haljj dengan konsep al-Hulul yakni perpaduan antara isan dengan Tuhan.
Perkembangan puncak dari tasawuf falsafi, sebenarnya telah dicapai dalam konsepsi al-wahdatul wujud sebagai karya pikir mistik Ibn Arabi. sebelum Ibn arabi muncul teorinya seorang sufi penyair dari Mesir Ibn al-Faridh mengembangkan teori yang sama yaitu al-wahdat asa-syuhud.
Pada umumnya konsep ini diterima dan berkembang dari kaum syi’ah dan bermazhabkan Mu’tazilah. Makanya nama lain dari tasawuf falsafi juga di sebut dengan tasawuf Syi’i. diterimanya konsep-konsep atau pola pikir tasawuf falsafi di kawasan Persia, karena dimungkinkann disana dulu adalah kawasan sebelum Islam sudah mengenal filsafat.
Semenjak masa Abu Yazid al-Busthami, pendapat sufi condong pada konsep kesatuan wujud. Inti dari jaran ini adalah bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari realitas yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan yang merupakan dasar dan sumber kejadian dari segala sesuatu. Dunia ini hanyalah bayangan yang keberadaannya tergantung dengan wujud Tuhan, sehingga realitas hidup ini hakikatnya tunggal.
Atas dasar seperti itu tentang Tuhan yang seperti itu, mereka berpendapat bahwa alam dan segala yang ada termasuk manusia merupakan radiasi dari hakikat Ilahi. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ke –Tuhanan, karena merupakan pancaran dari Tuhan.
Dari konsep seperti ini lah para sufi dari tasawuf falsafi ini mempunyai karakteristik sendiri sehingga dapat di pukul rata bahwa semua konsep yang ditawarkan oleh para sufi falsafi ini adalah konsep wihdatul wujud, meskipun dalam penjabarannya mengalami perbedaan dan perkembangan yang berbeda antara sufi yang satu dengan sufi yang lain.
Seperti hanya dalam konsep emanasi, Ibn Arabi menggunakan bentuk pola akal yang bertingkat-tingkat, seperti; akal pertama, kedua, ketiga dan sampai akal kesepuluh. Dimana ia mencoba mengambarkan bahwa proses terjadinya sesuatu ini berasal dari yang satu, kalau meminjam bahasanya Plotinus ialah The One.
Kemudian konsep itu terus disempurnakan bahwakan mengalami kritikana dari sufi-sufi yang lain. Misalnya sufi yang memperbarui konsep ajaran Ibn Arabi ini ialah Mulla Shadra yang lebih mencoba menggunkan konsep yang rasional dengan istilah Nur yang mana ia mencoba merujuk dari al-qur’an sendiri bahwa Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya..
Akan tetapi Mulla Shadra membedakan cahaya kedalam dua kategori yaitu cahaya yang tidak mempunyai sifat dan cahaya yang menunjukkan sebuah sifat dari barang itu. Misal cahaya yang menunjukkan sifatdari benda itu ialah cahaya lampu, matahari, cahaya lampu lalulintas dan lain-lain. Sedangkan cahaya yang tak menggandung dari sifat benda ialah cahaya Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam bukunya Syekh Adurun Nafis menggabarkan bahwa Nur Tuhan bukan cahaya, jadi nur adalah nur bukan cahaya.
Bisa kita tarik kesimpulan bahwa tasawuf falsafi muncul dari ketakajuban para filsuf Islam yang mencoba mengombinasikan konsep ajaran dengan tasawuf. Atau bisa dikatakan konsep tasawuf dikemas dan dipandang dari segi kacamata filosofis, sehingga memunculkan ajaran-ajaran yang sifatnya lebih ke teoritis dan tak lepas dari pengaruh dari konsep emanasinya Plotinus.

Pemikiran filsafat lainnya Silahkan Klik..di sini

Selengkapnya.....

Oleh: Sholichin Mahfudz

Imam Al-Mawardi menghendaki bahwa seorang guru benar-benar ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Mendidik dan mengajar harus diorientasikan kepada tujuan yang luhur, mengajar dan mendidik, merupakan aktivitas keilmuan yang mempunyai nilai dan kedudukan yang tinggi, yang tidak bisa disejajarkan dengan materi Imam Al-Mawardi melarang seseorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Keikhlasan dan kesadaran seorang guru dalam mendidik adalah kesadaran akan pentingnya tugas, sehingga akan terdorong untuk mencapai hasil yang maksimal.



ABSTRAK
Seorang guru akan tampil melaksanakan tugasnya secara profesional, dengan ditandai oleh beberapa sikap. Pertama; selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar, kedua; seorang guru yang ikhlas akan bertindak tepat dalam janji dan penyelesaian tugas-tugasnya, ketiga; penggunaan waktu luangnya akan diarahkan untuk kepentingan profesionalnya, keempat; ketekunan dan keuletan dalam bekerja. Guru yang ikhlas akan menyadari pentingnya ketekunan dan keuletan bekerja dalam pencapaian keberhasilan tugasnya, kelima; memiliki daya kreasi dan inovasi yang tinggi, yang timbul dari kesadaran akan semakin banyak tuntutan dan tantangan prospek pendidikan.

A. Pendahuluan
Menurut catatan sejarah Imam Al-Mawardi dilahirkan di Bashroh tahun 364 H, wafat di Baghdad pada tahun 450 H. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibnu Muhammad Ibnu Habib Al-Basry.
Dalam dunia pendidikan, pada awalnya Al-Mawardi menempuh pendidikan dinegeri kelahirannya sendiri, yaitu Bashroh. Di kota tersebut Al-Mawardi sempat mempelajari hadits dari beberapa ulama terkenal seperti Al-Hasan Ibnu Ali Ibnu Muhammad Ibn Al-Jabaly, Abu Khalifah Al-Jumhy, Muhammad Ibn ‘Adiy Ibnu Zuhar Al-Marzy, Muhammad Ibnu Al-Ma’aly Al-Azdy serta Ja’far bin Muhammad Ibn Al-Fadl Al-Baghdadi. Menurut pengakuan muridnya, Ahmad Ibn Ali Al-Khatib, bahwa dalam bidang Al-Hadits, Al-Mawardi termasuk tsiqot.1 Selain mendalami bidang Al-Hadits, Al-Mawardi juga mendalami bidang fiqh pada syekh Abu Al-Hamid Al-Isfarayani, sehingga ia tampil salah seorang ahli fiqh terkemuka dari madzhab syafi’i. Keahlian Al-Mawardi selanjutnya juga dalam bidang sastra dan sya’ir, nahwu, filsafat dan ilmu sosial, namun belum dapat diketahui secara pasti dari mana ia mempelajari ilmu kebahasaan tersebut.
Berkat keahliannya dalam bidang hukum Islam, Al-Mawardi dipercaya untuk memegang jabatan sebagai hakim dibeberapa kota, seperti di Utsuwa (daerah Iran) dan di Baghdad.2 Dalam hubungan ini Al-Mawardi pernah diminta oleh penguasa pada saat itu untuk menyusun kompilasi hukum dalam madzhab syafi’I yang dinamai Al-Iqra’. Al-Mawardi mempunyai latar belakang sosiologis yang berguna untuk menjelaskan pemikiran siyasah/politik sebagaimana dijumpai dalam karyanya yang berjudul Al-Ahkam as Sulthoniyah.
Ditengah-tengah kesibukannya sebagai Qodhi, Al-Mawardi juga sempat menggunakan sebagian waktunya untuk mengajar selama beberapa tahun di Bashroh dan di Baghdad. Al-Mawardi juga banyak memanfaatkan waktunya untuk banyak membuat karya tulis/ilmiah tidak kurang dari 12 judul yang secara keseluruhan dapat dibagi tiga kelompok pengetahuan, yaitu;
Kelompok pengetahuan agama antara lain; kitab Tafsir yang berjudul An-Nukat wa al’uyun, al hawi al-kabir, al-iqra’, adab al-qodhi, ‘alam an-nubuwah. Kelompok pengetahuan politik tentang politik dan ketatanegaraan antara lain; Al-Ahkam as Sulthoniyah termasuk karya baliau yang sangat populer dikalangan dunia Islam. Selanjutnya adalah kelompok pengetahuan bidang akhlak yang termasuk kelompok bidang ini adalah kitab an-Nahwu, al-Ausat wa’alhikam dan al-Bughyah fi adab ad-Dunnya waddin. Buku Adab ad-Dunya wa ad-Din dinilai sebagai buku yang amat bermanfaat. Buku ini pernah ditetapkan oleh kementrian pendidikan di Mesir sebagai buku pegangan di sekolah-sekolah tsanawiyah selama lebih dari 30 tahun. Selain di Mesir, buku ini diterbitkan pula beberapa kali di Eropa, sementara itu ulama Turki bernama Hawais Wafa Ibn Muhammad Ibn Hammad Ibn Halil Ibn Dawud Al-Zarjany pernah mensyarahkan buku ini dan diterbitkan pada tahun 1328. 3

B. Pemikiran Al-Mawardi dan Peran Guru yang Strategis
Dalam bidang pendidikan, pemikiran Al-Mawardi lebih banyak berfokus masalah etika hubungan guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Pemikiran ini dapat dipahami, karena dari seluruh aspek pendidikan, guru mempunyai peranan sangat penting, bahkan pada posisi terdepan. Keberhasilan pendidikan sebagian besar bergantung pada kualitas guru, baik dari segi penguasaan materi maupun metodologinya, dan kepribadiannya yang terpadu antara ucapan dan perbuatan yang harmonis.
Al-Mawardi memandang penting seorang guru yang memiliki sikap rendah hati (tawadlu’) serta menjauhi sikap ujub (besar kepala). Menurut beliau sikap tawadlu’ akan menimbulkan simpatik dari anak didik, sedangkan sikap ujub akan berdampak pada guru kurang mendapat simpati. 4
Sikap tawadlu’ menurut Al-Mawardi bukanlah sikap merendahkan diri ketika berhadapan dengan orang lain, karena sikap ini akan menyebabkan orang lain meremehkan. Sikap tawadlu’ yang dimaksud adalah sikap rendah hati dan sederajat dengan orang lain dan saling menghargai. Sikap yang demikian akan menumbuhkan rasa persamaan dan menghormati orang lain, toleransi serta rasa senasib dan cinta keadilan. 5
Dengan sikap tawadlu’ tersebut seorang guru akan menghargai muridnya sebagai makhluk yang memiliki potensi atau dengan kata lain merupakan bagian sumber belajar. Prinsip ini sejalan dengan prinsip yang digunakan para pendidik di zaman modern, yaitu bahwa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dimasa sekarang seorang murid dan guru berada dalam kebersamaan.
Pada perkembangan selanjutnya sikap tawadlu’ tersebut akan menyebabkan guru bersikap demokratis dalam menghadapi murid-muridnya. Sikap demokratis mengandung pengertian bahwa guru berusaha mengembangkan individu seoptimal mungkin. Guru tersebut menempatkan peranannya sebagai pemimpin dan pembimbing dalam proses belajar mengajar yang berlangsung dengan utuh dan fleksibel/luwes, dimana seluruh siswa terlibat di dalamnya.
Pelaksanaan prinsip demokratis di dalam kegiatan KBM dapat diwujudkan dalam bentuk timbal balik antara siswa dan siswa dan antara siswa dan guru. 6
Dalam interaksi tersebut seorang guru akan lebih banyak memberikan motivasi sehingga murid menjadi bersemangat dan bergairah serta merasa mempunyai harga diri, karena potensi, kemauan, prakarsa dan kreatifitasnya merasa dihargai. Dengan demikian sikap demokratis guru akan mendorong terciptanya belajar siswa aktif.
Selanjutnya Al-Mawardi mengatakan bahwa seorang guru selain harus bersikap ikhlas. Secara harfiah berarti menghindari riya’. Sedangkan dari segi istilah “ikhlas” berarti pembersihan hati dari segala dorongan yang dapat mengeruhkannya. 7 Keikhlasan ini ada kaitannya dengan motivasi seseorang. Diketahui bahwa guru yang mengajar adakalanya bermotif ekonomi, memenuhi harapan orang tua, dorongan teman atau mengharapkan status dan penghormatan dan lain-lain.
Diatas motif-motif tersebut, seorang guru harus mencintai tugasnya. Kecintaan ini akan tumbuh dan berkembang apabila keagungan, keindahan dan kemuliaan tugas guru itu sendiri benar-benar dapat dihayati. Namun demikian motif yang paling utama menurut Al-Mawardi adalah karena panggilan jiwanya untuk berbakti pada Allah SWT dengan tulus ikhlas. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa diantara akhlak yang harus dimiliki para gurulah menjadikan keridhoan dan pahala dari Allah SWT sebagai tujuan dalam melaksanakan tugas mengajar dan mendidik muridnya, bukan mengharapkan balasan berupa materi. 8
Pernyataan tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa Al-Mawardi menghendaki bahwa seorang guru benar-benar ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Menurut beliau bahwa tugas mendidik dan mengajar harus diorientasikan kepada tujuan yang luhur, yakni keridhoan dan pahala Allah. Sebagai konsekwensi dari orientasi semacam ini adalah pelaksanaan tugas guru dengan sebaik-baiknya serta penuh tanggung jawab.
Selanjutnya Al-Mawardi melarang seorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Dalam pandangannya bahwa mengajar dan mendidik merupakan aktifitas keilmuan, sementara ilmu itu sendiri mempunyai nilai dan kedudukan yang tinggi tidak dapat disejajarkan dengan materi. Dalam kaitan ini Al-Mawardi mengatakan bahwa sesungguhnya ilmu adalah puncak segala kepuasan dan pemuas segala keinginan. Siapa yang mempunyai niat ikhlas dalam ilmu, maka ia tidak akan mengharap mendapatkan balasan dari ilmu itu. 9
Dengan demikian tugas mendidik dan mengajar dalam pandangan Al-Mawardi merupakan luhur dan mulia. 10 Itulah sebabnya dalam mendidik dan mengajar seseorang harus semata-mata mengharapkan keridloan Allah. Apabila yang dituju dari tugas mengajar itu materi, maka ia akan mengalami kegoncangan ketika ia merasa bahwa kerja yang dipikulnya tidak seimbang dengan hasil yang diterimanya. Selain itu ia sangat peka terhadap hal-hal atau persoalan yang ditemukan dalam tugasnya, misalnya soal administrasi, kenaikan pangkat, hubungan dengan kepala sekolah dan sebagainya. Tindakan dan sikapnya terhadap anak didik akan terpengaruh pula. Hal ini selanjutnya dapat merusak atau mengurangi hasil atau nilai pendidikan yang diterima anak didik.11
Dengan kata lain, seorang guru dalam pandangan Al-Mawardi bukanlah orang yang berorientasi pada nilai ekonomi yang diterimanya sebagai akibat atau imbalan dari tugasnya. 12
Dari uraian tersebut kiranya dapat disimpulkan bahwa makna makna keiklasan seorang guru dalam mendidik adalah kesadaran akan pentingnya tugas, sehingga dengan kesadaran tersebut ia akan terdorong untuk mencapai hasil yang maksimal. Keikhlasan inilah yang akan menentukan keberhasilan tugas sehari-hari, tanpa merasakannya sebagai suatu beban, melainkan sebaliknya justru akan merasa bahagia, penuh harapan dan motivasi karena dari tugas mengajar dan mendidik itu ia kelak akan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah SWT.
Berdasarkan sikap ikhlas tersebut, maka seorang guru akan tampil melaksanakan tugasnya secara profesional. Hal ini ditandai oleh beberapa sikap sebagai berikut:
a. Selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti dalam hal penguasaan terhadap bahan pelajaran, pemilihan metode, penggunaan sumber dan media pengajaran, pengelolaan kelas dan lain sebagainya.
b. Disiplin terhadap peraturan dan waktu. Dalam keseluruhan hubungan sosial dan profesionalnya, seorang guru yang ikhlas akan bertindak tepat dalam janji dan penyelesaian tugas-tugasnya. Guru yang ikhlas akan mampu mengelola waktu bekerja dan waktu lainnya dengan perencanaan yang rasional (serta disiplin yang tinggi.
c. Penggunaan waktu luangnya akan diarahkan untuk kepentingan profesionalnya. Guru yang ikhlas dalam keseluruhan waktunya akan digunakan secara efisien, baik kaitannya dengan tugas keguruan, maupun dalam pengembangan kariernya, sehingga ia akan mencapai peningkatan. Bila sebagian waktu luangnya digunakan juga untuk hal-hal yang berada diluar bidang tugasnya, maka guru yang ikhlas akan menggunakannya secara bijaksana dan produktif serta menganggu tugas pokoknya.
d. Ketekunan, keuletan dalam bekerja. Guru yang ikhlas akan menyadari pentingnya ketekunan dan keuletan bekerja dalam pencapaian keberhasilan tugasnya. Oleh karenanya ia akan selalu berusaha menghadapi kegagalan tanpa putus asa dan mengatasi segala kesulitan dengan penuh kesabaran, sehingga akhirnya program pendidikan yang telah ditetapkan akan berjalan sebagaimana mestinya serta mencapai sasaran. Disamping itu, keuletan dan ketekunan yang ditampilkan guru sebagai pribadi yang utuh akan terbiasa melakukan sesuatu tugas atau pekerjaan yang ulet, tekun penuh kesungguhan dan ketelitian.
e. Memiliki daya inovasi dan kreasi yang tinggi. Hal ini timbul dari kesadaran dan akan semakin banyaknya tuntutan dan tantangan pendidikan masa mendatang sejalan dengan kemajuan IPTEK. Guru yang ikhlas akan terus mengevaluasi dan mengadakan perbaikan proses belajar mengajar yang telah digunakannya selama ia bertugas. Lebih jauh dari itu, guru tersebut akan mempelajari kelemahan dan kelebihan dari berbagai teori dan konsep yang dapat digunakan dalam proses KBM yang diterapkan para pendahulunya, untuk selanjutnya dilakukan penyempurnaan dan pengayaan. Mengingat tugas keguruan tidak dapat dipolakan secara mekanis, eksak, dan dengan resep tunggal serta tak terbatasnya variasi tindakan keguruan, maka guru dituntut mampu bertindak kreatif. 13
Dalam kaitannya dengan keikhlasan tersebut, Al-Mawardi juga berbicara tentang gaji dalam hubungan ini Al-Mawardi mengatakan bahwa diantara akhlak yang dimiliki seorang guru adalah membersihkan diri dari pekerjaan-pekerjaan syubhat dan menguras tenaga. Hendaknya ia merasa cukup atas penghasilan yang dicapai dengan mudah, daripada penghasilan yang dicapai dengan susah payah guru harus meninggalkan pekerjaan yang syubhat, karena pekerjaan syubhat akan berakibat dosa. Pahala lebih baik daripada dosa dan kemuliaan lebih pantas dibandingkan dengan kehinaan. 14
Pernyataan Al-Mawardi tersebut mengingatkan kepada kita tentang peranan dan figur strategis yang dimiliki seorang guru. Menurut Al-Mawardi bahwa seorang guru harus merupakan figur yang dicontoh oleh murid dan masyarakat. Oleh karena itu segala tingkah laku guru harus sesuai dan sejalan dengan norma dan nilai ajaran agama yang berasal dari wahyu.
Sejalan dengan uraian tersebut diatas, maka seorang guru harus tampil sebagai teladan yang baik. Usaha penanaman nilai-nilai kehidupan melalui pendidikan tidak akan berhasil, kecuali jika peranan guru tidak hanya sekadar komunikator nilai, melainkan sekaligus sebagai pelaku nilai yang menuntut adanya tanggung jawab dan kemampuan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang utuh. Dalam kaitan ini Al-Mawardi mengatakan hendaknya seorang guru menjadikan amal atas ilmu yang dimilikinya serta memotivasi diri untuk selalu berusaha memenuhi segala tuntutan ilmu. Janganlah ia termasuk golongan yang dinilai tuhan sebagai orang Yahudi yang diberi Taurat tetapi mereka tidak mengamalkannya, tak ubahnya seperti seekor keledai yang membawa kitab dipunggungnya. 15
Pernyataan Al-Mawardi tersebut mengisyaratkan bahwa bagian dari kegiatan mendidik adalah memberikan teladan. Oleh karena itu dalam memberikan ilmu kepada muridnya seorang guru dituntut untuk memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang diajarkan dalam kehidupan pribadinya, dengan kata lain seorang guru harus konsekuen serta konsisten dalam menjaga keharmonisan antara ucapan, larangan dan perintah dengan amal perbuatannya sendiri.
Selain tampil sebagai teladan seorang guru harus tampil sebagai penyayang. Guru merupakan aktor kedua setelah orang tua dalam memberikan modal dasar kepada anak-anaknya. Oleh karenanya guru sebagai pendidik profesional dituntut untuk berperan sebagai orang tua di sekolah. Dengan kedudukannya yang demikian, maka seorang guru harus memiliki sifat kasih sayang dan lemah lembut terhadap muridnya. Dalam hubungan ini Al-Mawardi mengatakan bahwa diantara akhlak seorang guru adalah berlaku kasar kepada muridnya tidak boleh menghina murid-muridnya, karena semua itu akan membuat mereka lebih tertarik terkesan dan bersemangat. 16
Kasih sayang dan lemah lembut yang ditujukan oleh guru tersebut, sejalan dengan psikologis manusia. Diketahui bahwa kegairahan dan semangat belajar seorang murid atau sebaliknya amat bergantung kepada adanya murid dan guru. Apabila guru bersikap kasar dan keras hati serta menggunakan cara-cara mengajar yang tidak tepat, seperti mengancam, menyesali, menghina, maka hal itu dapat menyebabkan para murid kurang senang kepada guru dan tidak mau menerima pelajaran yang diberikannya. Secara psikologis, manusia lebih suka diperlakukan dengan cara-cara yang lembut dan halus, daripada diperlakukan dengan cara keras dan kasar.
Selanjutnya seorang guru harus tampil sebagai motifator. Seorang murid akan belajar sungguh-sungguh dan ulet dengan mencurahkan pikiran, tenaga, biaya dan waktu yang cukup demi mencapai kesuksesan. Jika ia menyadari manfaat belajar, kegiatan itu dapat dirasakan sebagai suatu kebutuhan dan suatu hal yang penting baginya. Dalam kaitan ini diantara akhlak guru adalah tidak menghadapi muridnya dengan kasar, tidak menghilangkan minat dan semangatnya. Karena semua itu akan menghilangkan rasa simpati pada gurunya, dan pada gilirannya murid akan menolak pelajaran mereka. Jika ini terus berlangsung maka akan mengakibatkan kesia-siaan suatu ilmu yang disebabkan kelalaian para guru.
Peranan guru sebagai motifator penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Mengingat mengajar seperti yang dikatakan William Burton adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar.
Selanjutnya Al-Mawardi menegaskan tugas dan peran guru sebagai pembimbing. Bimbingan dapat diartikan sebagai kegiatan memantau murid dalam perkembangannya dengan jalan menciptakan lingkungan dan arahan sesuai dengan tujuan pendidikan. Sedangkan dari segi bentuknya bimbingan tersebut dapat berupa pemberian petunjuk, teladan, bantuan, latihan, penerangan, pengetahuan, pengertian, kecakapan dan keterampilan, nilai-nilai, norma dan sikap yang positif. Dalam kaitan ini Al-Mawardi mengatakan diantara kewajiban guru adalah memberikan nasihat atau bimbingan, kasih sayang, mempermudah jalan bagi muridnya, berusaha keras menolong dan membantu muridnya. Semua itu akan menghasilkan pahala yang besar, keluhuran namanya, serta semakin bertambah dan menyebar ilmunya. 17
Bentuk-bentuk bimbingan tersebut selanjutnya adalah dengan jalan membantu murid-murid untuk mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi hasil belajar serta kesempatan yang ada membantu proses sosialisasi dan sensivitas kepada kebutuhan orang lain, mengembangkan motif-motif intrinsik dalam belajar sehingga tercapai kemajuan pengajaran memberikan dorongan dalam pengembangan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan, mengembangkan nilai dan sikap secara menyeluruh serta perasaan sesuai dengan penerimaan diri sendiri, memahami tingkah laku manusia, membantu murid-murid untuk memperoleh kepuasan pribadi dan dalam penyesuaian diri secara maksimum terhadap masyarakat serta aspek pisik, mental dan sosial. 18
Dari uraian tersebut, terlihat bahwa pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan banyak terkonsentrasi pada masalah kepribadian seorang guru. Kepribadian inilah yang tampaknya diutamakan. Sebenarnya seorang guru bukanhanya harus memiliki kepribadian yang baik, tetapi harus memiliki latar belakang ilmu keguruan dan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran yang akan diajarkan. Namun jika hal tersebut dibandingkan dengan kepribadian, tampaknya Al-Mawardi lebih mengutamakan kepribadian. Hal ini dapat dipahami, karena penguasaan terhadap ilmu dan latar belakang pendidikan keguruan dapat dipelajari, sedangkan kepribadian merupakan hal yang sulit dibentuk.

*) Penulis adalah Dosen Tetap FAI dan mantan Dekan periode 2003-2007

END NOTE


End Note :

1. Musthofa, as Saqo, Adab al Dunya wa al Din, Beirut: Dar al Fikr, 1995 hal. 21

2. The Encyclopedia Of Religion vol. 9 hal. 290

3. Musthofa,

4. al Maududi, Adab al Dunya wa al Din, Beirut: Dar al Fikr, tt., hlm. 80

5. Ahmad Muhammad al Hufi, Min Ahlaq Nabi, Tnp:1968, hal. 283

6. Rusyan A. Tabrani, Kemampuan Guru dalam Proses Mengajar, Bandung: 1994,
hal.117

7. Ali bin Muhammad al Jurjaniy, Kitab al Ta’rifat, Beirut: Dar al Kutub, 1978, hal.13

8. al Maududiy, Adab…, hal.4

9. Muntasir M. Sholeh, Mencari Evidensi Islam, Jakarta: Tnp, 1985, hal.141

10. Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan al Ghazaliy, Jakarta: P3M, 1986,
hal.41

11. Zakiyah Derajat, Kepribadian Guru, Jakarta : Bulan Bintang, Cet. II, 1980, hal.14

12. Muntasir M. Sholeh, Mencari…,

13. Rusyan A. Tabrani, Kemampuan…,

14. al Maududi, Adab….,

15. al Maududi, Adab….,

16. Musthofa, as Saqo, Adab….,

17. Musthofa, as Saqo, Adab….,

18. Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.hal. 65

Selengkapnya.....

Oleh : M. Afifullah Hasyim

Adalah sebuah kebutuhan untuk memperbaharui kurikulum di sebuah institusi pendidikan, apalagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni tidak dapat dibendung di era globalisasi. Sejak dulu bangsa Indonesia telah memiliki cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, secara formal bangsa ini telah meletakkan pondasi hukum pada Preambule Undang-Undang Dasar 1945, kemudian dikuatkan lagi dengan Garis-garis Besar Haluan Negara, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, juga Peraturan Pemerintah.



ABSTRAK

Upaya Yang berkesinambungan pemerintah sebagai pembuat kebijakan dalam pendidikan untuk merevisi kurikulum merupakan bukti keseriusan bangsa membangun manusia seutuhnya.

Kata Kunci : Pembaharuan, Kurikulum, Pendidikan


PENDAHULUAN

Dunia pendidikan memiliki posisi menarik dan cukup signifikan dalam upaya membentuk peradaban serta budaya manusia, posisi tersebut adalah titik sentral di antara faktor-faktor yang membentuk budaya dan peradaban mereka (megatrends). Hanya saja untuk melakukan sebuah proses pendidikan, apalagi yang bersifat formal, terlalu banyak aspek yang mempengaruhi berhasil-tidaknya proses pendidikan tersebut. Satu di antara sekian banyak aspek adalah kurikulum.
Bila dikatakan kalau kurikulum merupakan jiwa dari pelaksanaan pendidikan, sebab ia diartikan sebagai keseluruhan yang utuh dari kegiatan akademik, dari seluruh rangkaian aktivitas yang dijalankan di sebuah institusi pendidikan, maka kurikulum selayaknya diorientasikan untuk pengembangan kepribadian peserta didik secara integral-komprehensif, baik segi kognisi, afeksi dan psikomotori pada diri peserta didik.
Secara historis-kronologis, kurikulum pendidikan di Indonesia sendiri telah mengalami berbagai revisi, tentu saja disesuaikan dengan mainstream yang berkembang pada saat itu. Banyak hal yang melandasi perkembangan arah pemikiran untuk memperbaharui kurikulum pendidikan, salah satu di antaranya adalah sentralisasi pendidikan, sehingga nantinya ruang gerak demokratisasi pendidikan mendapat porsi layak. Bagaimanapun juga kebijakan/policy pemerintahan dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional memiliki peranan dominan menentukan segala ‘kehendak’ penguasa, dalam konteks ini politisasi dunia pendidikan sangat eviden dalam fenomena kehidupan. Pendidikan hanya dijadikan lahan proyek basah yang menghasilkan rupiah, lebih ironis lagi pendidikan dijadikan indoktrinasi sebuah partai politik tertentu.
Bukti nyata adalah ‘kegagalan’ kurikulum 1994 dalam meningkatkan mutu/kualitas output pendidikan karena masih berbau teoritis dan diperparah dengan didaktik yang lebih memfokuskan pada hafalan, tidak pada pemahaman yang komprehensif. Mengutip apa yang dikatakan oleh mantan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Indra Djati Sidi, bahwa “...perbaikan SD yang dilakukan tidak hanya memperbaiki fisiknya (bangunan sekolah), namun juga manajemen dan kurikulum pembelajarannya. Sistem pembelajaran SD ke depan jelas harus menyenangkan. Setelah anak-anak merasa senang belajar, diharapkan derajat kesulitan yang dihadapi anak-anak dalam belajar akan bisa diatasi secara bertahap.”
Pada tahun 1994, tepatnya pada tanggal 2 Mei (Hari Pendidikan Nasional) pemerintah mencanangkan program Wajib Belajar 9 tahun, dengan dasar evaluasi yang kurang matang dari program sebelumnya (Wajib Belajar 6 tahun) pada tahun 1984, pemerintah kurang melengkapi sarana pendudkung baik yang bersifat fisik maupun non-fisik (kurikulum). Maka yang terjadi hanyalah pengejaran kualifikasi lulusan yang belajar sampai tingkatan dasar (Sekolah Menengah Pertama). Studi Wohletter dan kawan-kawan (1997) membuktikan bahwa inovasi pembelajaran itulah yang menjadi kunci peningkatan mutu pendidikan, kegiatan-kegiatan lain pada dasarnya ‘hanya’ wahana untuk mendorong guru agar mampu berinovasi dalam mengajar.
Inovasi pembelajaran selayaknya juga berimplikasi pada inovasi kurikulum sebagai keseluruhan rangkaian materi dan kegiatan belajar peserta didik. Plus-minus pelaksanaan kurikulum 1994 dan program Wajib Belajar 9 tahunnya menjadi bahan berharga evaluasi dan motivasi untuk merancang rencana pelajaran/kurikulum yang baru di tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi/KBK) beserta modifikasinya yang dinamai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

DASAR PEMAHAMAN KURIKULUM

Istilah “Kurikulum” berasal dari bahasa Latin, yakni curriculum yang berarti a running course, dalam bahasa Perancis courier berarti to run = berlari. Dari istilah ini kemudian digunakan untuk menempuh sejumlah matapelajaran (courses) demi memperoleh suatu gelar penghargaan akademik, pada akhirnya ada yang menamakan ijazah.
Pada perkembangan selanjutnya terjadi friksi dalam mendefinisikan istilah kurikulum sesuai dengan persepsi para tokoh yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Secara garis besar pemahaman kurikulum bisa dipandang dalam perspektif tradisional, yakni kurikulum diartikan sejumlah matapelajaran yang diajarkan di sekolah, sedangkan dalam pandangan modern berarti seluruh aktivitas yang dilakukan oleh siswa di dalam dan luar sekolah sebagai kegiatan pendidikan dan tidak hanya sebatas matapelajaran atau proses belajar-mengajar untuk mentransfer matapelajaran.
Pandangan tradisional tentang pengertian kurikulum sesuai dengan pendapat Ralp Tyler (1949) bahwa semua pelajaran-pelajaran murid yang direncanakan dan dilakukan oleh pihak sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikannya. Lain halnya dengan apa yang dikemukakan oleh A. Glatthom (1987) bahwa kurikulum dimaknai sebagai rencana-rencana yang dibuat untuk membimbing dalam belajar di sekolah, yang biasanya meliputi dokumen, level secara umum, dan aktualisasi dari rencana-rencana itu di kelas, sebagai pengalaman murid yang telah dicatat dan ditulis oleh seorang ahli; pengalaman-pengalaman tersebut ditempatkan dalam lingkungan belajar yang juga mempengaruhi apa yang dipelajari.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai makna kurikulum, bukan berarti tidak terdapat pengertian yang bisa diterima oleh kebanyakan orang, dan pengertian tersebut mengerucut pada istilah populer the curriculum of school is all the experience that pupils have under guidance of school (segala pengalaman anak di bawah bimbingan sekolah).
Disparitas model pengembangannyapun terjadi antarpakar, dari beberapa pendapat para ahli dapat digolongkan menjadi; model pendekatan Rasional Obyektif, model pendekatan lingkaran (a cycle process), model pendekatan interaktif/dinamis, dan model pendekatan integrasi. Keberagaman model lebih tertuju pada bentuk, kelemahan, dan kelebihan masing-masing. Tetapi secara substantif semua kurikulum memiliki komponen; tujuan, bahan, proses belajar-mengajar, dan penilaian atau evaluasi yang sama. Terpenting dari itu semua bahwa dalam pengembangan kurikulum tidak pernah terlepas dari asas-asas yang terkandung dalam diri kurikulum itu sendiri, antara lain; asas filosofis, sosiologis, psikologis dan organisatoris.

ULAS ULANG KURIKULUM 1994

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, perkembangan masyarakat, dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, perlu diimbangi dengan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan. Sebab pendidikan pada hakikatnya adalah “...meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggungjawab atas pembangunan bangsa” (GBHN 1993 – 1998). Peningkatan penyelenggaraan dan penyempurnaan pendidikan dilakukan dengan berbagai upaya, yaitu mulai dari pembenahan sistem pendidikan nasional, pengaturan jenjang dan satuan pendidikan, sampai dengan pemantapan kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan Indonesia sudah tergolong ‘mantap’ sebab secara yuridis sudah diundangkan lewat Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989. Dengan demikian, hal-hal yang bersangkut paut dengan pendidikan harus ‘mengacu’ kepada butir-butir yang terdapat dalam Sistem Pendidikan Nasional tersebut.
Latar belakang sosio-kultur bangsa Indonesia yang sedang dalam fase perkembangan, memicu perubahan sekaligus pembenahan yang bersifat inovatif-kreatif. Apalagi dipicu dan dipacu oleh kompetisi antarnegara yang semakin sengit. Sebagai wahana pemberdayaan manusia terutama aspek kognisi, afeksi dan psikomotorinya, pendidikan dimanfatkan seoptimalmungkin membentuk kepribadian manusia yang utuh dan unggul lewat kurikulum. Bahan-bahan / materi yang tertuang di dalamnya diorientasikan pada peningkatan mutu-kualitas manusia Indonesia sedinimungkin semenjak dari pendidikan tingkat dasar.
Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai ajaran 1994-1995 merupakan pembenahan atas pelaksanaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan perkembangan dan keadaan masyarakat saat itu, khususnya yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, kebutuhan pembangunan dan gencarnya arus globalisasi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum 1984 itu sendiri. Upaya pembaharuan kurikulum pendidikan nampak saat diadakannya serangkaian Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun 1986 sampai 1989.
Pembenahan kurikulum ini juga didorong oleh amanat GBHN 1988 yang intinya; 1) perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, 2) perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan dasar dari enam tahun menjadi sembilan tahun, dan 3) perlunya segera dilahirkan undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Butir 1 dan 2 direalisasikan pada tahun ajaran 1994 – 1995 (bersamaan dengan pelaksanaan kurikulum 1994), sedang butir 3 diundangkan pada tanggal 27 Maret 1989 dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989. Atas dasar yang terakhir ini, pembenahan kurikulum 1994 didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya, yang pada kurikulum-kurikulum sebelumnya tidak ada. Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Sisdiknas sebagai dasar pembenahan kurikulum adalah yang menyangkut tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional, fungsi dan tujuan pendidikan pada setiap jenjang dan jenis pendidikan sekolah, dan adanya muatan dalam kurikulum (muatan nasional dan muatan lokal).
Untuk melengkapi pemahaman terhadap kurikulum 1994, di bawah ini dikemukakan contoh hal-hal baru sekaligus sebagai ciri khas atau karakteristik Kurikulum 1994 yang tidak ada pada kurikulum sebelumnya.
Hal-hal baru dalam Kurikulum 1994 Sekolah Menengah Umum:
1. Sekolah Menengah Umum merupakan bentuk satuan pendidikan menengah selain Sekolah Menengah Kejuruan.
2. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya (1984), kurikulum 1994 Sekolah Menengah Umum menggunakan sistem catur wulan. Dengan demikian, satu tahun terdiri dari tiga catur wulan.
3. Program pengajaran Sekolah Menengah Umum terbagi menjadi dua: program pengajaran umum dan program pengajaran khusus. Program pengajaran umum diikuti oleh siswa kelas 1 dan 2, sedangkang program pengajaran khusus diikuti oleh siswa kelas 3. program pengajaran umum selama 2 tahun dirasa cukup memadai untuk membekali pengetahuan dan kemampuan serta pengalaman siswa guna menentukan pilihan khusus.
4. Program pengajaran khusus terdiri dari tiga jenis, yaitu ; 1) program Bahasa, 2) program Ilmu Pengetahuan Alam, dan 3) program Ilmu Pengetahuan Sosial. Ketiga jenis program sama derajatnya. Yang membedakan adalah bahan atau bidang kajiannya. Program pengajaran khusus ini diikuti sesuai dengan kemampuan dan minat siswa.
5. Pendidikan Sekolah Menengah Umum merupakan pilihan terminal. Tamatan Sekolah Menengah Umum mendapat Sertifikat Tanda Tamat Belajar.

MEMAHAMI KURIKULUM 2004

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan (kompetensi) melakukan tugas-tugas dengan standar performan tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap, dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan tanggung jawab.
KBK memfokuskan pada penguasaan kompetensi tertentu dan bisa diamati dalam tindakan, walaupun disadari tidak semua kapabilitas dapat dicermati, seperti pengambilan keputusan sebelum perbuatan dilaksanakan. Dalam kurikulum ini mengandung rasionalitas, sebab setiap aktivitas anak didik dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab atas landasan berpikir yang berupa pertanyaan “mengapa dan “bagaimana”. Di sini tampak bahwa sejak awal anak didik berada dalam posisi aktif, sadar dengan apa yang diperbuat dalam rangka meningkatkan kualitas diri.
Perumusan kurikulum 2004 dilandaskan juga pada pembacaan obyektif kondisi anak didik yang belum meraih seluruh potensinya dari proses pembelajaran di sekolah. Siswa mempelajari fakta dan gagasan-gagasan tetapi belum dapat menggunakannya secara efektif. Di dalam era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan.
Pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yng muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan kurikulum yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif, guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. Dalam kerangka inilah, KBK tampil sebagai alternatif kurikulum yang menawarkan konsep otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan, mutu, efesiensi pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik.
Lebih lanjut KBK memiliki karakteristik yang mencakup seleksi kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi; dan pengembangan sistem pembelajaran. Di samping itu KBK memilki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta didik, pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan individu personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan, peserta dapat dinilai kompetensinya kapan saja bila mereka telah siap, dan dalam pembelajaran peserta didik dapat maju sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individu maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (leraning outcomes) dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasi enam karakteristik KBK, yaitu; 1) sistem belajar dengan modul, 2) menggunakan keseluruhan sumber belajar, 3) pengalaman lapangan, 4) strategi individu personal, 5) kemudahan belajar, dan 6) belajar tuntas.

KOMPARASI ANTARA KURIKULUM 1994 DAN 2004

Komparasi keduanya pernah digambarkan dalam sebuah tabel oleh Poedjinoegroho (2003) sebagai berikut:
Kurikulum Lama/1994 Perbedaan Kurikulum Baru/2004
Materi pembelajaran Pendekatan Kompetensi: lulusan, dasar, standar
-Pusat: Puskurnas 80 %-Daerah: Kurmulok 20 % Otoritas -Pusat: standar-Daerah: silabusUnggulan daerahUnggulan sekolah
Banyak pengulangan “Overload” Materi (Pengetahuan) -Komprehensif-Berkelanjutan-Kontekstual-Sedikit tapi mendalam
Guru dan apa yang harus dilakukan Pusat PBM Peserta didik dan apa yang harus dilakukan
-Angka: menjawab tes-Hasil Orientasi -Praksis: untuk hidup-Proses
-Pengajar/pendidik-Sumber belajar Guru -Pendampingan/rekan: mengajak eksplorasi-Fasilitator
Searah: subyek-obyek (informatif) Relasi Dialogis: subyek-subyek
Catur wulan: tiga Tahun Pembelajaran Semester: dua
42 jam pelajaran/minggu Hari Efektif 36 jam pelajaran/minggu

· Aspek Pendekatan
Kurikulum lama menggunakan pendekatan isi/materi sejumlah pelajaran yang wajib ditransfer pada diri anak didik. Siswa dianggap sukses bila menguasai seluruh matapelajaran. Hal ini sesuai dengan teori Tabularasa-nya John Locke.
Berbeda dengan kurikulum baru yang lebih menekankan standar kompetensi, kemudian dibuat indikator-indikator standar yang harus dimilki siswa.

· Aspek Otoritas Pengembangan
Dalam kurikulum 1994, pemerintah pusat lebih mendominasi materi pembelajaran dengan muatan kurikulum nasional sebanyak 80 %, sedangkan pihak daerah yang pada hakikatnya mengetahui keadaan, kebutuhan dan potensi wilayahnya hanya mendapat kesempatan 20 %.
Semangat desentralisasi menjadikan pengembangankurikulum 2004 beralih dari pusat ke daerah. Otoritas pengembangan kurikulum menjadi berbalik dari semula yang ada.

· Aspek Isi/Materi
Pada kurikulum 1994 materi yang diberikan terkesan overload, sehingga yang terjadi pengulangan-pengulangan materi. Bukan saja hal ini menyebabkan pemborosan waktu, tenaga dan pikiran, namun juga kebosanan/kejenuhan pada diri anak mencapai titik kulminasinya.
Wajah materi dalam KBK lebih menampakkan segi komprehensifitas, berkesinambungan/berkelanjutan, kontekstualitas, dan intensitas. Dalam hal ini guru mempunyai hak untuk mempertimbangkan materi/bahan yang dianggap perlu atau sebaliknya disampaikan kepada anak didik.

· Aspek Pusat Proses Belajar Mengajar
Keberhasilan PBM dalam kurikulum lama lebih banyak ditentukan oleh guru dan apa yang harus dilakukan, sebab sejak awal posisi guru berada pada satu-satunya sumber belajar. Keadaan seperti ini menjadikan anak didik pasif, menerima apa adanya kenyataan yang terjadi di dalam kelas.
Sedang PBM yang berlangsung di KBK dialihkan kepada kehendak anak didik, sejak awal mereka diberi kemerdekaan untuk menentukan apa yang harus dilakukan guna menunjang pemahaman, perolehan dan eksplorasi keterampilan dari potensi yang dimilikinya.

· Aspek Orientasi
Orientasi kurikulum 1994 lebih ditekankan pada perolehan hasil tes yang tinggi, dalam raport diwujudkan dengan bentuk angka-angka. Bagi raport anak didik yang tertulis angka-angka tinggi dari hasil ujian dinyatakan sebagai anak yang berprestasi.
Diharapkan dalam KBK orientasi dialihkan ke pembekalan anak didik dengan berbagai macam kompetensi. Pengembangan ranah psikomotorik dan afeksi mendapat porsi seimbang dan cukup dalam kurikulum baru ini.

· Aspek Guru
Di KBK, guru menjadi satu-satunya sumber belajar saat PBM berlangsung, dengan keadaan seperti ini, keaktifan siswa berkurang. Justru terjadi pemasungan kreativitas terselubung, sentra pembelajaran ada pada seorang guru.
Berbeda dengan posisi guru di KBK, ia bukan lagi satu-satunya sumber belajar/pengetahuan, namun seluruh konteks kehidupan dapat dijadikan sumber belajar.

· Aspek Relasi
Nuansa pembelajaran dalam Kurikulum 1994 bersifat informatif, sebab sejak semula guru menjadi satu-satunya sumber belajar. Metode didaktika yang sering tampak dipergunakan adalah ceramah, maka yang terjadi situasi monologis, guru lebih aktif memberikan materi dan siswa menjadi pasif lebih banyak mendengar.
Sebagai kurikulum baru, KBK lebih memilih sifat relasi antara guru dan siswa sebagai subyek-subyek. Alam semacam ini memberikan kebebasan kepada siapapun mengekspresikan ide-ide, gagasan ataupun pendapat, tidak memandang kedudukan dan jabatan seseorang.

· Aspek Tahun Pembelajaran
Bila dalam kurikulum lama menggunakan tahun pembelajaran terbagi dalam catur wulan, maka dalam satu tahun ada tiga masa utama belajar aktif. Dengan implikasi masa ujian juga menjadi tiga kali (Tes Tahap Belajar Catur Wulan I, II dan III). Ini tidak lepas dari orientasi awal pembelajaran yang bersifat teoritis, mencurahkan materi/bahan sebanyak mungkin pada siswa.
Maka berbeda dengan KBK yang menitikberatkan pada penguasaan kompetensi. Jadinya masa pembelajaran hanya dibagi menjadi dua semester dalam setahun. Implikasinya sekolah hanya mengadakan ujian dua kali juga.

· Aspek Hari Efeketif
Pada Kurikulum 1994 anak didik wajib masuk kelas selama 6 hari / minggu dan menghabiskan 42 jam pelajaran. Hanya tersisa satu hari bagi anak didik untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, belum lagi bagi mereka yang menempuh dua jenis pendidikan. Hampir seharian penuh waktunya dihabiskan di ruang – ruang kelas, pagi sampai siang hari dimanfaatkan belajar di Seskolah Dasar (SD), sedang siang sampai sore hari digunakan belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI), amat melelahkan dan cukup membosankan.
Perubahan pun terjadi pada Kurikulum 2004, hari efektif di dalamnya hanya berlaku 5 hari / minggu dan hanya menempuh 36 jam pelajaran. Dengan demikian alokasi waktu bagi anak didik untuk mengembangkan kepribadian secara utuh lebih banyak diperoleh dan lebih leluasa berekspresi. Bila pengetahuan di sekolah tidak bersikap inklusif terhadap perubahan, niscaya akan tertinggal bahkan sampai pada tarap proses alienasi. Pendidikan yang diterima di sekolah mungkin menjadi sesuatu aktivitas yang subversif atau konservatif, di mana sekolah memang bisa menjadi awalan yang terlambat dan akhiran yang terlalu dini. Di antara masa-masa sekolah, proses pendidikan akan berhenti selama liburan-liburan dan hari-hari libur, serta sangat bermurah hati untuk memaklumi anak didik manakala mereka sakit.

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Adalah kurikulum Operasional dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), di samping UU Sisdiknas No. 20/2003 yang melandasinya, juga Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), di dalamnya –salah satunya- menjelaskan delapan standar, darinya pemerintah baru menyelesaikan dua standar, yakni Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang disahkan lewat Permendiknas No. 22/2006, dan Standar Kelulusan Kompetensi (SKL) disahkan juga lewat Permendiknas No.23/2006. Berdasarkan Peraturan Menteri tersebut, pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam kurikulum operasional tingkat satuan pendidikan, merupakan tanggung jawab satuan pendidikan masing-masing.
Kurikulum ini mencoba memberikan jalan penerapan apa yang dikehendaki oleh KBK, nampak dari semangat yang diusung tidak lepas dari unsur kompetensi. Menghindari kebingungan di antara para praktisi pendidikan, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuntun pada tahap praktis/operasional sebuah pembelajaran, walaupun tidak menjamin segala persoalan pendidikan di sekolah hanya bisa diperjelas dengan kata-kata operasional sebagai indikator pembelajaran. Paling tidak, tingkat keberhasilan sebuah pembelajaran dapat diukur dengan standar yang telah ditentukan.
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan ( otonomi ) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Demi mempermudah pelaksanaan KTSP, setiap matapelajaran pada tiap satuan pendidikan telah terkonsep Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya (SKKD), misalnya isi SKKD dari matapelajaran IPS untuk SMP/MTs Kelas VII Semester I :

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami lingkungan kehidupan manusia 1.1 mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan1.2 Mendeskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia
2. Memahami kehidupan sosial manusia 2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial2.2 Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian2.3 Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
3. Memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan 3.1 Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam kaitannya dengan usaha memenuhi kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia3.2 Mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari

Dalam penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tetntu saja sebelumnya dilengkapi dengan Latar Belakang, Tujuan, dan Ruang Lingkup.
Dari contoh isi SKKD diatas kemudian dijabarkan dalam indikator kompetensi, meliputi aspek Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.

PENUTUP
Upaya pembaharuan sebuah kurikulum dengan nama apapun, pihak pengembang kurikulum tidak bisa lepas begitu saja dari tujuan pendidikan. Sekolah hanya institusi formal yang mengarahkan anak didik pada bentuk belum sepenuhnya sempurna, masih millieu yang ikut andil besar dalam mempengaruhi perkembangannya. Aspek lingkungan dan berbagai variannya ini menjadi bahan pertimbangan tersendiri mengotak-atik sebuah kurikulum.
Kurikulum yang baik tentu akan mendongkrak kualitas anak bangsa, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh praktisi, dievaluasi, dikembangkan secara berkala. Dan yang juga tidak kalah penting adalah kurikulum tidak memperdaya Guru dan Siswa tapi memberdayakannya.

*) Afifullah Hasyim adalah Dosen Luar Biasa di FAI UNISMA
CATATAN AKHIR
1. Prihadiyoko Imam & Saptono Hariadi, 2003, Hanya Menghafal Tidak Berlatih, dikutip dari Harian Kompas

2. Poedjinoegroho Baskoro, April 2003, KBK Memberdaya atau Memperdaya Guru?, dikutip dari Harian Kompas

3. Idi Abdullah, Drs., M.Ed., 1999, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Jakarta, Gaya Media Pratama, hal. 3-4

4. Ibid, hal. 6

5. Muslich Masnur, Drs., 1994, Dasar – dasar Pemahaman Kurikulum 1994, Malang, YA 3, hal. 3

6. Ibid, hal. 4

7. Mulyasa E., Dr., M.Pd., 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung, Rosda, hal. 23

8. Ibid, hal. 26

9. Kata-kata Operasional Aspek Kognitif antara lain untuk kompetensi pengetahuan (menyebutkan, menuliskan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisi, mencocokkan, memberi nama, memberi label,melukiskan), untuk kompetensi pemahaman (menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasi, menguraikan...............) selengkapnya bisa dilihat di Mulyasa E., Dr., M.Ed., 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Suatu Panduan Praktis, Bandung, Rosda, hal. 139 – 141

10. Ibid, hal. 125 - 126

Selengkapnya.....

There was an error in this gadget

Translator



English French German Spain Dutch Arabic

Recent Post

DAFTAR ISI BLOG

1.Blog Sejenis
2.Line Website UNISMA
3.Jam’ul Qur’an
4.Hadis Pra Modifikasi
5.Kampus Pusat Budaya
6.Qawaidul Fiqhiyyah
7.Sarjana Pengangguran
8.Penyimpangan dalam Penafsiran al Qur’an
9.Implementasi Ilmu Islam dalam Peguruan Tinggi Islam
10.Pemikiran Ibn Miskawaih Dlm Pendidikan
11.Otentisitas Hadis versi Orientalis
12.Maqashid al Tasyri’
13.Sejarah Peradilan Islam
14.Mengais Kembali Konsep Turats
15.Sufi Martir Ain Qudhat
16.Tema Pokok al Qur’an
17.Metodologi Penelitian
18.Nilai Maslahat dan HAM dalam Maqashid al Tasyri’
19.Pembaharuan Kurikulum Dasar Menengah
20.Pemikiran al Mawardi
21.Tasawwuf al Falsafi
22.Profil Dosen FAI UNISMA
23.Download Bahan Kuliah
24.Ikhtilaf al Hadis Part. I
25.Ikhtilaf al Hadis Part. II
26.Filsafat Ibn Rusyd
27.Inkar as Sunnah I
28.IInkar as Sunnah Part. II
29.Beasiswa Kuliah Gratis
30.Download MAteri Perkuliahan
31.Uji Timbang Blog
32.Award Pertama Buat FAI
33.Hakikat Manusia : Sebuah Renungan
34.Award oh Award
35.Pengumuman Mengikuti Beasiswa
36. Blog-ku Istana-ku
37.Kuliah Umum di FAI Unisma
38. Info LAnjutan Beasiswa
39. Dukungan Untuk Sang Guru
40. Zikir Akbar di Unisma
41.Ujian Seleksi Kuliah Beasiswa
42. Habil dan Qabil di Era Global
43. Suasana Ujian Seleksi Beasiswa
44. Mengapa aku harus memilih?
45.Pengumuman Hasil Ujian
46. award Dari Sobat Blogger
47. Psikotest Mahasiwa Beasiswa
48. Award Maning
49.Award Blogging 4 Earth
50. Pengumuman Hasil Ujian
51.Award Motivasi & Perilaku
52. Sistem Pembekalan Akademik
53. Award Tiad aPernah Berakhir
54. Light Up The Noght
55.Cap Jempol Darah
56.Awardmu-Awardku-AwardKita
57.Anti Mati Gaya Open Minded
58.Award Is Never Die
59.KEM tingkat Nasional
60.Pengumuman Kuliah Umum
61.Virus Malas Ngeblog
62.Pengumuman Hasil Seleksi Ujian
63. Prote Hasil Pilpres
64. Ramadhan Itu Datang Lagi
65.Orientasi Pendidikan MABA UNISMA
66.Download PPT HAM dan Gender
67.Gus Dur:Sang Guru Bangsa
68.Gerakan Fundamentalisme Islam
69.Download E-Book
70.FAI UNISMA
71.Umar Ibn al Khaththab
72.Beasiswa Kuliah Prodi PGMI
73.Ikhtilaf al Hadis Part. II
74.Gelar Doa sivitas FAI UNISMA
75.Pengumuman Pelaksanaan Tes Ujian Prodi PGMI
76.Pengumuman Hasil Tes Ujian Prodi PGMI
77.Beasiswa S2 Prodi Hukum Islam PPS UNISMA
78.Selamat Jalan Akhi
79.Pesta Demokrasi
80.Ordik MABA UNISMA
81.Islam Rahmat Lil Alamin
82.Beasiswa Bagi Guru PAI di Kemendiknas
83.Hasil Akreditasi PGMI
84.Rekonstruksi Kurikulum FAI UNISMA
85.Beasiswa Perkuliahan Prodi PAI
86. Ketentuan Lomba Lustrum
87. Pengumuman Hasil Psikotes
88. Beasiswa Untuk Guru PAI
89. Islam dan Ilmu Pengetahuan
90. Pengumuman Kelulusan Penerima Beasiswa
91. Pengumuman Hasil Seleksi Ujian Tulis
92. Maqamat dan Ahwal al Sufiyah
93. Ikhtilah Ulama