Jurnal Ilmiah

Panduan SOS

Prog. SOS FAI

Prog. SOS FAI
Sistem Informasi Akademik Mahasiswa FAI Berbasis Online

Popular Posts

Followers

CELEBRITY

Tamu-nya FAI

Diumumkan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang semua Program Studi yang pada semester genap 2013-2014 ini akan, sedang dan telah menyelesaikan ujian skripsi, harap menyusun penulisan artikel yang akan diterbitkan oleh pihak fakultas menjadi Jurnal Ilmiah Mahasiswa.

Jurnal ilmiah ini adalah salah satu dari beberapa persyaratan penting lainnya dalam penyelesaian studi di Kampus Unisma dan menjadi persyaratan untuk diterbitkannya Yudisium mahasiswa yang akan mengikuti wisuda sarjana tahun akademik 2013-2014 sekitar bulan September 2014.

Dalam rangka persamaan persepsi dan ketertiban dalam penyusunan sistematika artikel, maka berikut ini akan kami lampirkan naskah Contoh Artikel Ilmiah Mahasiswa. File kami unggah di Mediafire karena tidak memerlukan kode verifikasi dan hal-hal ribet lainnya.

Berikut adalah file yang kami maksud, silahkan di DOWNLOAD
Selengkapnya.....

Pemberitahuan untuk temen2 mahasiswa peningkatan kualifikasi angkatan 2011 yang telah mengajukan judul skripsi. Berikut ini daftar judul skripsi yang telah disetujui berikut dosen pembimbingnya masing-masing. Untuk download filex silahkan klik DISINI... http://www.mediafire.com/view/5bpk5h5evdg0h7h/PEMBIMBING_SKRIPSI_angk.2011.pdf

Bagi yang telah mengajukan kembali judul skripsi yang sebelumnya belum diterima, untuk pengumumannya tunggu informasi berikutnya. Tks.


Selengkapnya.....


Oleh : Ika Ratih Sulistiani
Abstrak :
Suatu karakteristik tahap berpikir Van Hiele adalah bahwa kecepatan untuk berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya lebih banyak dipengaruhi oleh aktifitas dalam pembelajaran. Dengan demikian, pengorganisasian pembelajaran, isi, dan materi merupakan faktor penting dalam pembelajaran, selain guru juga memegang peran penting dalam mendorong kecepatan berpikir siswa melalui suatu tahapan. Tahap berpikir yang lebih tinggi hanya dapat dicapai melalui latihan-latihan yang tepat bukan melalui ceramah semata. Dalam perkembangan berpikir, van Hiele (dalam Clements dan Battista, 1992:436) menekankan pada peran siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara aktif. Siswa tidak akan berhasil jika hanya belajar dengan menghapal fakta-fakta, nama-nama atau aturan-aturan, melainkan siswa harus menentukan sendiri hubungan-hubungan saling Keterkaitan antara konsep-konsep geometri daripada proses-proses geometri.
Pendahuluan
Di antara berbagai cabang matematika, geometri menempati posisi yang paling memprihatinkan. Kesulitan-kesulitan siswa dalam belajar geometri terjadi mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Kesulitan belajar ini menyebabkan pemahaman yang kurang sempurna terhadap konsep-konsep geometri yang pada akhirnya akan menghambat proses belajar geometri selanjutnya.
Teori van Hiele yang dikembangkan oleh Pierre Marie van Hiele dan Dina van Hiele-Geldof sekitar tahun 1950-an telah diakui secara internasional (Martin dalam Abdussakir, 2003:34) dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pembelajaran geometri sekolah. Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah contoh negara yang telah merubah kurikulum geometri berdasar pada teori van Hiele (Anne, 1999). Pada tahun 1960-an, Uni Soviet telah melakukan perubahan kurikulum karena pengaruh teori van Hiele (Anne, 1999). Sedangkan di Amerika Serikat pengaruh teori van Hiele mulai terasa sekitar permulaan tahun 1970-an (Burger & Shaughnessy, 1986:31 dan Crowley, 1987:1). Sejak tahun 1980-an, penelitian yang memusatkan pada teori van Hiele terus meningkat (Gutierrez, 1991:237 dan Anne, 1999).
Penerapan teori Van Hiele diyakini dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam geometri. Hal ini disebabkan karena teori Van Hiele lebih menekankan pada pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap berpikir siswa.
Geometri menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika karena banyaknya konsep-konsep yang termuat di dalamnya. Dari sudut pandang psikologi, geometri merupakan penyajian abstraksi pengalaman visual dan spasial, misalnya bidang, pola, pengukuran dan pemetaan. Sedangkan dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi. Geometri juga merupakan sarana untuk mempelajari struktur matematika (Burger & Culpepper, 1993:140).
Tujuan pembelajaran geometri adalah agar siswa memperoleh rasa percaya diri mengenai kemampuan matematikanya, menjadi pemecah masalah yang baik, dapat berkomunikasi secara matematik, dan dapat bernalar secara matematik (Bobango, 1992:148). Sedangkan Budiarto (2000:439) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran geometri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, mengembangkan intuisi keruangan, menanamkan pengetahuan untuk menunjang materi yang lain, dan dapat membaca serta menginterpretasikan argumen-argumen matematik.
Tingkat kognitif menurut Van Hiele
Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda, yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya, Dian Van Hiele-Geldof, pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Dalam teori yang mereka kemukakan, mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu.
Teori van Hiele mempunyai karakteristik, yaitu (1) tahap-tahap tersebut bersifat hirarki dan sekuensial, (2) kecepatan berpindah dari tahap ke tahap berikutnya lebih bergantung pada pembelajaran, dan (3) setiap tahap mempunyai kosakata dan sistem relasi sendiri-sendiri (Anne, 1999). Burger dan Culpepper (1993:141) juga menyatakan bahwa setiap tahap memiliki karakteristik bahasa, simbol dan metode penyimpulan sendiri-sendiri.
Clements & Battista (1992:426-427) menyatakan bawa teori van Hiele mempunyai karaketristik, yaitu (1) belajar adalah proses yang tidak kontinu, terdapat “lompatan” dalam kurva belajar seseorang, (2) tahap-tahap tersebut bersifat terurut dan hirarki, (3) konsep yang dipahami secara implisit pada suatu tahap akan dipahami secara eksplisit pada tahap berikutnya, dan (4) setiap tahap mempunyai kosakata sendiri-sendiri. Crowley (1987:4) menyatakan bahwa teori van Hiele mempunyai sifat-sifat berikut (1) berurutan, yakni seseorang harus melalui tahap-tahap tersebut sesuai urutannya; (2) kemajuan, yakni keberhasilan dari tahap ke tahap lebih banyak dipengaruhi oleh isi dan metode pembelajaran daripada oleh usia; (3) instrinsik dan ekstrinsik, yakni obyek yang masih kurang jelas akan menjadi obyek yang jelas pada tahap berikutnya; (4) kosakata, yakni masing-masing tahap mempunyai kosakata dan sistem relasi sendiri; dan (5) mismacth, yakni jika seseorang berada pada suatu tahap dan tahap pembelajaran berada pada tahap yang berbeda. Secara khusus yakni jika guru, bahan pembelajaran, isi, kosakata dan lainnya berada pada tahap yang lebih tinggi daripada tahap berpikir siswa.
Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri, menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:
Level 0. Tingkat Visualisasi
Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. Pada tingkat ini, siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. Dengan demikian, meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun, siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang, tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut.
Level 1. Tingkat Analisis
Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Dengan kata lain, pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut
Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu “mempunyai empat sisi, sisi-sisi yang berhadapan sejajar, dan semua sudutnya siku-siku”
Level 2. Tingkat Abstraksi
Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. Pada tingkat ini, siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar, maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami perlunya definisi untuk tiap-tiap bangun. Pada tahap ini, siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang, karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang.
Level 3. Tingkat Deduksi Formal
Pada tingkat ini siswa sudah memahami peranan pengertian-pengertian pangkal, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.
Level 4. Tingkat Rigor
Tingkat ini disebut juga tingkat metamatis. Pada tingkat ini, siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri), tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. Pada tingkat ini, siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah, maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. Sehingga, pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometri-geometri yang lain di samping geometri Euclides.
Menurut Van Hiele, semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut, dengan urutan yang sama, dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Akan tetapi, kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Selain itu, menurut Van Hiele, proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis, tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. Implementasi Teori Van Hiele Dalam Pembelajaran
Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah), yaitu ; informasi (information), orientasi langsung (directed orientation), penjelasan (explication), orientasi bebas (free orientation), dan integrasi (integration).
Fase 1 (Inkuiri/Informasi)
Dengan tanya jawab antara guru dengan siswa, disampaikan konsep-konsep awal tentang materi yang akan dipelajari. Guru mengajukan informasi baru dalam setiap pertanyaan yang dirancang secermat mungkin agar siswa dapat menyatakan kaitan konsep-konsep awal dengan materi yang akan dipelajari. Bentuk pertanyaan diarahkan pada konsep yang telah dimiliki siswa, misalnya Apa itu garis yang sejajar? Apa itu garis yang sama panjang?Apa itu sudut yang sehadap, sepihak, dan bersebrangan? Apa itu segiempat? dan seterusnya.
Informasi dari tanya jawab tersebut memberikan masukan bagi guru untuk menggali tentang perbendaharaan bahasa dan interpretasi atas konsepsi-konsepsi awal siswa untuk memberikan materi selanjutnya, dipihak siswa, siswa mempunyai gambaran tentang arah belajar selanjutnya.
Fase 2 (Orientasi Berarah)
Sebagai refleksi dari fase 1, siswa meneliti materi pelajaran melalui bahan ajar yang dirancang guru. Guru mengarahkan siswa untuk meneliti objek-objek yang dipelajari. Kegiatan mengarahkan merupakan rangkaian tugas singkat untuk memperoleh respon-respon khusus siswa. Misalnya, guru meminta siswa mengamati gambar yang ditunjukkan berupa macam-macam segiempat.
Siswa diminta mengelompokkan jenis segiempat, sesuai dengan jenisnya, setelah itu menjiplak dan menggambarkan macam-macam segiempat dengan berbagai ukuran yang ditentukan sendiri pada kertas dengan mengunakan media alat tulis. Kemudian menempelkan pada buku masing-masing. Aktivitas belajar ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar aktif mengeksplorasi objek-objek (sifat-sifat bangun yang dipelajari) melalui kegiatan seperti mengukur sudut, melipat, menentukan panjang sisi untuk menemukan hubungan sifat-sifat dari bentuk bangun-bangun tersebut. Fase ini juga bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing eksplorasi siswa sehingga menemukan konsep-konsep khusus dari bangun-bangun geometri.
Fase 3 (Uraian)
Pada fase ini, siswa diberi motivasi untuk mengemukakan pengalamannya tentang struktur bangun yang diamati dengan menggunakan bahasanya sendiri. Sejauh mana pengalamannya bisa diungkapkan, mengekspresikan dan merubah atau menghapus pengetahuan intuitif siswa yang tidak sesuai dengan struktur bangun yang diamati. Pada fase pembalajaran ini, guru membawa objek-objek (ide-ide geometri, hubungan-hubungan, pola-pola dan sebagainya) ke tahap pemahaman melalui diskusi antar siswa dalam menggunakan ketepatan bahasa dengan menyatakan sifat-sifat yang dimiliki oleh bangun-bangun yang dipelajari.
Fase 4 (Orientasi Bebas)
Pada fase ini siswa dihadapkan dengan tugas-tugas yang lebih kompleks. Siswa ditantang dengan situasi masalah kompleks. Siswa diarahkan untuk belajar memecahkan masalah dengan cara siswa sendiri, sehingga siswa akan semakin jelas melihat hubungan-hubungan antar sifat-sifat suatu bangun. Jadi siswa ditantang untuk mengelaborasi sintesis dari penggunaan konsep-konsep dan relasi-relasi yang telah dipahami sebelumnya.
Fase pembelajaran ini bertujuan agar siswa memperoleh pengalaman menyelesaikan masalah dan menggunakan strategi-strateginya sendiri. Peran guru adalah memilih materi dan masalah-masalah yang sesuai untuk mendapatkan pembelajaran yang meningkatkan perolehan berbagai performansi siswa.
Fase 5 (Integrasi)
Pada fase ini, guru merancang pembelajaran agar siswa membuat ringkasan tentang kegiatan yang sudah dipelajari (pengamatan-pengamatan, membuat sintesis dari konsep-konsep dan hubungan-hubungan baru). Tujuan kegiata belajar fase ini adalah menginterpretasikan pengetahuan dari apa yang telah diamati dan didiskusikan. Peran guru adalah membantu pengiterpretasian pengetahuan siswa dengan meminta siswa membuat refleksi dan mengklarifikasi pengetahuan geometri siswa, serta menguatkan tekanan pada penggunaan struktur matematika.
C. Pengalaman Belajar Sesuai Tahap Berpikir van Hiele
Tingkat berpikir siswa dalam belajar geometri menurut teori van Hiele banyak bergantung pada isi dan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu disediakan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan tingkat berpikir siswa. Siswa SMP/MTs pada umumnya sudah sampai pada tahap berpikir deduksi informal. Hal ini sesuai dengan pendapat van de Walle (1990:270) yang menyatakan bahwa sebagian besar siswa SMP/MTs berada pada antara tahap 0 (visualisasi) sampai tahap 2 (deduksi informal). Berikut ini dijelaskan aktivitas-aktivitas yang dapat digunakan untuk tiga tahap pertama yaitu tahap 0 (visualisasi), tahap 1 (analisis), dan tahap 2 (deduksi informal) (Crowley, 1987:7–12).
1. Aktivitas tahap 0 (visualisasi)
Pada tahap 0 (visualisasi) ini, siswa diharapkan dapat memperhatikan bangun-bangun geometri berdasarkan penampilan fisik sebagai suatu keseluruhan. Aktivitas untuk tahap ini sebagai berikut:
a. Memanipulasi, mewarna, melipat, dan mengkonstruk bangun-bangun geometri. b. Mengidentifikasi bangun atau relasi geometri dalam suatu gambar sederhana, dalam kumpulan potongan bangun, blok-blok pola atau alat peraga yang lain, dalam berbagai orientasi, melibatkan objek-objek fisik lain dalam kelas, rumah, foto, tempat luar, dan dalam bangun yang lain. c. Membuat bangun dengan menjiplak gambar pada kertas bergaris, menggambar bangun dan mengkonstruk bangun. d. Mendeskripsikan bangun-bangun geometri dan mengkonstruk secara verbal menggunakan bahasa baku atau tidak baku, misalnya kubus “seperti kotak”. e. Mengerjakan masalah yang dapat dipecahkan dengan menyusun, mengukur dan menghitung.
2. Aktivitas tahap 1 (analisis)
Pada tahap ini, siswa diharapkan dapat menyebutkan sifat-sifat bangun geometri. Aktivitas pada tahap ini antara lain: a. Mengukur, mewarna, melipat, memotong, memodelkan dan menyusun dalam urutan tertentu untuk mengidentifikasi sifat-sifat dan hubungan geometri lainnya. b. Mendeskripsikan kelas suatu bangun sesuai dengan sifat-sifatnya. c. Membandingkan bangun-bangun berdasarkan karakteristik sifat-sifatnya. d. Mengidentifikasi dan menggambar bangun yang diberikan secara verbal atau diberikan sifat-sifatnya secara tertulis. e. Mengidentifikasi bangun berdasarkan visual. f. Membuat suatu aturan dan generalisasi secara empirik (berdasarkan beberapa contoh yang dipelajari). g. Mengidentifikasi sifat-sifat yang dapat digunakan untuk mencirikan atau mengkontraskan kelas-kelas bangun yang berbeda. h. Menemukan sifat-sifat objek yang tidak dikenal. i. Menemukan dan menggunakan kata-kata atau simbol-simbol yang sesuai. j. Menyelesaikan masalah geometri yang dapat mengarahkan untuk mengetahui dan menemukan sifat-sifat suatu gambar, relasi geometri atau pendekatan berdasarkan wawasan.
3. Aktivitas tahap 2 (deduksi informal)
Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu mempelajari keterkaitan antara sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dibentuk. Aktivitas siswa untuk tahap ini dijelaskan sebagai berikut: a. Mempelajari hubungan yang telah dibuat pada tahap 1, membuat inklusi, dan membuat implikasi. b. Mengidentifikasi sifat-sifat minimal yang menggambarkan suatu bangun. c. Membuat dan menggunakan definisi. d. Mengikuti argumen-argumen informal. e. Mengajukan argumen informal. f. Mengikuti argumen deduktif, mungkin dengan menyisipkan langkah-langkah yang kurang. g. Memberikan lebih dari suatu pendekatan atau penjelasan. h. Melibatkan kerjasama dan diskusi yang mengarah pada pernyataan dan konversi. i. Menyelesaikan masalah yang menekankan pada pentingnya sifat-sifat gambar dan saling keterhubungannya.
Van de Walle (1990:270) membuat deskripsi aktivitas yang lebih sederhana dibandingkan dengan deskripsi yang dibuat Crowley. Menurut Van de Walle aktivitas pembelajaran untuk masing-masing tiga tahap pertama adalah:
1. Aktivitas tahap 0 (visualisasi)
Aktivitas siswa pada tahap ini antara lain: a. Melibatkan penggunaan model fisik yang dapat digunakan untuk memanipulasi. b. Melibatkan berbagai contoh bangun-bangun yang bervariasi dan berbeda sehingga sifat yang tidak relevan dapat diabaikan. c. Melibatkan kegiatan memilih, mengidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai bangun, dan d. Menyediakan kesempatan untuk membentuk, membuat, menggambar, menyusun atau menggunting bangun.
2. Aktivitas tahap 1 (analisis)
Aktivitas siswa pada tahap ini antara lain: a. Menggunakan model-model pada tahap 0, terutama model-model yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan berbagai sifat bangun. b. Mulai lebih menfokuskan pada sifat-sifat dari pada sekedar identifikasi. c. Mengklasifikasi bangun berdasar sifat-sifatnya berdasarkan nama bangun tersebut. d. Menggunakan pemecahan masalah yang melibatkan sifat-sifat bangun.
3. Aktivitas tahap 2 (deduksi informal)
Aktivitas siswa pada tahap ini antara lain: a. Melanjutkan pengklasifikasian model dengan fokus pada pendefinisian sifat, membuat daftar sifat dan mendiskusikan sifat yang perlu dan cukup untuk kondisi suatu bangun atau konsep. b. Memuat penggunaan bahasa yang bersifat deduktif informal, misalnya semua, suatu, dan jika – maka, serta mengamati validitas konversi suatu relasi. c. Menggunakan model dan gambar sebagai sarana untuk berpikir dan mulai mencari generalisasi atau kontra contoh.
RUJUKAN Anne. T.. 1999. The van Hiele Models of Geometric Thought. (Online) Http://euler.slu.edu/teach_material/van_hiele_model_of_geometry.html, diakses 14 Oktober 2005).
Budiarto, M.T.. 2000. Pembelajaran Geometri dan Berpikir Geometri. Dalam prosiding Seminar Nasional Matematika “Peran Matematika Memasuki Millenium III”. Jurusan Matematika FMIPA ITS Surabaya. Surabaya, 2 Nopember.
Clements, D.H. & Battista, M.T.. 1992. Geometry and Spatial Reasoning. Dalam Grouws, D.A. (Ed). Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning. New York: MacMillan Publishing Company.
Clements, D.H. & Battista, M.T.. 2001. Geometry and Proof. (Online) (Http://www.terc.edu/investigation/relevant/html/Geometry.html, diakses 14 Oktober 2005).
Purnomo, A.. 1999. Penguasaan Konsep Geometri dalam Hubungannya dengan Toeri Perkembangan Berpikir van Hiele pada Siswa Kelas II SLTP Negeri 6 Kodya Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS IKIP Malang.
Van de Walle, J.A.. 1990. Elementary School Mathematics: Teaching Developmentally.
Selengkapnya.....

Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi bagus untuk mendapatkan beasiswa Prestasi dan Beasiswa Khusus Keluarga Kurang Mampu. Setelah diadakan seleksi oleh Kemenag RI lewat koordinasi dengan Kopertais Wilayah IV Surabaya, maka Fakultas Agama Islam UNISMA memutuskan kepada nama-nama berikut ini untuk menerima bantuan beasiswa mahasiswa Prestasi dan beasiswa mahasiswa kurang mampu. Berikut ini adalah nama-nama mahasiswa yang memperoleh beasiswa yang dimaksud :
1 ABDUL HAMID ZAINURI
2 ABDULLAH HUSNUL MUNIR
3 AHMAD AVISENA
4 AHMAD SUFYAN ALI
5 AHMAD ZAINI
6 ALFIN AZIZI
7 ALIFATUN NISA
8 AMIN MUSTOFA
9 NAILAH MASRUROH
10 ANNISAH
11 ARIF YULIANTO
12 ARYA ZUKHRIFAH
13 AS'ADATUN NISA'
14 ADI SUSANTO
15 CHOIRUN NISA'
16 AZIZAH RAHMAWATI
17 DEWI ISNANIK
18 DIAN IRAWATI
19 ERLINDA MAGHFIROH
20 NURUL WIJIATI
21 FARDIAN NAFISAH
22 FRIDA ZAKIYA SUSANTI
23 IKE WIDYA SANTININGTYAS
24 IMAM SYAFI'I
25 KHUSNUL KHOTIMAH
26 LAILATUL FITRIAH CHAMID
27 LU'LU' ATUL MAJIDAH
28 LISTIN MARDIANA
29 LUTFIATUL UMMAH
30 MIFTAHUL JANNAH
31 MISKIYAH YUANITA
32 MOHAMMAD HERI MASHADI
33 M.ROBI DARWIS
34 NILNA IZZATUL ULYA
35 NI'MATUL LAILIK
36 NUR ASMA
37 NURUL SOFIYAH
38 RATNA MUFIDAH
39 FARIANA SULISTIANA
40 RITA ISMATUL KHOIROH
41 ROHMAT SHOBARI
42 SHELLA KARTIKA DEWI
43 SITI MUHAYEROH
44 YULI DWI INDAHWATI
45 YUSRAN HABIBI
46 ZULFAYANI
47 YANIK INDRAWATI
48 MARTHINA KUMALASARI
49 AHMAD MUHAIMIN
50 MUFIDHATIN NASHIHAH
51 IMAADU DAARIL ABROOR
52 ZETIK ROFIQOH
53 ARIF RACHMAN
54 LINDA ROHYANI
55 CHOIRUR ROZIQIN
56 DIDIN WAHYUANTO
57 HARI TRISNANING ATI
58 HIKMATUL MAHFUDHOH
59 HOMSIN
60 M. SYAIFUL ARIF
61 MOKH. AFIF ABDUL WAHID
62 MUHAMMAD UMAR JAILANI
63 NIDA ZDU SURAIYAH
64 PRIYO HARDIANSYAH
65 WARDATUL ULA
66 SUFIYAH
67 USWATUN HASANAH
68 WIWIK NURUL LATIFAH
69 ZULIATUL MASRUROH
CATATAN
Kepada nama-nama mahasiswa yang disebut dalam daftar penerima beasiswa tersebut supaya menyerahkan Fotocopy KTP yang masih berlaku. Adapun yang dicopy adalah bagian DEPAN dan BELAKANG KTP sebanyak 2 buah dan copy KTP diperbesar hingga ukuran 150 % dalam kertas ukuran FOLIO. Terakhir pengiriman KTP hari Sabtu, 29 September 2012 pukul 18.00 di kantor TU FAI UNISMA.
Bagi yang melewati tenggat waktu yang telah ditentukan dinyatakan gugur dan akan dicoret dari peserta penerima beasiswa prestasi dan kurang mampu.
Khusus nama-nama mahasiswa berikut supaya mengumpulkan fotocopy ijazah SMU sebanyak 2 lembar :
1. AHMAD AVISENA
2. NAILAH MASRUROH
3. ARIF YULIANTO
4. NILNA IZZATIL ULYA
5. WARDATUL ULA
Selengkapnya.....

BEASISWA

FAI Unisma tidak henti-hentinya memberikan kesempatan kuliah dengan biaya studi penuh dari UNISMA, kepada lulusan MA / SMU / Sederajat. Dalam kesempatan kali ini penawaran Bea Siswa ditujukan terutama kepada calon mahasiswa yang memiliki background ustadz pada Madrasah Diniyyah.

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya calon mahasiswa yang diberi kesempatan untuk bisa mengikuti program ini haruslah yang memiliki latar belakang pendidikan keagamaan dan terutama sekali adalah guru / ustadz yang sudah mengabdi pada lembaga Diniyyah. Jika pada penerimaan mahasiswa program MADIN sebelumnya tidak dikenai persyaratan pembatasan umur, maka untuk kali ini pihak panitia memberikan batasan usia peserta minimal 22 tahun dan maksimal 45 tahun pada tanggal 1 September 2012 ini.

Pendaftaran calon mahasiswa baru penerima Beasiswa Madin Prodi PAI ini mulai dilaksanakan sejak tanggal 2 Agustus - 16 Agustus ( untuk Tahap Pertama ) dan tanggal 24 - 28 Agustus 2012 ( untuk tahap Kedua ), sesuai jam kerja yakni pukul 09.00 - 13.00 WIB. Proses seleksi calon mahasiswa melalui ujian lisan berupa tes membaca kitab " Fathul Qarib" yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2012 pukul 08.30 di Gedung F Unisma. Bagi peserta ujian yang lulus ujian lisan diharuskan mengikuti ujian Psikotes yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 1 September 2012.

Adapun pengumuman kelulusan peserta ujian dapat dilihat di papan pengumuman FAI UNISMA, atau di http://www.fai-unisma.ac.id pada tanggal 3 september 2012. Informasi lebih detil tentang persyaratan dan formulir pendaftaran silahkan klik di sini
Selengkapnya.....

Oleh : Khoirul Asfiyak

Semua orang yang menyaksikan peristiwa ditabraknya gedung WTC oleh pesawat yang diduga pelakunya adalah aktivis al Qaida, tentu tidak akan pernah bisa melupakan peristiwa hebat itu. Apalagi saksi mata yang menyaksikan dan mengalami langsung kejadian itu kemungkinan besar akan trauma sepanjang hidupnya.
Sejak peristiwa itu semangat anti Islam dan perasaan Islamphobia begitu menguat di Amerika dan seluruh dunia internasional. Dampaknya masyarakat muslim yang hidup di negara non muslim mengalami teror dan antipati dari warga non muslim lainnya. Namun dibalik peristiwa itu masih menyisakan sejumlah teori yang diyakini bisa menjelaskan siapa sebenarnya pelaku dan Inisiator dari kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada tanggal 11 september itu.

Para ahli sudah berusaha menguak beragam teori konspirasi penabrakan pesawat itu dengan sejumlah asumsi dan analisis yang hingga kini masih belum memuaskan banyak pihak. Mengurai kejadian besar, dahsyat dan sedikit sentuhan rekayasa tentu pekerjaan yang sangat berat. Akan tetapi kebenaran akan selalu berpihak,dan selalu berada di depan, meski kadang selalu mendapat cibiran atau bahkan 'Penyangkalan' dari orang yang dituduh atau tidak setuju dengan kebenaran itu.

Berikut ini adalah tayangan video yang berusaha memberikan sekelumit informasi berharga mengenai dugaan adanya Konspirasi Terencana oleh 'Oknum' yang diduga merencanakan penghancuran gedung WTC. Video berikut ini hanyalah deskripsi singkat tentang konspirasi itu dan tidak menggambarkan detil proses bagaimana Konspirasi itu mampu menghancurkan gedung kembar WTC dalam waktu yang singkat.



Dari analisis sederhana dapat kita simpulkan bahwa konstruksi gedung WTC tentulah dirancang dengan bahan-bahan yang tahan gempa, tahan api dan tahan bencana alam lainnya. Seperti bahan Molten Metal, salah satu konstruksi yang digunakan oleh gedung WTC ternyata ia termasuk Besi meleleh yang ditemukan baik di WTC menara utara, menara selatan & WTC gedung 7 dan fakta ini sangat menarik perhatian Professor Steven Jones. Steven Jones adalah Dia adalah peneliti utama eksperimental muon-katalis fusi 1982-1991 untuk Departemen Energi AS, Divisi Proyek Energi Advanced Amerika. Dari tahun 1990 sampai 1993, Jones mempelajari fusi dalam fisika benda terkondensasi dan deuterium di bawah Departemen Energi dan sponsor Electric Power Research Institute Amerika Serikat. Jones juga berkolaborasi dalam percobaan di laboratorium fisika lainnya, termasuk Triumf (Vancouver, British Columbia), KEK (Tsukuba, Jepang), dan Rutherford Appleton Laboratory di Universitas Oxford.

Pada tanggal 22 September 2005 Jones menyajikan pandangannya tentang runtuhnya menara World Trade Center dan World Trade Center 7 pada seminar di Brigham Young University ( BYU ) yang dihadiri oleh sekitar 60 orang ahli fisika. Menunjuk pada kecepatan dan simetri runtuh, karakteristik jet debu, laporan saksi mata ledakan gedung WTC, balok sebagian berkarat, logam cair di ruang bawah tanah yang masih merah panas seminggu setelah kejadian, dan gagasan bahwa tidak ada kenaikan tingginya suhu udara yang diakibatkan kebakaran, Jones menduga adanya teori peenghancuran terkontrol dalam kasus itu , sekaligus menyarankan untuk meneliti kembali melalui penggunaan nanothermite, jejak yang ditemukan dalam debu abu-abu / merah serpih. Dia menyatakan juga bahwa dalam sampel bekas reruntuhan gedung terdapat produk reaksi termit, aluminium oksida dan bola besi kecil juga dalam debu. Dia menyerukan penyelidikan ilmiah lebih lanjut untuk menguji teori penghancuran yang terkontrol dan pembukaan semua data yang relevan oleh pemerintah.

Hal ini dikarenakan konstruksi WTC terbuat dari "HIGH RISE STEEL FIRE PROOF CONSTRUCTION" yang FIRE PROOF atau Tahan API.Sehingga dalam kondisi api bagaimana pun maka konstruksi akan tetap terjaga.Dan tidak ada di dunia ini, di belahan bumi manapun, konstruksi HIGH RISE STEEL FIRE PROOF CONSTRUCTION dapat leleh hanya karena kebakaran biasa. Apalagi dalam kejadian WTC dimana seluruh konstruksi menjadi debu dengan hanya meninggalkan sangat sedikit sekali sisa.

Besi/baja hanya dapat meleleh jika dibakar dengan suhu yang sangat tinggi.
Dan ini tidak mungkin terjadi pada LANTAI DASAR dari WTC menara utara & WTC menara selatan serta WTC gedung 7.Dan barang bukti YANG DITEMUKAN ialah bukan dari hasil reaksi besi atau baja, tapi hasil dari reaksi THERMITE, sebuah bahan kimia yang sering digunakan dalam penggunaan bahan peledak tinggi.

Jika THERMITE digunakan, maka berarti CONTROLLED DEMOLISION / penghancuran gedung terkontrol. Dan jika CONTROLLED DEMOLISION, maka ini artinya dikerjakan oleh orang dalam / pemerintah.Semua ini karena untuk memasang bahan peledak ini dibutuhkan waktu paling kurang 1 bulan untuk mempelajari & memasang bahan peledak pada tempat yang ditentukan sebanyak 109 tingkat WTC dikali 2 gedung dengan konstruksi berbeda sehingga total setidaknya 218 tingkat !!! Belum lagi WTC gedung 7 yang juga ikut diledakkan dengan puluhan kejanggalan yang tidak masuk akal… Mustahil dalam tempo 1 jam dapat menyiapkan & memasang peledak sedemikian banyaknya untuk meledakkan WTC gedung 7.

setelah Professor Steven Jones giat mengkampanyekan usaha-usaha untuk menyelidiki teori konspirasi itu, mendadak artikel beliau di wesite BYU dihapus oleh admin universitas dan beliau 'dipurnatugaskan' ( sekedar menjadi paid leave professor) dari jabatannya di lembaga pendidikan BYU tersebut. Meski demikian kertas kerja prof steven Jones menarik banyak minat ilmuwan untuk meneliti lebih lanjut .

Bagaimanapun juga postingan sederhana ini adalah lebih bersifat informatif belaka dan tidak bermaksud untuk menguak kebenaran konspirasi yang terjadi dalam peristiwa tabrakan gedung kembar WTC. Informasi dalam batas sekecil apapun akan sangat berharga jika di dalamnya mengandung nilai-nilai kebenaran. Semoga Kebenaran terungkap dan kejahatan dilenyapkan dari muka bumi ini. Amin Ya Rabbal 'Alamin
Selengkapnya.....

Oleh : Khoirul Asfiyak, M.HI

Sementara pendapat yang kedua diwakili oleh filsuf abad modern lainnya, yakni Francis Bacon ( 1561- 1626 ). Menurutnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi cara berfikir manusia yang dalam istilah filsafah ia sebut sebagai “Idols of Mind”. Faktor-faktor itu adalah : Idols of The Tribe, Idols of The Den, Idols of The Market dan Idols of The Theatre. Keempat-empatnya biasa disebut sebagai teori Arca atau Teori Patung.

Idols of The Tribe ( Arca Suku ) dalam pandangan Francis Bacon dikonsepsikan sebagai suatu bentuk hambatan dalam berfikir logis dan lurus. Alur fikir manusia seringkali tidak bisa memahami obyek pengetahuan , disebabkan ia terpengaruh oleh pendapat dan pemikiran kelompok , golongan atau suku (tribe) –nya. Alur fikir yang disusun tidak berdasarkan suatu metode yang sistematik dan saintifik, melainkan pemikiran manusia yang mengalami Idols of The Tribe ini akan senantiasa merujuk dan berpegang teguh pada pemikiran kelompok, dan golongan tertentu yang diyakini kebenarannya. Tanpa sekalipun ia menaruh kecurigaan terhadap validitas dan kelayakan hasil pemikiran kelompoknya itu. Setiap pemikiran orang lain yang berbeda dengan hasil pemikiran kelompok yang dianutnya, dianggap salah dan tidak bernilai. Dengan demikian metode berfikir seseorang dalam kerangka Idols of The Tribe ini selalu berbeda dalam kesimpulan yang dihasilkannya dan tidak bisa melihat kebenaran pada pemikiran kelompok lainnya.

Kondisi inilah yang senantiasa memicu ikhtilaf di kalangan umat islam, karena sebagian besar kaum muslimin lebih suka memegangi hujjah kelompok / golongannya tanpa disertai pemahaman yang memadai validitas dan ketepatan hujjah imam mazhabnya. Dan yang lebih parah dari semua itu adalah fanatisme buta pada imam mazhabnya, sekalipun seseorang mampu mengenali bahwa hujjah imamnya lemah, namun karena fanatisme yang berlebihan pada sang imam, ia lebih suka mengikuti gagasan fiqhiyyah imamnya.

Sebagaimana yang disinggung oleh al ‘Allamah Syah Waliyullah al Dihlawy ( Tt : 90 ) berikut ini :

“...Sungguh mengherankan, para ulama yang taqlid itu sebenarnya mengetahui bahwa argumen imamnya lemah dan dia tidak mampu untuk mempertahankannya, akan tetapi ia tetap saja taqlid. Dan dia meninggalkan pendapat ulama lain yang jelas, yang berdasarkan al Qur’an dan al Hadis ataupun berdasarkan Qiyas yang Shahih, hanya karena kefanatikannya dalam bertaqlid...”

Sementara Idols of The Den adalah keterkungkungan alur fikir manusia oleh hasil pemikirannya sendiri sehingga ia tidak dapat melihat realitas di luar hal-hal yang difikirkan oleh akalnya. Ini adalah sejenis hambatan ( arca ) yang diakibatkan oleh gangguan yang bersifat psikologis. Ibaratnya ia berfikir sendirian di tengah hutan atau di dalam gua yang sepi yang tidak ada orang lain yang bisa mendengar, memperhatikan dan mendebat pendapat atau hasil pemikirannya. Seolah-olah tidak ada kebenaran lain selain kebenaran yang berasal dari dirinya. Hambatan jenis ini seringkali disebabkan oleh tingkat pendidikan /wawasan seseorang yang sempit dan terbatas atau bisa juga diakibatkan oleh kukuhnya ia memegangi pengetahuan yang didapatnya dari otoritas yang sangat ia kagumi. Orang yang dihinggapi oleh Syndrome Idols of Den ini sangat sulit berbagi kebenaran dengan orang lain, sekaligus penghargaannya terhadap gagasan dan pemikiran orang lain sangat sedikit. Dengan demikian bila persoalan ini ditarik dalam wilayah khilafiyah antar mazhab, maka kecil sekali kemungkinan umat Islam bisa bersatu pendapat dan mencapai satu kesatuan ide dalam memproduk hukum yang bisa mengayomi kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Alih-alih kompromi atas hasil pemikiran ijtihadiyyah mujtahid itu, yang terjadi justru saling menyalahkan dasar-dasar istinbathiyah setiap hasil pemikiran ulama tersebut.

Arca yang ketiga adalah Arca Pasar ( Idols of The Market ) maksudnya adalah hambatan yang sering mengganggu kejernihan arus pemikiran manusia akibat banyaknya orang / pemikir / filsuf / cendekiawan yang pendapatnya ia dengar / pelajari sehingga ia merasa kesulitan untuk menentukan pendapatnya, atau jikapun ia menentukan pendapatnya, hasil pemikirannya itu tidak berdasarkan pemikirannya yang orisinil melainkan berdasarkan pendapat banyak orang. Laksana dalam keriuhan pasar, orang berdebat dan berargumentasi untuk sesuatu yang belum tentu diketahui nilai dan kualitas barang yang hendak dibelinya. Sama halnya dengan orang yang memikirkan , mengkaji dan membahas suatu obyek pengetahuan setiap diskusi debat dan argumentasi yang ia bangun sama sekali tidak memperjelas obyek itu sendiri. Alih-alih pemahaman tentang obyek pengetahuan bisa bisa tersusun, yang terjadi justru pertengkaran dan kesalahan-kesalahan yang tidak berujung pangkal. Sebagaimana perdebatan pengikut mazhab Syafi’iyyah dengan Hanafiyah, fokus perdebatan tidak tertuju pada substansi persoalan, akan tetapi lebih pada bagaimana mempertahankan pendapat guru atau tokoh mazhabnya dengan cara mengenyampingkan kekurangan dan kelemahan hujjah yang digunakan oleh gurunya. Sehingga dampak lebih lanjut ummat terpecah dalam beberapa kolompok yang fanatik terhadap qaul imam mazhab dan tidak kritis terhadap dasar-dasar argumentasi yang digunakan oleh imam mazhabnya itu.

Terakhir adalah Arca Panggung ( Idols of the Theatre ) ini adalah cara lain Francis Bacon mendeskripsikan pengetahuan filsafat dan ilmu yang selama ini menjadi penghambat diperolehnya pengetahuan yang sebenarnya. Kita telah didominasi oleh Idols of the Theatre karena sistem filsafat yang telah kita terima selama ini hanya menciptakan dunia teater atau dunia permainan. Para filsuf hanya memberikan permainan kata-kata atau konsep belaka. Idols jenis ini kata Bacon bersumber dari dogma dan pemikiran para filsuf. Hambatan semacam ini berasal dari keterpesonaan dan kekaguman seseorang pada tokoh besar, pemikir dan ilmuwan yang dalam anggapannya memiliki seluruh pengetahuan yang pernah ada.

Seseorang yang tengah memikirkan suatu obyek pengetahuan merasa tidak percaya diri dengan hasil pemikirannya sendiri, kecuali ia merujuk dan mengutip pendapat tokoh atau ilmuwan yang ia kagumi. Suatu pemikiran, perdebatan dan adu argumentasi akan diterima hasil dan kesimpulannya, jika dalam arus perdebatan itu disebutkan nama-nama tokoh pengggagas ilmu pengetahuan beserta hasil pemikiran mereka. Ada semacam keterikatan diri pada kata-kata atau pendapat tokoh besar, sosok figur yang mempesonakan dan mampu menyihir akal sehat manusia, sehingga ia tidak bisa berfikir logis. Keterikatan dan keterpesonaan pada tokoh besar yang berbeda jelas menimbulkan kesalahan dan perbedaan pendapat di antara manusia.
Sementara itu di dalam wacana ilmu keislaman –khususnya ilmu ushul fiqh- terdapat sebuah qaidah yang menyatakan bahwa :


Maksudnya : “ Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum dikarenakan oleh perbedaan zaman, tempat atau kondisi”

Menilik pengertian qaidah fiqhiyyah tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia mempunyai kecenderungan atau bakat untuk senantiasa berbeda pendapat (terutama dalam masalah hukum fiqhiyah ) perbedaan pendapat itu sebagaimana bunyi qaidah tersebut bisa jadi karena perbedaan kondisi geografis, antara masyarakat tipe perkotaan ( Hadlarah ) dengan masyarakat pedesaan ( Baduwi ) jelas pola pemikiran mereka akan sangat dipengaruhi nilai-nilai lokal yang tumbuh berkembang dalam kesadaran masyarakat tersebut. Demikian juga faktor perbedaan zaman dengan segala bentuk permaslahan dan dinamikanya tentu berbeda-beda tiap generasi. Lebih-lebih perbedaan kondisi sosial masyarakat baik dari sisi sosial, ekonomi, pendidikan, filosofi yang dianut masyarakat tertentu, pastinya memberi andil dalam membentuk siap dan pola pikir masyarakat tersebut. Oleh karena itu para ulama ahli ushul bersikap sangat arif dalam memberikan toleransi terhadap setiap perbedaan pendapat yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Di sisi lain terdapat sebuah riwayat –sekalipun masih diperselisihkan kesahihannya-, betapapun sangat masyhur di kalangan umat Islam, yang bisa dijadikan dasar normatif bahwa perbedaan pendapat di kalangan manusia itu adalah suatu hal yang lazim terjadi. Bahkan ia merupakan salah satu bentuk rahmat yang diberikan Syari’ kepada umatnya. Riwayat tersebut adalah :

Artinya : Perbedaan pendapat di kalangan ummatku adalah rahmat

Hadits ini dikeluarkan oleh Nashr al-Maqdisi dalam al-Hujjah, al-Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyah tanpa sanad [mu’allaq] begitu juga al-Halimi, Qadhi Husain, Imam Haramain dan lain-lain. Dan dalam menyampaikan hadits ini, mereka semua tidak menggunakan shighat pasti tapi menggunakan kata-kata “diriwayatkan”. Dan sebenarnya ini sudah termasuk bukti bahwasannya hadits di atas tidak maudhu'. Lantaran tidak mungkin mereka rela memasukkan hadits palsu atau maudhu' kedalam kitab-kitab mereka. Padahal kita tahu, mereka adalah kritikus-kritikus dalam bidang hadits yang handal (http://warkoplalar.blogspot.com/2011/05/perbedaan-itu-rahmat.html )

Berdasarkan riwayat ini dapat dipahami bahwa Syari’ sebagai satu-satunya yang berhak menetapkan hukum mengakui bahwa keragaman pendapat merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal, ia adalah sunnatullah. Bahkan lebih dari itu ia adalah rahmat yang diberikan Syari’ untuk ummatnya. Memaksakan kesatuan pendapat dalam masyarakat yang pluralis adalah tidak bijaksana dan mengingkari sisi humanisme yang melekat secara inheren dalam diri manusia.

Bahkan Nabi Muhammad SAW mengakui bahwa beliau sekalipun adalah utusan Allah, tidak mengetahui secara pasti kebenaran haqiqi terhadap suatu persoalan yang dihadapi atau diajukan kepada beliau. Bisa jadi Nabi memutuskan suatu perkara berdasarkan kebenaran, bisa jadi pula terdapat kekeliruan dari putusan yang telah dijatuhkan oleh beliau itu. Hanya bedanya kekleiruan ijtihad yang dilakukan oleh Nabi SAW senantiasa dikoreksi oleh wahyu, sehingga tidak mungkin Nabi SAW dibiarkan membuat keputusan yang salah terhadap ummatnya ( al Khatib, 1989 : 29 ). Hadis tersebut berbunyi :



Maksudnya : sesungguhnya saya adalah manusia biasa, suatu saat jika kamu mengajukan suatu perkara kepadaku sembari membawa bukti yang kuat (argumentatif) maka keputusanku berdaarkan bukti tersebut. Oleh karena itu barangsiapa aku menangkan perkaranya padahal ia tidak berhak atas perkara itu, hendaklah jangan diterima, karena sesungguhnya (sama saja) aku potongkan baginya potongan api neraka

Berdasarkan hadis tersebut maka jelas bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengetahui secara pasti benar tidaknya sebuah persoalan. Apalagi manusia kebanyakan tidak memiliki kapasitas sebagaimana Nabi. Nabi Muhammad SAW hanya mengetahui hal-hal-hal yang dhahir semata berdasarkan data atau bukti yang diajukan kepada beliau. Oleh karena itu jika di tengah-tengah masyarakat terdapat perbedaan terhadap sebuah persoalan maka hal itu bisa dimaklumi.
Mengakhiri sub bab ini penting untuk diketengahkan sebuah maqalah Arab yang sangat terkenal yakni:


Maksudnya “ Metode lebih penting ketimbang essensinya “

Berdasarkan ruh/semangat dari maqalah ini nampaknya yang menjadi perhatian utama dalam Islam bukannya esensi / substansi persoalan itu benar atau tidak, akan tetapi lebih melihat pada aspek di luar persoalan itu, cara-cara , maksud, tujuan dan motivasi yang digunakan dalam mengkaji dan memamhami persoalan itu yang penting untuk diketengahkan. Nampak dalam beberapa hadis Nabi lebih berorientasi terhadap motif, metode (sesuatu yang ada di luar ) perbuatan seseorang daripada hasil, nilai atau validitas dari perbuatan itu. Terdapat hadis yang mendukung pernyataan ini , yakni dalam kasus perang dengan qaum Bani Quraizhah , di mana Nabi berpesan agar pasukan tidak sholat Ashar sebelum sampai di perkampungan Bani Quraizhah, dikarenakan perbuatan makar yang dilakukan oleh kaum tersebut. Bunyi hadisnya adalah :


( Janganlah kalian sholat Ashar kecuali jika telah sampai di perkampungan Bani Quraizhah )

Akan tetapi sebagian sahabat ada yang sholat di tengah jalan, sekalipun belum sampai di perkampungan tersebut, dengan alasan sudah masuk waktu sholat ashar. Sementara sebagian sahabat tidak sholat Ashar, sekalipun sudah masuk waktu sholat Ashar, karena belum mencapai atau memasuki area kampung Bani Quraizhah. Dengan demikian terdapat perbedaan pendapat dalam menyikapi maksud dan tujuan perintah Nabi tersebut. Sehingga pada akhirnya satu kelompok pasukan melakukan sholat Ashar tepat pada waktunya meskipun secara lahiriyah bertentangan dengan perintah Nabi. Sementara kelompok kedua melaksanakan sholat Ashar sesuai dengan perintah lahiriyah Nabi, betapapun sholat Asharnya itu dilakukan di luar waktu yang telah ditentukan oleh Nash ( artinya sudah memasuki waktu sholat Maghrib/Isya’ ). Setelah pasukan tersebut menyelesaikan peperangannya di perkampungan Bani Quraizhah , sebagian dari mereka menghadap Nabi dan menceritakan perihal perbedaan pendapat di kalangan sahabat itu. Terhadap kasus ini Nabi tidak menyalahkan atau membenarkan salah satu dari kedua pihak yang saling berbeda pendapat itu. Nampaknya yang penting bagi Nabi adalah bahwa sekalipun kedua kelompok itu berbeda pendapat , namun tujuan kedua kelompok pasukan itu adalah sama, yakni sama-sama ingin mematuhi dan menjalankan perintah / ajaran Islam. Kedua kelompok tersebut berbeda pendapat, perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah dalam rangka ketaatan terhadap syari’at.

Sementara itu untuk memahami fenomena beragamnya pola pemikiran hukum imam mazhab, dapat didekati dengan teori deterministik yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Sebelumnya perlu dicatat bahwa manusia dan kemanusiaan yang menjadi obyek disiplin ilmu sosial ( fiqh/hukum adalah pranata sosial ) serta tingkah laku mereka sangat terbuka untuk dipengaruhi oleh hal-hal di luar dirinya. Seseorang bisa mempengaruhi bahkan memaksa orang lain agar melakukan perbuatan tertentu atau juga membatalkan perbuatan yang telah direncanakannya.
Manusia sebagai obyek ilmu sosial juga bisa melakukan penentangan (protes) terhadap sebuah situasi, sesuatu yang tidak ditemukan dalam ilmu kealaman. Penentangan terhadap situasi sosial tertentu dengan berbagai tingkat dan metodenya itu, menggambarkan adanya kekuatan subyektif dan karena itu obyek ilmu sosial harus bersifat obyektif.

Dalam analisis Durkheim , fakta-fakta sosial merupakan hal yang bersifat eksternal bagi individu. Sesungguhnya seseorang itu lahir di tengah masyarakat yang telah memiliki suatu organisasi dengan struktur tertentu yang pasti akan mempengaruhi kepribadiannya. Di sinilah substansi dari teori Deterministik oitu bermula sekaligus mencoba menggambarkan keterikatan individu terhadap masyarakat ( suatu organisasi sosial) (Craib, 1986 : 31-32 ).

Berdasarkan perspektif ini dapat dijelaskan bahwa manusia akan saling mempengaruhi atau saling dipengaruhi oleh sistem sosial ( dalam tingkat dan metode berbeda) yang berlaku aatau berlangsung di tengah-tengah masyarakat itu. Jika sistem sosialnya menolerir terhadap setiap perbedaan yang menucul maka tidak dapat diharapkan dalam masyarakat itu akan tumbuh suatu kesamaan atau kesatuan pendapat di antara unit-unit sosialnya. Menjadi suatu keniscayaan bila sistem sosialnya menganut paham pluralisme dan keberagaman nilai, maka ia akan menuntut bagi setiap individu untuk mengikuti dan memahami sistem yang berlaku itu.

Bagaimana cara memahami bahwa setiap individu akan terpengaruh oleh sistem sosial di sekitarnya ? selain dengan pendekatan Deterministik, Emile Durkheim juga menteorikan suatu analaisa yang menyeluruh tentang aspek evolusi sosial yang dalam pandangannya terbagi dalam dua kategori, yakni apa yang dinamakan dengan Solidaritas Mekanik ( Mechanical Solidarity ) dan Solidaritas Organik ( Organic Solidarity ) . Solidaritas Mekanik adalah semacam kategori bagi sebuah masyarakat primitif dan sederhana di mana nilai-nilai pekerjaan, keahlian dan profesionalitas masyarakatnya amat terbatas. Satu-satunya ikatan ( Bond or Glue ) masyarakat dalam tipe atau jenis ini adalah unsur keseragaman dan kesatuan ( Sameness / Similiarity ) dengan kata lain gap, jarak atau perbedaan antar individu tidak terlalu banyak ditemukan. Semua orang merasa terlibat dan terikat dalam keseluruhan aktifitas hidup sehari-hari secara kolektif. Muncullah apa yang dinamakan dengan kesadaran kolektif ( Consience Collective ) suatu kesadaran yang berupa wujud identiitas, perasaan dan pemikiran kelompok. Seluruh pengalaman , perasaan dan pernyataan perilaku kesehariannya dan kepercayaannnya ( pada sang ghaib ) seketika menjadi sama. Nilai-nilai individualisme –keinginan untuk berbeda pendapat, sikap/cara hidup- hampir-hampir tidak eksis lagi dan hal yang demikian ini memang tidak ditoleransi oleh kesadaran kolektif mereka. Oleh karena itu nilai moralitas seseorang diukur dari partisipasi atau keterikatan mereka dalam kesadaran kolektif itu ( Milovanovic, Tt : 25 ).

Adapun yang kedua adalah Solidaritas Organik , yakni semacam kategori bagi sebuah masyarakat yang eksis dalam dunia yang sudah maju/metropolitan/masyarakat urban, yang jenis-jenis pekerjaan, keahlian dan profesionalitas masyarakatnya amat beragam. Adapun yang menjadi ikatan / ciri identitas masyarakatnya adalah Mutual Dependence, yakni suatu keadaan yang lebih mengikat dibanding solidaritas mekanik, karena hal itu didasarkan pada unsur yang saling membutuhkan/ketergantungan antar individu dalam masyarakat tersebut. Dalam jenis masyarakat organik ini kesadaran kolektif jadi lemah, hilang dan tergantikan oleh kesadaran inidividualistik. Orang tidak lagi memiliki identitas bersama yang disepakati, melainkan mereka lebih mementingkan keakuannya ( Individualisme) –nya ( lihat juga http://blog.ub.ac.id/noermalasari/2012/03/13/teori-ilmu-sosial-2/ bandingkan tulisan serupa yang berkaitan dengan isu ini dengan http://fisip.uns.ac.id/blog/purwitososiologi/2011/06/13/solidaritas-mekanis-dan-solidaritas-organis-emile-durkheim/).

Oleh karena itu fenomena perbedaan pendapat dalam masyarakat muslim dahulu dan sekarang ini, dalam pandangan Emile Durkheim , bisa dimaknai akibat perubahan sosial masyarakatnya dari masyarakat sederhana, primitif ( Mekanik ) menuju masyarakat Modern, maju ( organik ), karena memang nilai-nilai lama telah tergantikan oleh nilai-nilai yang baru. Perubahan sosial atau evolusi sosial itu terjadi karena faktor Determinisme sejarah yang mau atau tidak mau selalu eksis ketika sarana dan prasyarat yang dibutuhkannya telah tersedia. Teori Deterministik ini juga mengajarkan bahwa jika fakta sosial telah eksis, maka nilai yang baru masuk dalam fakta sosial itu harus menyesuaikan diri atau secara sadar atau tidak sadar terpengaruhi oleh fakta-fakta sosial tersebut.

Dengan meminjam pisau analisis Durkheim maka perbedaan pendapat di kalangan ulama ( mujtahid) adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, karena telah terjadi sebuah perubahan sosial dari masyarakat yang sederhana (komunal )menuju masyarakat yang serba kompleks ( Individual ). Sikap mencerca apalagi memusuhi setiap perbedaan pendapat yang muncul berkaitan dengan gagasan pemikiran dalam wilayah fiqhiyyah adalah sikap yang kekanak-kanakan dan dalam batas tertentu justru melampaui garis ketentuan sunnatullah. Sikap yang arif dan bijaksana adalah menjaga atmosfir kedamaian dan saling menghargai terhadap ikhtilaf yang muncul sembari berusaha mencari celah bagi harmonisasi perbedaan pendapat yang ada. Sehingga umat tidak lagi dibingungkan dengan beragam praktek ibadah dan multi tafsir terhadap ketentuan nash yang ada, karena fenomena tersebut adalah bagian dari kehidupan manusia yang wajar.
Selengkapnya.....

Oleh : Khoirul Asfiyak. M.HI

A. Pendahuluan
Ikhtilaf menurut bahasa adalah perbedaan faham / pendapat yang akar istilah ini sejatinya berasal dari bahasa arab. Pada mulanya asal katanya adalah Khalafa, Yakhlifu, Khilafan yang maknanya lebih umum daripada al dhiddu, sebab setiap yang berlawanan : al dhiddain pasti akan saling bertentangan/mukhtalifan . Menurut istilah, Ihktilaf adalah perbedaan pendapat antara dua orang atau lebih terhadap suatu obyek ( masalah ) tertentu, baik berlainan itu dalam bentuk tidak sama, ataupun bertentangan secara diametral. Adapun yang dimaksud dengan al ikhtilaf dalam tradisi pemikiran fiqhiyyah adalah tidak samanya atau bertentangannya penilaian (ketentuan) hukum terhadap suatu obyek hukum.

Sedangkan yang dimaksud dengan ikhtilaf dalam pembahasan ini adalah perbedaan pendapat para ulama dalam hal:
Pertama : terhadap eksistensi Nash beserta nilai / kualitas kehujjahannya sebagai sumber hukum Islam ( Mashadir al Tasyri’ )
Kedua : perbedaan pendapat ulama dalam menerapkan sebagian ketentuan hukum Islam yang bersifat Furu’iyyah dan bukannya pada masalah hukum Islam yang bersifat Ushuliyyah, yang disebabkan oleh perbedaan cara pemahaman dan penggunaan metode dalam menetapkan pendapat mereka itu. Oleh karena itu pembahasan dalam kajian ini akan lebih difokuskan pada kajian tentang fenomena perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab maupun ikhtilaf yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim sekarang ini. Kajian sederhana ini terutama ditujukan pada akar historis dan sosiologis yang diharapkan bisa menguak tabir maraknya ikhtilaf di kalangan umat Islam.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa ikhtilaf yang berkembang dalam tradisi keilmuan muslim bisa dikategorikan dalam dua aspek, yakni :

Pertama: Khilaf Tadhod (Yaitu khilaf yang di dalamnya terjadi sebuah kontradiksi) seperti masalah dalam hal menyentuh wanita membatalkan wudhu’ atau tidak, keluarnya darah membatalkan wudhu atau tidak, khomr najis atau bukan, zakat tijaroh (perdagangan) ada atau tidak. Khilaf seperti ini masuk dalam kategori khilaf tadhod –maksudnya khilaf yang saling bertentangan (kontradiksi). Perlu dipahami bersama bahwa khilaf seperti ini bisa dipastikan: tidak mungkin semua pendapat benar, karena secara substansial ‘sabda’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya.

Kedua: Khilaf Tanawu’ (Yaitu perbedaan yang sumbernya adalah keragaman pengamalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam): misal, perbedaan bacaan doa iftitah, bacaan dzikir ketika sujud, dan bacaan duduk diantara dua sujud. Dalam masalah doa iftitah misalnya, ummat Islam menjumpai di dalam kitab-kitab fikih terjadi perbedaan. Syafi’iyah memilih doa iftitah dengan lafadz: Wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawati wal Ardh, Hanafiyah memilih lafadz: Subhanakallahumma wabihamdika watabarokasmuka wa ta’ala jadduka wa laa ilaaha ghoiruka, sementara Hanabilah: Allahumma ba’id baini. Dalam tulisan ini tidak dibedakan antara ikhtilaf jenis Tadhod ataukah jenis Tanawu’ karena sejatinya kedua jenis ikhtilaf itu telah ada di dalam kehidupan kaum muslim di seluruh dunia.

Mengawali pembahasan sederhana ini dapat dinyatakan dengan pasti bahwa fenomena perbedaan pendapat pada masa yang paling awal dari sejarah pemikiran Muslim / pada masa periode pertumbuhannya ( yakni pada masa Nabi Muhammad SAW ) belumlah muncul seperti pada masa-masa berikutnya, terutama sekali pada masa keemasan hukum Islam. Perbedaan pendapat pada masa Nabi tidaklah seramai dan sekrusial pada masa pertumbuhan mazhab-mazhab hukum Islam. Bahkan ikhtilaf yang terjadi di kalangan sahabat hampir-hampir sulit ditemukan ( al Ulwaniy, Tt:33 juga dalam Hassan, 1994:106 ), karena ketika sahabat berdebat tentang suatu persoalan, Nabi bisa segera mendamaikan perbedaan pendapat itu, sehingga sahabat tidak pernah berlarut-larut dengan ikhtilaf yang tiada akhir. Sejarah mencatat bahwa perbedaan pendapat pertama yang mengakibatkan ummat Islam terpecah dalam kelompok / firqah tertentu, adalah kasus pergantian kepemimpinan Nabi ( suksesi / Istikhlaf ).

Dalam kasus ini ummat terpecah dalam tiga kelompok, yakni kelompok Anshor, kelompok Muhajirin dan kelompok Bani Hasyim yang saling berebut pengaruh untuk mendapatkan posisi kepemimpinan tertinggi di pusat kekuasaan Islam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan pendapat dalam tradisi Islam lebih disebabkan oleh hilangnya tokoh sentral dan ideal seperti Nabi Muhammad SAW yang mampu mengayomi dan menyatukan setiap perbedaan pendapat yang muncul di kalangan sahabat. Sepeninggal beliau umat Islam mempelajari dan mengkaji dua warisan monumental beliau -yakni al Qur’an dan al hadis- dalam rangka menjawab setiap persoalan fiqhiyyah dan furu’iyyah yang muncul. Oleh karena tingkat kecerdasan dan metode / manhaj istibanthiyah para ulama sangat beragam, maka kondisi seperti ini memicu bagi tumbuhnya perbedaan pendapat di antara mereka. Masing-masing imam mazhab memperkenalkan cara/metode tertentu di dalam memahami maksud nash –al Qur’an dan al Hadis- sehingga hal itu berdampak pula pada beragamnya hasil ijtihad yang sekaligus memperlebar jurang perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam ( Zahrah, Tt : 17-18 ).

Dalam rangka memahami dan mengurai akar permasalahan terjadinya ikhtilaf atau perbedaan pendapat di kalangan ulama ataupun masyarakat secara umum, ada beberapa teori atau pendapat yang bisa memperjelas fenomena ikhtilaf itu. Teori yang digunakan dalam kajian ini meminjam beberapa teori–teori sosial yang telah berurat akar dalam tradisi pemikiran bidang ilmu sosial. Dengan asumsi bahwa ilmu-ilmu keislaman ( terutama ilmu hukum Islam / ilmu al Fiqh ) sesungguhnya masuk ke dalam ranah atau domain ilmu-ilmu sosial, sehingga pendekatan-pendekatan dan teori-teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan yang muncul bisa menggunakan teori-teori sosial yang telah menjadi teori yang baku ( Grand Theory). Di antaranya adalah teori-teori yang digagas oleh Immanuel Kant, Francis Bacon dan Aliran Filsafat Shopism ( Humanisme ) yang disuarakan oleh para filsuf Neo Hellenisme.

Penggunaan teori-teori sosial ini, sejatinya adalah upaya ikhtiar dalam rangka menelisik dan mengurai akar perbedaan pendapat yang begitu kuat mentradisi dalam sejarah pemikiran hukum Islam. Sekalipun tidak tuntas dalam mendiagnosa persoalan khilafiyah ini, namun diharapkan sedikit banyak kajian ini bisa mengurai dan meretas kabut gelap yang menyelimuti fenomena ikhtilah yang sudah berusia ratusan tahun ini.
Adapun yang pertama adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Immanuel Kant, beliau menegaskan bahwa keseluruhan jenis pemikiran manusia dapat dikategorikan dalam dua macam tingkat, yakni pengetahuan yang berupa Noumena dan pengetahuan yang beliau sebut sebagai Fenomena. Pengetahuan Noumena adalah hakikat dari wujud, being, substansi atau jauhar dari obyek pemikiran manusia. Sementara Fenomena adalah kesan atau tangkapan inderawi terhadap suatu obyek pengetahuan. Filsuf Plato menyebut realitas yang dihasilkan oleh indrawi itu dengan ungkapan Penampakan ( Appearance ).

Dalam menyusun dasar filsafatnya Immanuel Kant beranggapan bahwa manusia tidak akan mampu memahami sebuah oyek pemikiran dengan suatu kebenaran yang “tunggal dan absolut”. Hasil pemikiran manusia bersifat terbatas dan relatif, maksudnya obyek pemikiran manusia itu terbatas pada hal-hal yang bersifat empiris sesuai dengan cara manusia mengalaminya. Obyek yang tampak dan kelihatan dalam segala bentuk dan dimensinya itu sebenarnya hanya berupa Phenomena ( penampakan ) belaka, bagaimana sesungguhnya obyek pemikiran itu, manusia tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Noumena ( Jauhar ) atau dalam istilah Kant dia sebut sebagai Thing-in-itself adalah hakikat kebenaran yang tunggal dan mungkin saja ia dapat dijadikan sebagai obyek pemikiran, akan tetapi ia berada di luar penginderaan. Fenomena adalah eksistensi inderawi dan menjadi obyek pengalaman dan obyek intuisi inderawi. Ia bukan sesuatu yang berada di dalam dirinya sendiri. Fenomena itu berupa materi dan ada dalam realitas inderawi. Semua pengetahuan manusia diperoleh melalui indra dan pemahaman ( Sense and Understanding ). Secara lebih filosofis dapat dijelaskan di sini, bahwa proses pemikiran manusia pertama berawal dari Sense yang selanjutnya menyerahkan dan mengantarkan obyek pengetahuan itu pada arus pemikiran manusia, adapun yang kedua, yakni ( Understanding ) memberikan arti, putusan dan simpulan pada pemikiran.

Tanpa adanya kemampuan yang dimiliki oleh “inderawi”, maka tidak akan ada obyek yang bisa diberikan kepada otak dan sebaliknya tanpa adanya aspek “pemahaman” ( Understanding ) maka tidak akan ada obyek yang dipikirkan. Pemikiran tanpa isi adalah kosong dan intuisi (indra) tanpa konsepsi (pemahaman) adalah buta. Pengetahuan haruslah sesuai dengan obyek atau dengan kata lain pengetahuan haruslah obyektif ( Kant, 1997:57-58). Tatkala obyek pemikiran di indera ia telah diubah oleh penerimaan manusia melalui indra dan pemikiran. Keutuhan obyek yang ditangkap manusia itu diperoleh dengan daya struktur mental yang inheren , melalui sensasi terus ke persepsi lalu ke konsepsi/idea. Hasilnya adalah idea tentang obyek itu. Masih menurut Kant, sains dan akal tidak akan mampu memahami Noumena ( Jauhar ).
Demikian juga sains dan akal juga tidak akan mampu mengetahui hakikat agama. Agama tidak bisa diketahui dan dibuktikan kebenarannya dengan sains dan akal. ( Tafsir, 2000:164-165)

Berdasarkan proposisi yang diuraikan oleh Kant, maka semakin jelas bahwa daya pikir manusia tidak akan pernah bisa mengetahui realitas yang sesungguhnya dari seluruh obyek pengetahuan yang telah difikirkan oleh manusia selama-lamanya. Manusia sepanjang hayatnya tidak akan bisa mengetahui hakikat benda atau obyek pemikiran kecuali yang dia ketahui itu hanyalah kesan atau ungkapan inderanya atas benda atau obyek pemikiran pemikiran itu. Hakikat, jauhar dari benda atau atau obyek pemikiran itu tetap diliputi misteri karena ia tidak bisa dikenali, diamati dan difikirkan oleh indra maupun akal. Secara lebih radikal kelompok sophis dalam tradisi pemikiran Yunani beranggapan bahwa kebenaran yang obyektif itu tidak ada. Seandainya ada, kebenaran itu tidak dapat dikenali. Sekalipun kemudian kebenaran itu dapat dikenali, maka pengetahuan tentang kebenaran itu tidak dapat disampaikan kepada orang lain ( Hadiwijono, 1995:34 ). Oleh karena itu kebenaran itu bersifat relatif karena manusia adalah ukuran bagi kebenaran (Tafsir, 2003:51 ) hanya bagian luar , sesuatu yang bersifat dhahiriyah belaka, pengetahuan yang berhasil diketahui oleh pemikiran manusia.

Oleh karenanya seluruh pengetahuan manusia baik pada masa lalu , sekarang maupun yang akan datang, dalam pandangan filsafat Kantianisme, bersifat relatif dan sementara. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat tunggal , absolut dan universal. Hal yang demikian ini disebabkan oleh karena sifat dari pengetahuan yang dicapai oleh manusia hanya berlandaskan pada pantulan atau tangkapan sensasi indra yang kemudian disalurkan pada tahap persepsi dan akhirnya berpuncak pada wujud konsep / ide manusia tentang sesuatu. Kepekaan sensasi indra dan kemampuan dalam menyimpulkan konsep itu jelas tidak akan pernah sama atau pasti dimiliki oleh semua manusia. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa setiap orang memiliki bakat untuk senantiasa berbeda pendapat antara yang satu dengan yang lainnya.

Menilik penjelasan yang digagas oleh Kant dapat disimpulkan bahwa, manusia secara alamiah tidak akan pernah bisa menghampiri kebenaran an-sich. Nilai kebenaran yang selama ini dianggap benar oleh Imam Mazhab atau pengikutnya dalam tradisi pemikiran fiqh misalnya, sebenarnya hanyalah ‘kebenaran semu’. Kebenaran yang tidak sebenar-benarnya sesuai dengan hakikat kebenaran, karena manusia memahami kebenaran hanya sampai pada tingkat ‘Fenomena’ dan bukannya pemikiran ulama itu sudah mencapai pada tingkat ‘Noumena’. Sehingga sangat alamiyah sekali bila kesimpulan hukum yang disusun oleh imam mazhab saling berbeda dan bahkan bertolak belakang, karena seperti yang ditegaskan oleh Kant sebelumnya bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kebenaran hakiki. Andaikan terdapat kesamaan pendapat / kalimatun sawa / mufakat antar imam mazhab, tidak lantas hal itu dijadikan sebagai justifikasi bahwa ulama sudah mencapai kebenaran yang sesungguhnya. Kesepakatan mereka itu dalam perspektif Kantianisme, hanyalah kebenaran semu dan sementara, sebatas indra mampu menangkap sensasi yang dipancarkan oleh obyek pemikiran ulama itu. Sehingga menjadi sebuah ‘Keniscayaan’ bila di kalangan umat manusia -khsususnya ummat Islam- terdapat perbedaan pendapat yang tidak berkesudahan, semenjak zaman dahulu hingga sekarang.

Daftar Rujukan

1. A. Khozin Afandi, Filsafat Ilmu dan Beberapa Pokok Ajaran Fenomenologi, Malang: al Farabi, 1997
2. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: remaja Rosda Karya, 2000
3. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius:1995, Cet. 23
4. Ajjaj al Khatib, Ushul al Hadis, Beirut: Dar al Fikr, 1989
5. Craib, Teori-teori Sosial Modern : Dari Person sampai Habermas, Jakarta : PT Rajawali, 1986
6. Dragan Milovanovic, A Primer in The Sociology of Law, New York:Harrow & Heston Publisher, Tt, Edisi II
7. http://fisip.uns.ac.id/blog/purwitososiologi/2011/06/13/solidaritas-mekanis-dan-solidaritas-organis-emile-durkheim/
8. http://blog.ub.ac.id/noermalasari/2012/03/13/teori-ilmu-sosial-2/
9. (http://warkoplalar.blogspot.com/2011/05/perbedaan-itu-rahmat.html )

Selengkapnya.....

There was an error in this gadget

Translator



English French German Spain Dutch Arabic

Recent Post

DAFTAR ISI BLOG

1.Blog Sejenis
2.Line Website UNISMA
3.Jam’ul Qur’an
4.Hadis Pra Modifikasi
5.Kampus Pusat Budaya
6.Qawaidul Fiqhiyyah
7.Sarjana Pengangguran
8.Penyimpangan dalam Penafsiran al Qur’an
9.Implementasi Ilmu Islam dalam Peguruan Tinggi Islam
10.Pemikiran Ibn Miskawaih Dlm Pendidikan
11.Otentisitas Hadis versi Orientalis
12.Maqashid al Tasyri’
13.Sejarah Peradilan Islam
14.Mengais Kembali Konsep Turats
15.Sufi Martir Ain Qudhat
16.Tema Pokok al Qur’an
17.Metodologi Penelitian
18.Nilai Maslahat dan HAM dalam Maqashid al Tasyri’
19.Pembaharuan Kurikulum Dasar Menengah
20.Pemikiran al Mawardi
21.Tasawwuf al Falsafi
22.Profil Dosen FAI UNISMA
23.Download Bahan Kuliah
24.Ikhtilaf al Hadis Part. I
25.Ikhtilaf al Hadis Part. II
26.Filsafat Ibn Rusyd
27.Inkar as Sunnah I
28.IInkar as Sunnah Part. II
29.Beasiswa Kuliah Gratis
30.Download MAteri Perkuliahan
31.Uji Timbang Blog
32.Award Pertama Buat FAI
33.Hakikat Manusia : Sebuah Renungan
34.Award oh Award
35.Pengumuman Mengikuti Beasiswa
36. Blog-ku Istana-ku
37.Kuliah Umum di FAI Unisma
38. Info LAnjutan Beasiswa
39. Dukungan Untuk Sang Guru
40. Zikir Akbar di Unisma
41.Ujian Seleksi Kuliah Beasiswa
42. Habil dan Qabil di Era Global
43. Suasana Ujian Seleksi Beasiswa
44. Mengapa aku harus memilih?
45.Pengumuman Hasil Ujian
46. award Dari Sobat Blogger
47. Psikotest Mahasiwa Beasiswa
48. Award Maning
49.Award Blogging 4 Earth
50. Pengumuman Hasil Ujian
51.Award Motivasi & Perilaku
52. Sistem Pembekalan Akademik
53. Award Tiad aPernah Berakhir
54. Light Up The Noght
55.Cap Jempol Darah
56.Awardmu-Awardku-AwardKita
57.Anti Mati Gaya Open Minded
58.Award Is Never Die
59.KEM tingkat Nasional
60.Pengumuman Kuliah Umum
61.Virus Malas Ngeblog
62.Pengumuman Hasil Seleksi Ujian
63. Prote Hasil Pilpres
64. Ramadhan Itu Datang Lagi
65.Orientasi Pendidikan MABA UNISMA
66.Download PPT HAM dan Gender
67.Gus Dur:Sang Guru Bangsa
68.Gerakan Fundamentalisme Islam
69.Download E-Book
70.FAI UNISMA
71.Umar Ibn al Khaththab
72.Beasiswa Kuliah Prodi PGMI
73.Ikhtilaf al Hadis Part. II
74.Gelar Doa sivitas FAI UNISMA
75.Pengumuman Pelaksanaan Tes Ujian Prodi PGMI
76.Pengumuman Hasil Tes Ujian Prodi PGMI
77.Beasiswa S2 Prodi Hukum Islam PPS UNISMA
78.Selamat Jalan Akhi
79.Pesta Demokrasi
80.Ordik MABA UNISMA
81.Islam Rahmat Lil Alamin
82.Beasiswa Bagi Guru PAI di Kemendiknas
83.Hasil Akreditasi PGMI
84.Rekonstruksi Kurikulum FAI UNISMA
85.Beasiswa Perkuliahan Prodi PAI
86. Ketentuan Lomba Lustrum
87. Pengumuman Hasil Psikotes
88. Beasiswa Untuk Guru PAI
89. Islam dan Ilmu Pengetahuan
90. Pengumuman Kelulusan Penerima Beasiswa
91. Pengumuman Hasil Seleksi Ujian Tulis
92. Maqamat dan Ahwal al Sufiyah
93. Ikhtilah Ulama