Jurnal Ilmiah

Panduan SOS

Prog. SOS FAI

Prog. SOS FAI
Sistem Informasi Akademik Mahasiswa FAI Berbasis Online

Popular Posts

Followers

CELEBRITY

Tamu-nya FAI

Oleh : Fathurrahman Alfa


Ada lima sumber yang digunakan Tabi'in dalam menafsirkan al-Quran, yaitu: al-Quran, al-Hadits, tafsir para sahabat, cerita para ahli kitab dan ra'yu atau ijtihad para tabi'in sendiri. Pada masa Tabi'in inilah mulai berkembang peluang 'inhiraf' dalam penafsiran al-Quran. Bentuk-bentuk penyimpangan itu antara lain Pertama: Berkaitan dengan subyektivitas mufassir, atau kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk menafsirkan menurut seleranya, mungkin berkaitan dengan madzhabnya, bidang kajian yang diminatinya atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompoknya.





Abstrak
Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan al-Quran

Kata Kunci : Penyimpangan, Penafsiran, al Qur’an

PENDAHULUAN
Al-Quran adalah kitab suci yang di turunkan untuk menjadi pedoman hidup (way of life) bagi manusia. Fungsi tersebut secara tegas dinyatakan oleh Allah dalam beberapa ayat al-Qur’an. Agar fungsi tersebut dapat direalisasikan, maka tidak boleh tidak al-Quran tersebut harus dapat dipahami oleh manusia.
Dalam upaya untuk merealisasikan fungsi tersebut, manusia berusaha untuk mencari kejelasan makna pesan-pesan al-Quran tersebut, yang salah satunya adalah menafsirkan al-Quran. Upaya ini telah dilakukan oleh para mufassir, baik oleh Rasulullah S AW . sendiri sebagai mufassir pertama dan para pewarisnya. Rasulullah menjelaskan al-Quran dengan sunnahnya, sedang para pewarisnya menafsirkan al-Quran dengan hadits-hadits Rasulullah SAW., di samping berusaha memahami al-quran dengan penjelasan al-Quran itu sendiri, dan ijtihad mereka, dengan menggunakan kemampuan pengetahuan bahasa, adat istiadat Arab, hal ihwal kaum yahudi-nasrani dan kekuatan daya tangkap mereka. Kemudian, pada masa Tabi’in (yang secara umum juga disebut sebagai pewaris Nabi SAW., tetapi dalam kaitannya dengan penafsiran al-quran sebutan pewaris ini nampaknya tertuju pada para sahabat), perkembangan pola penafsiran telah menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan pola yang menonjol pada masa sahabat. Dalam memahami arti ayat-ayat al-Quran dan menafsirkannya, para Tabi'in -- di samping melandaskan pada ayat-ayat al-Quran itu sendiri, hadits-hadits Rasulullah SAW serta penafsiran yang diberikan oleh para sahabat Nabi SAW dengan bantuan cerita-cerita dari para ahli kitab -- telah menggunakan ra'yu sebagai alat menalar. Meskipun corak penalarannya masih belum serasional para pelanjutnya yang telah mengintroduksi pola penafsiran Bi al-Ra'yi. Oleh karena itu, Adz-Dzhabi menyebut lima macam sumber yang dipakai oleh para Tabi'in dalam menafsirkan al-Quran, yaitu: al-Quran, al-Hadits, tafsir para sahabat, cerita para ahli kitab dan ra'yu atau ijtihad para tabi'in sendiri.
Pada masa Tabi'in inilah kita bisa melihat mulai adanya peluang 'inhiraf' dalam penafsiran al-Quran. Meskipun, secara logis bisa kita duga bahwa pada zaman sahabat pun bukan tidak mungkin ada peluang untuk melakukan penyimpangan itu. Namun untuk menyatakan bahwa kecenderungan ke arah itu benar-benar ada, kita belum memperoleh bukti. Sedang pada periode Tabi'in ini, tafsir-tafsir al-Quran sudah menampakkan kecenderungan ke arah penyimpangan, meskipun belum dapat kita katakan telah menyimpang, karena paling tidak di dalamnya terdapat hal-hal yang memberikan peluang ke arah itu. Peluang tersebut antara lain dimungkinkan oleh pola-pola penafsiran mereka yang mengandung tiga macam permasalahan:
Pertama: Karya-karya Tafsir para Tabi'in pada umumnya mengandung cerita-cerita Israiliyat dan Nashraniyat, yang bila dicermati bukan tidak mungkin sebagian dari cerita-cerita tersebut tidak memiliki sumber yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya apalagi banyak di antara kisah-kisah tersebut dimuat dengan tanpa menyantumkan sanadnya, sehingga sulit sekali dilacak sumbernya. Bahkan, ada di antara cerita-cerita tersebut yang terbukti ketidak-benarannya setelah diteliti.
Kedua: Di dalam kitab-kitab tafsir para Tabi'in terlihat mulai adanya kecenderungan untuk hanya menerima periwayatan dari orang-orang tertentu, dengan menafikan riwayat lain yang mungkin lebih dapat dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya daripada riwayat yang dipakai sebagai salah satu sumber penafsiran.
Ketiga: Pada masa Tabi’in mulai tumbuh benih-benih perselisihan antar madzhab, terutama dalam masalah teologi, sehingga bukan tidak mungkin sebagian Tafsir para Tabi'in yang mengandung kecenderungan untuk mempertahankan metode dan pendapat Imam-imam madzhab, yang boleh jadi pada taraf tertentu akan berlebih-lebihan dan berkecenderungan untuk menyimpang, hanya karena dalam rangka membela pendapat Imam-imam madzhab dan seperangkat pendapat madzhabnya.
Kecenderungan-kecenderungan Itu semakin tampak pada masa berikutnya dengan munculnya pola-pola baru dalam penafsiran al-quran, terutama dengan semakin menguatnya gairah orang-orang Islam untuk memberikan makna yang lebih memuaskan keinginan mereka untuk memahami al-Quran.
PENAFSIRAN AL-QURAN: ANTARA IDE DAN REALITAS
Al-Quran, sebagaimana kita ketahui bersama antara lain berfungsi sebagai petunjuk atau hudan. Keberadaannya yang tetap dalam sebuah mushhaf yang terpelihara kemurniannya dalam jaminan Allah bukanlah berarti telah benar-benar menjadi petunjuk bagi umat manusia. Al-Quran akan dapat menjadi petunjuk bagi manusia bila ia dapat dipahami, dihayati dan memiliki nilai operasional. Untuk keperluan tersebut, tidak boleh tidak al-Quran harus dijelaskan maknanya ke dalam penjelasan yang lebih bisa dipahami, dihayati dan diamalkan daripada al-Quran yang dibiarkan untuk berbicara sendiri kepada semua lapisan umat manusia. Dengan kata lain, idealnya al-Quran harus ditafsirkan sedemikian rupa, agar dapat menjadi pedoman yang lebih mudah dimengerti. Oleh segenap lapisan umat manusia yang memerlukan petunjuknya.
Sebuah pertanyaan yang terangkai selalu muncul dalam kaitan ini:
Pertama: Siapakah yang berkompeten untuk menafsirkan al-Quran? Kedua: Sejauhmana kewenangannya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita bisa melihat Ibnu 'Abbas dalam sebuah pernyataannya tentang al-Quran. Dia nyatakan bahwa dalam kaitannya dengan tafsir, ayat al-Quran bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:
Pertama: ayat-ayat yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab dengan kemampuan bahasanya.
Kedua: ayat-ayat al-Quran yang dapat diketahui maknanya secara jelas oleh semua orang.
Ketiga: ayat-ayat al-Quran yang tidak diketahui maknanya kecuali oleh para ulama. Keempat: ayat-ayat al-Quran yang hanya diketahui maknanya secara jelas oleh Allah.
Dari pernyataan Ibnu Abbas tersebut di atas, kita biasa mengambil kesimpulan bahwa:
1. Tidak semua ayat al-Quran dapat diketahui tafsirnya oleh para mufassir. Hal ini bila kaitkan, misalnya, dengan ayat-ayat mutasyabihat dengan berbagai ragam pengertian yang diberikan oleh para ulama. Ada di antara ayat-ayat al-Quran yang memang memiliki makna yang tersembunyi, dan hannya Allahlah yang memahami tafsirnya.
2. Ada sebagian ayat al-Quran yang terlalu sulit dipahami, kecuali oleh para ahlinya. Para ahli, yang kemudian disebut dengan ulama, Inilah yang sesungguhnya bisa disebut sebagai orang orang yang memiliki kompetensi untuk menafsirkan al-Quran, dengan berbagai macam persyaratan yang telah dijelaskan oleh para ulama.
3. Ada sebagian ayat yang secara bahasa dapat dipahami maknanya dengan Jelas. Sehingga, bagi orang non arab yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang memadai dengan mudah dapat mengetahui maknanya, sebagaimana lazimnya orang-orang Arab sendiri yang memiliki kemampun bahasa mereka sendiri.
4. Ada sebagian ayat yang sangat mudah dipahami, sehingga ada kemungkinan bagi orang non arab yang memiliki sedikit pengetahuan tentang bahan Arab dan al-Quran, dapat memahami maknanya.
Meskipun secara mudah kita dapat memahami ungkapan di atas, sesungguhnya dalam realitas aktivitas penafsiran al-Quran selalu saja ada kemungkinan terjadinya kesalahan penafsiran yang berkaitan dengan faktor-faktor subyektif para mufasirnya.
Seorang mufassir, menurut pendapat Quraish Shihab, memiliki kemungkinan untuk membuat kekeliruan dalam menafsirkan al-Quran berkaitan dengan, antara lain, persoalan:
1. Subyektivitas mufassir;
2. Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah;
3. Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat;
4. Kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat;
5.Tidak memperhetiken konteks, baik ashab al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun
kondisi sosial masyarakat;
6. Tidak memperhatikan siapa pembicaraan dan terhadap pembicaraan ditujukan.
Sementara itu, adz-dzahabi meringkas kemungkinan kesalahan para mufassir dalam menafsirkan ayat tersebut dalam dua faktor penting.yaitu:
1. Kecenderungan untuk meyakini kebenaran salah satu makna di antara banyak makna yang mungkin diterapkan, kemudian memakai keyakinannya untuk menafsirkan semua lafal al-Qur’an.
2. Kecenderungan untuk menafsirkan al-Quran berdasarkan makna yang dipahami oleh tutur bahasa arab saja, tanpa memperhatikan siapa yang berbicara dengan (menggunakan) al-Qur’an itu, kepada siapa diturunkannya dan siapa yang dibicarakan oleh al-Qur’an itu.
Dan kedua macam uraian tersebut, kita peroleh kesimpulan bahwa; meskipun secara teoritik para ulama telah memberikan batasan-batasan ideal, sebagaimana hasil kesimpulan yang kita peroleh dari pernyataan Ibnu Abbas tersebut di atas, dan juga mungkin patokan-patokan yang dijelaskan oleh para mufassir itu berbuat keliru dalam menafsirkan al-Qur’an

BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN PENAFSIRAN
Sebagaimana penjelasan Quraish Shihab dan Adz-dzahabi tersebut di atas, kita bisa memperkirakan dan melihat bentuk-bentuk penyimpangan penafsiran al-Quran. Pertama: Berkaitan dengan subyektivitas mufassir, kita bisa melihat kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk menafsirkan menurut seleranya, mungkin berkaitan dengan madzhabnya, bidang kajian yang diminatinya atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompoknya.
Dalam kasus ini bisa kita lihat contoh penafsiran yang dilakukan oleh Az-Zamakhsyari, ketika ia menafsirkan kata: Nadhirah dalam surah al-Qiyamah, 75:23. Ia tafsir kata nadhirah dalam ayat: إلى ربها ناظرة dengan pandangannya yang selaras dengan doktrin madzhabnya (Mu'tazilah) dan keahlian bahasanya. Kata Nadhirah yang secara umum diterjemahkan dengan melihat, ia tafsirkan dengan peryataan: "Memandang di sini bukan berarti melihat; dan melihat bukanlah salah satu maksud dari kata nadhirah tersebut. Nadhar memiliki arti yang banyak, antara lain: menggerakkan biji mata ke arah satu benda untuk melihatnya; menunggu; simpati dan berbaik hati dan berpikir atau merenung. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa kata nadhar di dalam ayat tersebut lebih tepat diartikan dengan menunggu, karena kita tidak mungkin melihat Allah.
Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas, kita melihat beberapa kasus; di antaranya penafsiran kata mubshirah dalam surat: Al-Isra’, 17:59:
وأتينا ثمود النافة مبصرة
Kata mubshirah di dalam ayat tersebut memiliki makna kontekstual. Sehingga tidak mungkin diberi makna dengan arti orisinalnya.
Jika kata mubshirah di dalam ayat tersebut ditafsirkan sesuai dengan makna orisinalnya melihat dengan mata kepala, yang menerapkan kata Naqah (Onta Betina), maka penafsiran itu tidak kontekstual lagi karena kata mubshirah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah sebuah mukjizat yang dapat membuktikan kebenaran Nabi Shaleh terhadap kaum Tsamud pada saat itu.
Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan al-Quran, sebagaimana yang dipaparkan oleh Quraish Shihab, bisa kita lihat pada kasus penafsiran yang dilakukan oleh para ilmuwan yang tidak memiliki Ilmu pokok (dalam menafsirkan al-Quran) secara memadai atau mufassir yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pokok, tetapi kurang menguasai ilmu bantu. Misalnya, jika seorang ilmuwan berupaya mengaitkan kebenaran penemuan ilmiahnya dengan statemen-statemen al-Quran, sebenarnya merupakan usaha mulia. Tetapi dapat dikatakan sebagai satu kecerobohan ynng bermakna kecenderungan untuk menyimpang andaikata al-Quran dengan seperangkat statemennya justru diuji oleh kebenaran Ilmiah yang mereka temukan. Sebab, hasil suatu penelitian bukanlah sesuatu yang bernilai final, sementara kebenaan yang ada didalam al-Qur’an bernilai universal.
Demikian juga, misalnya, seorang mufassir tidak boleh begitu saja menafikan hasil penelitian ilmiah. Misalnya, dalam kasus penafsiran ayat-ayat kauniah, tentu saja peristilahan keilmuan harus tetap menjadi perhatian para mufassir, demikian juga pengetahuan eksakta, misalnya dalam ilmu kedokteran, harus menjadi perhatian para mufassir ketika menafsirkan ayat yang berkaitan dengan masalah kedokteran. Dua contoh kasus penafsiran ketiga dipaparkan oleh adz-dzahabi; ketika menafsirkan kata faqtha’u pada surat al-maidah, 5:38:
والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما...
Ada ilmuwan yang menafsirkan bahwa kata tergesebut bukan menunjukkan hukum wajib, tetap ibadah. Di sini adz-Dzahabi bertanya: kapan si mufassir dapat menafsir amar tersebut bukan suatu kewajiban? Kemudian, ketika menafsirkan ayat 61 dari surat al-Baqarah:
وإذقلتم يموسى لن .....
Thanthawi Jauhari. menguraikan dengan teori-teori medis, yang terlalu jauh. Sehingga penafsirannya justru membias sangat jauh. Cara inilah yang dianggap mengkhawatirkan untuk terjadinya penyimpangan penafsiran, bila tidak terkontrol dengan baik.

PENUTUP
Dari keseluruhan pembahasan tersebut, klta dapat memperoleh pengertian bahwa penjelasan terhadap makna al-Quran meruapakan suatu keharusan. Tetapi keharusan tersebut, di samping memerlukan kehati-hatian,juga memerlukan persyaratan yang tidak selayaknya dilanggar. Meskipun beberapa persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama tersebut merupakan hasil ijtihad, tetapi minimal dapat dipahami sebagai patokan dasar yang selayaknya diperhatikan. Pelanggaran terhadap patokan-patokan dasar tersebut, memang, adakalanya tidak menimbulkan kesalahan interpretasi, tetapi kemungkinan terjadinya keasalahan akan menjadi lebih besar.
Di samping itu, sejauh yang telah diupayakan oleh para ulama untuk menaati rambu-rambu yang menjadi patokan dasar tersebut, tetapi dalam realitasnya kesalahan interpetasi terhadap al-Quran pun masih mungkin terjadi. Untuk itu, apa yang dinyatakan oleh adz-Dzahabi dan Quraish Shihab perlu diperhatikan, di samping be-berapa pelajaran tentang kesalahan dan kemungkinan salah yang telah dilakukan oleh para mufassir.

*) Penulis adalah Dosen Tetap FAI dan KPS Studi Islam PPS UNISMA MALANG


END NOTE:
1Q S. al - Baqarah, 2: 2, 97, 185; 138; al- Maidah, 5: 46 Ali 'Imran, 3:
2Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ' Ulum al-Quran (Makkah: Dar al-Sudiyah, 1971), p. 280.

3az-Zarqani, 'Abdul Adhim, Manahil al-'Irfan f1 ' Ulum al-Qur an (Kairo: Isa al Babiy al Halaby) tt., p. 22.

4Muhammad Husin Adzahabir at Tafsir wa al-Mufassirun. JUZ; I (Kairo: Dar al-Kutub al-'arabi, 1981), p. 58.

5Ibid, p. 99.
6adz-Dzahabi, Ibid, p. 131.
7Ahmad von Denffer, 1lmu al-Quran (An Introduction to Sciences of the Quran), terj. A. Nashir Budiman (Jakarta: Rajawali, 1988), p. 142.

8Badruddin az-Zarkasyi . al-Burhan fi 'Ulum al-Quran, Jilid II (Mesir: al Halabi, 1957), p. 4. 164.

9M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan. 1992), p. 79.
10Muhammad Husin az Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangn Dalam Penafsiran al Quran (al-Ittijahat al Munharifah fi Tafsir al-Quran al-Karim, Dawafi'uha wa Daf'uha), terj. Hamim Ilyas dan Machnun Husein (Jakarta: Rajawali, 1986), p. 14.

11Abul Qasim Mahmud ibn. 'Umar az-Zamakhsyari, Al-Kasyyaf ' an Haqaiq al-Tanzil wa 'Uyun all ‘Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. juz II (Mesir: /1-Halabi, 1966), p. 509.

12az Zahabiy, Penyimpangan, p. 20

13lihat Quraish Shihab, Membumikan, p. 100-110

14az Zahabiy, Penyimpangan, p. 126-127

15az Zahabiy, Penyimpangan, p. 117-118

121 komentar

  1. ade Says:
  2. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya. wassalam

     
  3. Nimaya John Says:
  4. Wah bahaya juga yah kalau Alqur'an spe salah ditafsirkan, akan timbul perpecahan, smoga ini tidak terjadi,,,

     
  5. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme masing2 individu,,,,

     
  6. Anonymous Says:
  7. alhamdulillah,,
    berkat makalah ini gw bs tahu sejarah ttg pentafsiran alquran yang sifatnya dinamis, dan pasti nya ini akan menjadi bahan wacana bagi para cendekiawan muslim, khususnya pelajar yang sedang menekuni di bidang tafsir-hadits. satu lagi yang bikin gw tertarik dengan sajian makalah ini, penulis mencamtumkan nama ulama yang juga turut menyumbang pemikirannya. dan gw rasa ini memang perlu diketahui !!
    saran bwt yang nge posting ini, kiranya sudikah jika dicantumkan problematka (fakta kesalahan penafsiran)yang saat ini sedang terjadi, perang ideologi-khususnya di bidang aqidah-yang mereka sama" merujuk dari nash al quran, disertai dengan solusi penyelesaiannya...
    biar kabarnya tetep up to date getooooh... :-)
    trims,

     
  8. Kadang ada pihak yg baru bisa menafsirkan kulitnya saja sudah seakan hebat sekali.
    Semoga kita tidak seperti itu.

     
  9. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  10. wah bahaya nih , gajah makan kawat alias GASWAT

     
  11. alhamdulillah,,
    berkat makalah ini gw bs tahu sejarah ttg pentafsiran alquran yang sifatnya dinamis, dan pasti nya ini akan menjadi bahan wacana bagi para cendekiawan muslim, khususnya pelajar yang sedang menekuni di bidang tafsir-hadits. satu lagi yang bikin gw tertarik dengan sajian makalah ini, penulis mencamtumkan nama ulama yang juga turut menyumbang pemikirannya. dan gw rasa ini memang perlu diketahui !!
    saran bwt yang nge posting ini, kiranya sudikah jika dicantumkan problematka (fakta kesalahan penafsiran)yang saat ini sedang terjadi, perang ideologi-khususnya di bidang aqidah-yang mereka sama" merujuk dari nash al quran, disertai dengan solusi penyelesaiannya...
    biar kabarnya tetep up to date getooooh... :-)
    trims,

     
  12. Abstrak
    Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan al-Quran

     
  13. obat jerawat Says:
  14. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya. wassalam

     
  15. PENAFSIRAN AL-QURAN: ANTARA IDE DAN REALITAS

     
  16. 1. Tidak semua ayat al-Quran dapat diketahui tafsirnya oleh para mufassir. Hal ini bila kaitkan, misalnya, dengan ayat-ayat mutasyabihat dengan berbagai ragam pengertian yang diberikan oleh para ulama. Ada di antara ayat-ayat al-Quran yang memang memiliki makna yang tersembunyi, dan hannya Allahlah yang memahami tafsirnya.

     
  17. sangat membantu

     
  18. pengetahuan baru nih

     
  19. xamthone Says:
  20. nice artikel gan....

     
  21. semoga tidak ada penyimpangan lagi ya...

     
  22. ya kalau gurunya uda salah menafsirkan pasti anak didiknya juga salah donk.... smoga tidak ada lagi penyimpangan...

     
  23. kalau mau menafsirkan tidak boleh setengah-setengah harus memang dikupas semuanya lalu baru ditafsirkan...
    Kalau tidak ya pasti ada penyimpangan.

     
  24. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme masing2 individu,,,,

     
  25. salm kenal gan...

     
  26. mudah-mudahan gak yg ada salah tafsir ya menenai artikelny bro

     
  27. obat gondok Says:
  28. lanjutkan infonya ya sob.......

     
  29. obat lupus Says:
  30. sangat bermanfaat!!!

     
  31. obat miom Says:
  32. thx ya sob artikelnya

     
  33. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  34. hx ya sob artikelnya

     
  35. nice post

     
  36. sip gan

     
  37. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  38. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya. wassalam

     
  39. thx ya sob artikelnya

     
  40. thx artikelnya...

     
  41. thx for sharing...

     
  42. harus berhati-hati dalam penafsiran agar tidak terjadi penyimpangan....

     
  43. semoga tidak cepat-cepat dalam menafsirkan suatu tulisan di dalam al-quran sehingga tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan...

     
  44. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena penyimpangan-penyimpangan dalam menafsirkan al-quran..
    thx..

     
  45. xamthone Says:
  46. wah bahaya nih , gajah makan kawat alias GASWAT

     
  47. Kadang ada pihak yg baru bisa menafsirkan kulitnya saja sudah seakan hebat sekali.
    Semoga kita tidak seperti itu.

     
  48. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme masing2 individu,,,,

     
  49. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  50. Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan al-Quran

     
  51. wuih...artikel panjang bngt nie gan.

     
  52. dari penjelasan diatas aku blm terlalu paham bngt gan.

     
  53. keren gan,lanjutjkan!!

     
  54. walaupun saya gak ngerti,tapi moga aja pada gak salah tafsir ya.

     
  55. penyimpangan-penyimpangan ini yang berbahaya...
    harusnya jangan terlalu cepat menafsirkan...

     
  56. great post....
    mantap...

     
  57. moga-moga sudah tidak ada penyimpangan2 dalam menafsirkan lagi ya....
    coba dicari tahu lebih jelas dulu baru bisa ditafsirkan..
    thx....

     
  58. thx buat artikelnya ne,..
    nice post..

     
  59. thx ya untuk share artikelnya ini,,,,
    mantap banget...

     
  60. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya bro??

     
  61. sangat membantu sekali..!!

     
  62. pengetahuan baru nih buat aku bro,,...

     
  63. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme masing2 individu,,,,oke bro.

     
  64. obat asma Says:
  65. wah pantesan, boleh juga dan bagus jg materi kuliahnya.

     
  66. thx ya untuk share artikelnya ini,,,,
    mantap banget...

     
  67. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  68. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya. wassalam

     
  69. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya. wassalam

     
  70. wuih...artikel panjang bngt nie gan.

     
  71. artikelnya panjang juga ne....

     
  72. semoga jangan sampai ada yang salah dalam menafsirkan lagi ya..

     
  73. makasih uda share ya...
    bermanfaat ne.

     
  74. Kadang ada pihak yg baru bisa menafsirkan kulitnya saja sudah seakan hebat sekali padahal isi dari al qurannya aja belum bisa ditafsirkan...
    Semoga kita tidak seperti itu.

     
  75. Tidak semua ayat al-Quran dapat diketahui tafsirnya oleh para mufassir. Hal ini bila kaitkan, misalnya, dengan ayat-ayat mutasyabihat dengan berbagai ragam pengertian yang diberikan oleh para ulama. Ada di antara ayat-ayat al-Quran yang memang memiliki makna yang tersembunyi, dan hannya Allahlah yang memahami tafsirnya.
    jadi jangan terlalu cepat untuk menafsirkan...

     
  76. Rayya Says:
  77. Izin copast.. sykrn

     
  78. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme masing2 individu...

     
  79. jangan sampai ada penyimpangan nanti malah berbalik....

     
  80. nice post..

     
  81. keep posting....
    semoga jangan sampai terjadi penyimpangan lagi ya..

     
  82. maju terus ya..
    ditunggu karya2 lainnya...

     
  83. xamthone Says:
  84. bermanfaat ne

     
  85. lanjutkan infonya

     
  86. pengetahuan baru

     
  87. semoga jangan sampai terjadi

     
  88. keep posting.

     
  89. obat stroke Says:
  90. yup..benar kita harus jaga persatuan!

     
  91. jangan sampai terpecah karna kepentingan pribadi.

     
  92. obat hiv Says:
  93. tuhan menciptakan semua manusia sama,hanya cara hidup saja yg berbeda,,maka dari perbedaan itu,,kita harus selalu bersama.

     
  94. obat kista Says:
  95. semoga aj tdk ada kata dan pemikiran yg menyimpang ya gan.

     
  96. yokk,,lkita selalu bersatu,,semangat!!

     
  97. jangan sampai ada yang menyimpang lagi d...

     
  98. jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena penyimpangan dalam menafsirkan sesuatu..

     
  99. artikelnya panjang ne...
    mantep yang penting jangan sampai terpecah belah karena penyimpangan..

     
  100. great article...

     
  101. semoga saja dengan blog ini semua penyimpangan2 bisa dihindari...
    makasih ya uda berbagi..

     
  102. wah pantesan wong dosen boleh juga dan bagus materi kuliahnya.

     
  103. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena mementingkan egoisme

     
  104. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya bro

     
  105. nice post

     
  106. Izin copast.

     
  107. obat ginjal Says:
  108. sore gan...

     
  109. bermanfaat bro.

     
  110. obat tbc Says:
  111. mantab bngt deh...

     
  112. postingan yg bgs.

     
  113. ehhmmm,,,,bingung nie!

     
  114. ehhmmm,,

     
  115. semoga tidak cepat-cepat dalam menafsirkan suatu tulisan

     
  116. mantab bngt

     
  117. Jangan sampai terjadi perpecahan

     
  118. jangan sampai ada penyimpangan nanti malah berbalik.

     
  119. harus berhati-hati dalam penafsiran agar tidak terjadi penyimpangan..

     
  120. great post..

     
  121. jangan sampai ada penyimpangan nanti malah berbalik

     
  122. jangan sampai ada penyimpangan nanti malah berbalik

     
  123. kitab quran adalah kitab yg amat suci.

     
  124. semua alkitab adalah suci.

     
  125. sangat berguna...

     
  126. mudah-mudahan tdk ada penyimpangan ya.

     
  127. sip!!!!^-^,,,

     
  128. Ada lima sumber yang digunakan Tabi'in dalam menafsirkan al-Quran, yaitu: al-Quran, al-Hadits, tafsir para sahabat, cerita para ahli kitab dan ra'yu atau ijtihad para tabi'in sendiri.

     
  129. Al-Quran adalah kitab suci yang di turunkan untuk menjadi pedoman hidup (way of life) bagi manusia.

     
  130. manusia berusaha untuk mencari kejelasan makna pesan-pesan al-Quran tersebut.

     
  131. Kata mubshirah di dalam ayat tersebut memiliki makna kontekstual

     
  132. PENAFSIRAN AL-QURAN: ANTARA IDE DAN REALITAS

     
  133. Kadang ada pihak yg baru bisa menafsirkan kulitnya saja sudah seakan hebat sekali.
    Semoga kita tidak seperti itu.

     
  134. mudah2an tidak ada yang salah menafsirkan ya

     
  135. perang ideologi-khususnya di bidang aqidah-yang mereka sama" merujuk dari nash al quran, disertai dengan solusi penyelesaiannya...

     
  136. obat asma Says:
  137. semoga tidak ada penyimpangan lagi ya...

     
  138. semoga Allah selalu menjaga keaslian Al-Qur'an dan selalu merahmati orang-orang yang mau menjaganya. amiiinn..............

     
  139. saya banyak belajar dari artikelnya .... sangat menarik

     

Post a Comment

Terimakasih atas komentar dan kunjungannya, salam manis buat sobat semua

There was an error in this gadget

Translator



English French German Spain Dutch Arabic

Recent Post

DAFTAR ISI BLOG

1.Blog Sejenis
2.Line Website UNISMA
3.Jam’ul Qur’an
4.Hadis Pra Modifikasi
5.Kampus Pusat Budaya
6.Qawaidul Fiqhiyyah
7.Sarjana Pengangguran
8.Penyimpangan dalam Penafsiran al Qur’an
9.Implementasi Ilmu Islam dalam Peguruan Tinggi Islam
10.Pemikiran Ibn Miskawaih Dlm Pendidikan
11.Otentisitas Hadis versi Orientalis
12.Maqashid al Tasyri’
13.Sejarah Peradilan Islam
14.Mengais Kembali Konsep Turats
15.Sufi Martir Ain Qudhat
16.Tema Pokok al Qur’an
17.Metodologi Penelitian
18.Nilai Maslahat dan HAM dalam Maqashid al Tasyri’
19.Pembaharuan Kurikulum Dasar Menengah
20.Pemikiran al Mawardi
21.Tasawwuf al Falsafi
22.Profil Dosen FAI UNISMA
23.Download Bahan Kuliah
24.Ikhtilaf al Hadis Part. I
25.Ikhtilaf al Hadis Part. II
26.Filsafat Ibn Rusyd
27.Inkar as Sunnah I
28.IInkar as Sunnah Part. II
29.Beasiswa Kuliah Gratis
30.Download MAteri Perkuliahan
31.Uji Timbang Blog
32.Award Pertama Buat FAI
33.Hakikat Manusia : Sebuah Renungan
34.Award oh Award
35.Pengumuman Mengikuti Beasiswa
36. Blog-ku Istana-ku
37.Kuliah Umum di FAI Unisma
38. Info LAnjutan Beasiswa
39. Dukungan Untuk Sang Guru
40. Zikir Akbar di Unisma
41.Ujian Seleksi Kuliah Beasiswa
42. Habil dan Qabil di Era Global
43. Suasana Ujian Seleksi Beasiswa
44. Mengapa aku harus memilih?
45.Pengumuman Hasil Ujian
46. award Dari Sobat Blogger
47. Psikotest Mahasiwa Beasiswa
48. Award Maning
49.Award Blogging 4 Earth
50. Pengumuman Hasil Ujian
51.Award Motivasi & Perilaku
52. Sistem Pembekalan Akademik
53. Award Tiad aPernah Berakhir
54. Light Up The Noght
55.Cap Jempol Darah
56.Awardmu-Awardku-AwardKita
57.Anti Mati Gaya Open Minded
58.Award Is Never Die
59.KEM tingkat Nasional
60.Pengumuman Kuliah Umum
61.Virus Malas Ngeblog
62.Pengumuman Hasil Seleksi Ujian
63. Prote Hasil Pilpres
64. Ramadhan Itu Datang Lagi
65.Orientasi Pendidikan MABA UNISMA
66.Download PPT HAM dan Gender
67.Gus Dur:Sang Guru Bangsa
68.Gerakan Fundamentalisme Islam
69.Download E-Book
70.FAI UNISMA
71.Umar Ibn al Khaththab
72.Beasiswa Kuliah Prodi PGMI
73.Ikhtilaf al Hadis Part. II
74.Gelar Doa sivitas FAI UNISMA
75.Pengumuman Pelaksanaan Tes Ujian Prodi PGMI
76.Pengumuman Hasil Tes Ujian Prodi PGMI
77.Beasiswa S2 Prodi Hukum Islam PPS UNISMA
78.Selamat Jalan Akhi
79.Pesta Demokrasi
80.Ordik MABA UNISMA
81.Islam Rahmat Lil Alamin
82.Beasiswa Bagi Guru PAI di Kemendiknas
83.Hasil Akreditasi PGMI
84.Rekonstruksi Kurikulum FAI UNISMA
85.Beasiswa Perkuliahan Prodi PAI
86. Ketentuan Lomba Lustrum
87. Pengumuman Hasil Psikotes
88. Beasiswa Untuk Guru PAI
89. Islam dan Ilmu Pengetahuan
90. Pengumuman Kelulusan Penerima Beasiswa
91. Pengumuman Hasil Seleksi Ujian Tulis
92. Maqamat dan Ahwal al Sufiyah
93. Ikhtilah Ulama