Jurnal Ilmiah

Panduan SOS

Prog. SOS FAI

Prog. SOS FAI
Sistem Informasi Akademik Mahasiswa FAI Berbasis Online

Popular Posts

Followers

CELEBRITY

Tamu-nya FAI

Oleh : Khoirul Asfiyak

Abad ke-20 atau tepatnya sejak abad ke- 19 merupakan fase ketiga dari rentang perjalanan muslim, yakni fase kebangkitan kembali ummat Islam. Pada fase ini muncul beberapa tokoh muslim yang berusaha memberi penegasan kembali terhadap ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah budaya dan peradaban modern (global) . Dalam mencapai tujuan ini mereka mengarah kepada dua jalan yang berbeda yaitu Revivalisme-Konsevatif (dalam konteks politik disebut sebagai Fundamentalisme) yang menutup mata dari kelebihan peradaban Barat dan Reformasi – Radikalisme terhadap ajaran Islam-historis dengan mengadopsi beberapa metode Barat.



Abad ke-20 atau tepatnya sejak abad ke- 19 merupakan fase ketiga dari rentang perjalanan muslim, yakni fase kebangkitan kembali ummat Islam. Pada fase ini muncul beberapa tokoh muslim yang berusaha memberi penegasan kembali terhadap ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah budaya dan peradaban modern (global) . Dalam mencapai tujuan ini mereka mengarah kepada dua jalan yang berbeda yaitu Revivalisme-Konsevatif (dalam konteks politik disebut sebagai Fundamentalisme) yang menutup mata dari kelebihan peradaban Barat dan Reformasi – Radikalisme terhadap ajaran Islam-historis dengan mengadopsi beberapa metode Barat.
Dalam konteks yang terakhir ini, dapat dicatat beberapa ilmuwan muslim yang masih terlibat secara intens dalam menggulirkan ide-idenya, seperti Hasan Hanafi dari Mesir yang kental dengan Kalam “Antroposentrisme” Arkoun dari Aljazair yang kental dengan proyek “Islamologi Terapan” yang memanfaatkan teori-teori ilmu sosial dan humaniora modern (terutama sejarah, antropologi, dan linguistik) serta Abdullah Ahmed an Na’im dari Sudan yang menawarkan model “ Syari’ah Modern”. Ketiganya mencoba mengaktualkan kembali teks-teks keagamaan yang selama berabad-abad memfosil dalam tradisi pemikiran ulama periode klasik dan periode pertengahan. Makalah sederhana ini sesungguhnya mencoba untuk memetakan kembali diskursus yang berkembang di kalangan para modernis dan penentangnya (kelompok Tradisionalis-Ortodoks).
Dalam pandangan kelompok tradisonalis – ortodoks teks-teks keagamaan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Tuhan telah mengkomunikasikan kehendakNya kepada manusia melalui para Nabi. Oleh karena itu Dia memakai bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia, dan mengartikulasikan kalimat-kalimatNya dalam susunan sintaksis, retorika, dan kosa-kataNya sendiri. Tugas para Nabi seperti Musa, Isa dan Muhammad SAW hanyalah menyampaikan sebuah wacana yang diwahyukan kepada mereka sebagai bagian dari ucapan-ucapanNya yang tidak diciptakan, tidak terbatas dan co-eternal.
b. Tradisi ini menegaskan peran malaikat Jibril sebagai instrumen perantara (Mediasi) antara Tuhan dengan Nabi Muhammad SAW.
c. Wahyu yang termaktub dalam Al Qur’an adalah wahyu yang paling akhir melengkapi wahyu-wahyu sebelumnya yang diturunkan kepada Musa, Isa dan mengoreksi teks-teks dalam Taurat dan Injil
d. Wahyu yang dimanifestasikan dalam al Qur’an memenuhi kebutuhan orang-orang beriman akan tetapi tidak mengungkapkan seluruh kata-kata Tuhan sebagaimana tercantum dalam Kitab Langit (Lauh al Mahfudz)
e. Konsep tentang Kitab Langit yang sangat kuat ditekankan dalam al Qur’an, adalah salah satu simbol primordial dari angan-angan keagamaan yang umum terdapat dalam masyarakat Timur Tengah Kuno.
f. Pengumpulan al Qur’an ke dalam suatu bentuk fisik, yang biasa disebut mushaf yang seluruhnya terkondisikan oleh prosedur-prosedur manusiawi yang tidak sempurna tidak menghalangi elaborasi teori tentang ucapan Tuhan yang tidak diciptakan. Wahyu lengkap yang tercantum dalam al Qur’an, berakibat pada akses manusia yang langsung dan otentik terhadap ungkapan-ungkapan Ilahiyah yang bersifat Transendental
Dari pernyataan di atas dapat dikategorisasikan adanya dua level wahyu: Pertama, Level kata-kata Tuhan yang dihubungkan dengan Kitab Langit yang menjamin otentisitas dan Transendensi kitab yang ada di Lauh al Mahfuz, Kedua, adalah level literatur-literatur sains Islam yang dihasilkan oleh generasi-generasi penerus ulama. Dalam bahasa yang agak berbeda Arkoun menyebut bahwa wahyu dalam level pertama biasa disebut dengan Tradisi/Turats (dengan T besar) dan level kedua dengan sebutan tradisi/turats (dengan t kecil). Wahyu pada level pertama selalu difahami dan dipersepsi sebagai tradisi yang ideal, yang datang dari Tuhan dan tidak dapat diubah-ubah oleh kejadian historis. Tradisi semacam ini adalah abadi dan absolut. Sehingga tidak ada ruang bagi manusia untuk merubahnya dalam tradisi kehidupan sehari-hari. Sementara tradisi kedua dibentuk oleh sejarah dan budaya manusia, baik yang merupakan warisan turun temurun sepanjang sejarah kehidupan , atau penafsiran manusia atas wahyu Tuhan lewat teks-teks kitab suci.
Membaca turats adalah membaca teks, seluruh jenis teks. Peradaban Muslim adalah perdaban teks, sehingga perlu ada pembongkaran-poembongkaran sejauh menyangkut metodologi-epistemologi maupun menyangkut materi perdaban yang dihasilkannya. Karena turats tersebut dibentuk dan dibakukan dalam sejarah, ia-pun harus dibaca melalui kerangka sejarah, inilah historisisme. Menurut Arkoun, salah satu tujuan membaca teks, teks suci khususnya, adalah untuk mengapresiasi teks tersebut di tengah-tengah perubahan yang terus terjadi. Dengan kata lain ajaran-ajaran agama yang berasal dari teks suci tersebut harus selalu sesuai dan tidak bertentangan dengan segala keadaan.
Untuk itu, umat Islam perlu melakukan reaktualisasi dan reinterpretasi ajaran-ajara Islam, sehingga Islam dapat kembali memerankan peran rasional dan empirisnya. Langkah-langkah yang bisa ditempuh dalam upaya tersebut antara lain dengan:
Pertama, perlunya dikembangkan penafsiran sosial-struktural lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu di dalam al Aqur’an.
Kedua, mengubah cara berfikir subyektif ke cara berfikir obyektif.Tujuan dilakukannya reorientasi berfikir secara obyektif ini adalah untuk menyuguhkan Islam pada cita-cita Obyektif
Ketiga, mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Selama ini al Qur’an sering ditafsirkan secara normatif dan kurang memperhatikan adanya kemungkinan untuk mengembangkan norma-norma itu menjadi kerngka-kerangka teori keilmuan.
Keempat, mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis. Selama ini pemahmaan kita mengenai kisah-kisah yang ada dalam al qur’an cenderug sangat bersifat ahistoris, padahal maksud al qur’an menceritakan kisah-kiasah itu adalah justru agar kita berfikir historis.
Kelima, merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang bersifat umum menjadi formulasi-formulasi yang bersifat spesifik dan empiris.
Bagi kalangan modernis/posmo - upaya tersebut di atas akan sulit terlaksana jika masayarakat tidak melakukan upaya demitologisasi, demistikisasi dan deideologisasi bangunan-bangunan pemikiran masa lampau. Jika Arkoun menawarkan Analisa Historis, Analisa Antropologis dan Analisa Epistemologis, Abdullah Ahmed an Na’im menawarkan pendekatan Historis – Kritis dan Komparatif lewat metodologi Evolutif dari prinsip Nasikh mansukh terhadap tradisi/turats. Sementara Hasan Hanafi mengusung proyek “Kiri Islam” untuk membenahi kondisi ummat islam yang terbelakang dari berbagi segi itu. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam . Pilar pertama adalah revitalisasi khasanah Islam Klasik, dengan pendekatan rasionalisme yang diarahkan pada problem-problem kekinian dan kedisinian. Pilar kedua adalah perlunya menentang peradaban Barat, dengan cara menggiatkan kajian-kajian di sekitar persoalan Oksidentalisme sebagai lawan dari kegaitan Orientalisme. Dan Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia, beliau mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks dan mengusulkan suatu metode tertentu dalam melihat realitas dunia kontemporer. Berbeda dengan para tokoh pos-mo lainnya Hanafi menyikapi berbeda terhadap tradisi keagamaan masa lampau. Tradisi (turats) baginya adalah elemen-elemen budaya , kesadaran berfikir, serta potensi yang hidup, dan masih terpendam dalm tanggungjawab generasi sesudahnya. Dia adalah sebagai dasar argumentatif dan sebagai pembentuk “pandangan dunia” serta membimbing perilaku bagi setiap generasi mendatang. Selama ini tradisi / turats telah dicemari dan terhegemoni oleh feodalisme dan menjadi kekuatan kekuasaan yang berkedok agama, sehingga perlu direvitalisasi menjadi kekuatan yang membebaskan.
Arkoun, Hanafi dan an Na’im serta tokoh-tokoh pembaharu lainnya, sepakat untuk melakukan dekonstruksi (yang ide dasarnya dipinjam dari Jaqcues Derrida) dan rekonstruksi terhadap tradisi keilmuan Islam klasik. Dekonstruksi-Rekonstruksi itu diterapkan ke dalam teks-teks keagamaan dan ideologi melalui pemisahan hubungan monolinier antara teks dengan tafsirannya. Keyakinan bahwa ada hubungan final antara suatu teks dengan tafsir tertentu, harus dibongkar !, karena keyakinan semacam itu akan menimbulkan berbagai dampak negatif, pertama, Fanatisme terhadap tafsir tertentu serta menolak keabsahan tafsir lain, kedua, akan menutup kemungkinan terbukanya teks terhadap berbagai penafsiran. Dengan tertutupnya keragaman tafsiran itu, maka sebuah teks akan mengalami semacam “Taqdis al afkar ad diniyyah”. Ketiga, suatu teks yang telah dibungkam melalui peresmian satu tafsir saja, akan menyebabkan teks itu tidak akan bermakna lagi dalam menghadapi derasnya perubahan sosial pada zaman modern sekarang ini. Oleh karena itu dekonstruksi ditujukan pada aras konsep-konsep keagamaan “yang terpikirkan” (thinkable) “yang tak terpikirkan”(unthinkable) dan “yang belum terpikirkan”(Not yet though)
Ide-ide pembaharuan teks-teks keagamaan baik teks Kitab Suci maupun teks tafsirannya, bukannya sepi dari gugatan. Kelompok tradisionalis-revivalis mempertanyakan orsinilitas- validitas – dan otoritas metodologi dan epistemologi yang diusung para pembaharu itu. Dalam pandangan mereka ide pembaharuan itu pastilah didasarkan pada metode Hermeneutik yang gagasan utamanya adalah mengajak orang untuk meragukan kebenaran nilai-nilai lama dan kemudian mendekonstruksikan nilai-nilai itu dengan mempertimbangkan perubahan-perubahan sosial yang terjadi di tengah-tengah masayrakat. Dari sisi epistemologi, hermeneutika bersumber dari akal semata-mata, oleh karenanya metode tersebut sangat kental dengan nuansa Dhann (dugaan) Syak (keraguan) dan Mira’ (asumsi). Sedangkan dalam metode tafsir-nya para ulama mufasirin- sumber epistemologinya adalah wahyu al qur’an. Karena itu, tafsir terikat dengan apa yang telah disampaikan dan diterangkan serta dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW menyampaikan, menerangkan dan menjelaskan isi al Qur’an. Jika ada di antara para shahabat yang berselisih atau tidak mengerti mengenai kandungan ayat al Qur’an mereka merujuk langsung kepada Rasulullah SAW, akal tidak dibiarkan lepas tanpa kendali melanglang buana, sebagaimana yang terjadi di dalam metode hermenutika. Akal yang liberal tanpa ikatan, akan dengan mudah menyalahtafsirkan ayat-ayat al Qur’an. Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menafsirkan ayat al Qur’an dengan hati-hati.

1 Responses to Mengais Kembali Konsep Turats Dalam Wacana Keagamaan Kontemporer

  1. jadi begitu sejarahnya,terimakasih. Pengetahuan saya tentang Islam jadi bertambah

     

Post a Comment

Terimakasih atas komentar dan kunjungannya, salam manis buat sobat semua

Download MK

MSI
There was an error in this gadget

Translator



English French German Spain Dutch Arabic

Recent Post

DAFTAR ISI BLOG

1.Blog Sejenis
2.Line Website UNISMA
3.Jam’ul Qur’an
4.Hadis Pra Modifikasi
5.Kampus Pusat Budaya
6.Qawaidul Fiqhiyyah
7.Sarjana Pengangguran
8.Penyimpangan dalam Penafsiran al Qur’an
9.Implementasi Ilmu Islam dalam Peguruan Tinggi Islam
10.Pemikiran Ibn Miskawaih Dlm Pendidikan
11.Otentisitas Hadis versi Orientalis
12.Maqashid al Tasyri’
13.Sejarah Peradilan Islam
14.Mengais Kembali Konsep Turats
15.Sufi Martir Ain Qudhat
16.Tema Pokok al Qur’an
17.Metodologi Penelitian
18.Nilai Maslahat dan HAM dalam Maqashid al Tasyri’
19.Pembaharuan Kurikulum Dasar Menengah
20.Pemikiran al Mawardi
21.Tasawwuf al Falsafi
22.Profil Dosen FAI UNISMA
23.Download Bahan Kuliah
24.Ikhtilaf al Hadis Part. I
25.Ikhtilaf al Hadis Part. II
26.Filsafat Ibn Rusyd
27.Inkar as Sunnah I
28.IInkar as Sunnah Part. II
29.Beasiswa Kuliah Gratis
30.Download MAteri Perkuliahan
31.Uji Timbang Blog
32.Award Pertama Buat FAI
33.Hakikat Manusia : Sebuah Renungan
34.Award oh Award
35.Pengumuman Mengikuti Beasiswa
36. Blog-ku Istana-ku
37.Kuliah Umum di FAI Unisma
38. Info LAnjutan Beasiswa
39. Dukungan Untuk Sang Guru
40. Zikir Akbar di Unisma
41.Ujian Seleksi Kuliah Beasiswa
42. Habil dan Qabil di Era Global
43. Suasana Ujian Seleksi Beasiswa
44. Mengapa aku harus memilih?
45.Pengumuman Hasil Ujian
46. award Dari Sobat Blogger
47. Psikotest Mahasiwa Beasiswa
48. Award Maning
49.Award Blogging 4 Earth
50. Pengumuman Hasil Ujian
51.Award Motivasi & Perilaku
52. Sistem Pembekalan Akademik
53. Award Tiad aPernah Berakhir
54. Light Up The Noght
55.Cap Jempol Darah
56.Awardmu-Awardku-AwardKita
57.Anti Mati Gaya Open Minded
58.Award Is Never Die
59.KEM tingkat Nasional
60.Pengumuman Kuliah Umum
61.Virus Malas Ngeblog
62.Pengumuman Hasil Seleksi Ujian
63. Prote Hasil Pilpres
64. Ramadhan Itu Datang Lagi
65.Orientasi Pendidikan MABA UNISMA
66.Download PPT HAM dan Gender
67.Gus Dur:Sang Guru Bangsa
68.Gerakan Fundamentalisme Islam
69.Download E-Book
70.FAI UNISMA
71.Umar Ibn al Khaththab
72.Beasiswa Kuliah Prodi PGMI
73.Ikhtilaf al Hadis Part. II
74.Gelar Doa sivitas FAI UNISMA
75.Pengumuman Pelaksanaan Tes Ujian Prodi PGMI
76.Pengumuman Hasil Tes Ujian Prodi PGMI
77.Beasiswa S2 Prodi Hukum Islam PPS UNISMA
78.Selamat Jalan Akhi
79.Pesta Demokrasi
80.Ordik MABA UNISMA
81.Islam Rahmat Lil Alamin
82.Beasiswa Bagi Guru PAI di Kemendiknas
83.Hasil Akreditasi PGMI
84.Rekonstruksi Kurikulum FAI UNISMA
85.Beasiswa Perkuliahan Prodi PAI
86. Ketentuan Lomba Lustrum
87. Pengumuman Hasil Psikotes
88. Beasiswa Untuk Guru PAI
89. Islam dan Ilmu Pengetahuan
90. Pengumuman Kelulusan Penerima Beasiswa
91. Pengumuman Hasil Seleksi Ujian Tulis
92. Maqamat dan Ahwal al Sufiyah
93. Ikhtilah Ulama